Adong na menarik di laporan sian Barita Jujur Taon ni sada huria. Disosoi uluan ni huria i do asa unang nian disarupahon na hundul di Gareja i dohot parkir ni kareta manang motor. Molo parkir kareta manang na mobil, manggarar do saribu manang dua ribu. Molo marminggu ruas ni huria i, unang ma nirajuman songon na lagi parkir, gabe "manggarar" saribu manang dua ribu (pelean ma ra na nidokna disi). "Na lagi marsaor dohot Debata do hita," ninna di Berich i.
Memang, molo naeng angkaton on gabe bahan diskusi, ra marganjangganjang do angka pandapot. Alai mansai unik do cara ni amanta uluan i manosoi ruasna, ala memang naung diboto amanta Sintua i do kondisi ni ruasna. Na mampu do nian, alai songon i ma rumangna na marpelean i, sisaribu dohot dua ribu. Dipatudos tu parkir ni kendaraan.
Hehe
I ma jolo carita sian au. Horas!
16 Feb 2014
26 Sep 2013
Seharusnya Saya "Menolongnya"
Dunia ini bekerja keras untuk mengaburkan kasih di antara umat
manusia. Si jahat akan berkeliling untuk menelan yang dapat
diterkamnya (1 Ptr. 5:8). Beberapa bulan yang lalu, ketika sermon
ressort di Sipirok, kami sampai pada pembicaraan bahwa kasih itu mesti
kreatif.
Awalnya berbicara tentang orang Kristen yang mesti membuahkan kasih
dalam hidupnya. Kemudian ada tanggapan dari seorang penatua bahwa
tidak mudah menerapkan kasih dalam hidup ini, karena banyak aspek yang
mesti diperhatikan. Kemudian sampai pada contoh kasus, di mana
misalnya ada yang memerlukan bantuan di jalan karena kendaraan rusak.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa kita mesti berhati-hati menghadapi
kasus seperti ini di jalan, karena sering terjadi penodongan atau
perampokan dengan modus kendaraan rusak di jalan.
Lalu bagaimana? Jika daerah itu memang benar-benar sepi penduduk, ada
baiknya kita melewatkan saja. Namun kita mesti memberitahukannya ke
bengkel yang pertama dijumpai, agar montir segera menolong kendaraan
yang rusak itu. Lagipula itu adalah rezeki bagi bengkel tersebut, dan
dia bisa membawa beberapa temannya ke tempat itu. Tentang harga,
mungkin bisa sedikit ditambah karena montir yang melayani ke tempat
kendaraan yang rusak itu.
Dalam sermon itu kami setuju dengan cara itu, sebab kita mesti menjaga
diri kita, namun kasih juga tidak tertinggalkan. Karena kita mesti
hati-hati di zaman ini.
Ada apa dengan zaman ini? Bukankah kita harus menolong orang yang
kesusahan? Bukankah mestinya itu adalah buah dari kasih, yang
ditanamkan ke dalam hati kita melalui Firman yang sejak kecil kita
dengar? Ya! mestinya tolong-menolong menjadi tatanan hidup umat
manusia sesuai kehendak Allah Yang Mahakasih. Tapi si jahat selalu
berusaha untuk merusaknya.
Tentu tidak ada yang ingin kendaraannya rusak di jalan sepi, dan tentu
saja kita iba dan terdorong untuk menolongnya. Kondisi itu
dimanfaatkan oleh orang-orang jahat yang mau menjebak, menodong dan
merampok orang yang justru tergerak ingin menolong. Ini merusak
tatanan kasih yang mestinya tolong-menolong di antara umat manusia.
Orang-orang berpikir dua kali jika menjumpai kejadian seperti itu
lagi, baik dalam kasus yang berbeda seperti di pasar, swalayan, di
lokasi ATM dengan modus yang berragam.
Begitulah yang saya alami pada hari Sabtu, 14 September 2013, di
Pematangsiantar. Seorang ibu datang menghentikan langkah kami begitu
keluar dari ruangan ATM di Bank BRI di depan Taman Bunga. Kami tidak
melihat kapan dia datang, tapi seperti keluar dengan tiba-tiba dari
samping di bagian yang gelap (waktu itu malam). Dia segera
mengutarakan maksudnya meminta tolong supaya saya mau mentransfer
sejumlah uang ke adiknya via ATM, dan dia menggantinya dengan uang
tunai.
Pada saat itu saya bersikap protektif dan tegas mengatakan supaya ibu
itu menunggu orang lain saja. Lalu kami pergi, dan mendengar dia
berkata "Sehat-sehatlah kalian, ya." Sempat ada rasa tidak enak dan
ingin kembali untuk menolongnya, namun mekanisme pertahanan diri saya
mengatakan "tidak."
Di rumah, saya ingin membela diri dan tidak rela merasa bersalah. Saya
berpikir dan mencari alasan-alasan logis dari kejadian yang sempat
terekam, maupun hanya dengan mengaitkannya dengan peristiwa penipuan
dan hipnotisme belakangan ini. Namun akhirnya saya harus menyerah
kepada kehendak Allah yang menyatakan bahwa saya bersalah karena
meninggalkan kasih. Kasihnya kurang kreatif.
Seharusnya saya cek dulu uang tunai yang ditawarkannya sebagai ganti
yang ditransfer, memastikan asli atau palsu. Seharusnya saya meminta
kesediaannya untuk difoto wajah dan mengirim gambarnya melalui BBM,
untuk menjaga jika benar terjadi penipuan. Itu diperlukan karena jika
memang dia penjahat mungkin akan menghipnotis kita sehingga mungkin
barang-barang kita akan ikut hilang termasuk handphone. Seharusnya
saya mencoba menolongnya.
manusia. Si jahat akan berkeliling untuk menelan yang dapat
diterkamnya (1 Ptr. 5:8). Beberapa bulan yang lalu, ketika sermon
ressort di Sipirok, kami sampai pada pembicaraan bahwa kasih itu mesti
kreatif.
Awalnya berbicara tentang orang Kristen yang mesti membuahkan kasih
dalam hidupnya. Kemudian ada tanggapan dari seorang penatua bahwa
tidak mudah menerapkan kasih dalam hidup ini, karena banyak aspek yang
mesti diperhatikan. Kemudian sampai pada contoh kasus, di mana
misalnya ada yang memerlukan bantuan di jalan karena kendaraan rusak.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa kita mesti berhati-hati menghadapi
kasus seperti ini di jalan, karena sering terjadi penodongan atau
perampokan dengan modus kendaraan rusak di jalan.
Lalu bagaimana? Jika daerah itu memang benar-benar sepi penduduk, ada
baiknya kita melewatkan saja. Namun kita mesti memberitahukannya ke
bengkel yang pertama dijumpai, agar montir segera menolong kendaraan
yang rusak itu. Lagipula itu adalah rezeki bagi bengkel tersebut, dan
dia bisa membawa beberapa temannya ke tempat itu. Tentang harga,
mungkin bisa sedikit ditambah karena montir yang melayani ke tempat
kendaraan yang rusak itu.
Dalam sermon itu kami setuju dengan cara itu, sebab kita mesti menjaga
diri kita, namun kasih juga tidak tertinggalkan. Karena kita mesti
hati-hati di zaman ini.
Ada apa dengan zaman ini? Bukankah kita harus menolong orang yang
kesusahan? Bukankah mestinya itu adalah buah dari kasih, yang
ditanamkan ke dalam hati kita melalui Firman yang sejak kecil kita
dengar? Ya! mestinya tolong-menolong menjadi tatanan hidup umat
manusia sesuai kehendak Allah Yang Mahakasih. Tapi si jahat selalu
berusaha untuk merusaknya.
Tentu tidak ada yang ingin kendaraannya rusak di jalan sepi, dan tentu
saja kita iba dan terdorong untuk menolongnya. Kondisi itu
dimanfaatkan oleh orang-orang jahat yang mau menjebak, menodong dan
merampok orang yang justru tergerak ingin menolong. Ini merusak
tatanan kasih yang mestinya tolong-menolong di antara umat manusia.
Orang-orang berpikir dua kali jika menjumpai kejadian seperti itu
lagi, baik dalam kasus yang berbeda seperti di pasar, swalayan, di
lokasi ATM dengan modus yang berragam.
Begitulah yang saya alami pada hari Sabtu, 14 September 2013, di
Pematangsiantar. Seorang ibu datang menghentikan langkah kami begitu
keluar dari ruangan ATM di Bank BRI di depan Taman Bunga. Kami tidak
melihat kapan dia datang, tapi seperti keluar dengan tiba-tiba dari
samping di bagian yang gelap (waktu itu malam). Dia segera
mengutarakan maksudnya meminta tolong supaya saya mau mentransfer
sejumlah uang ke adiknya via ATM, dan dia menggantinya dengan uang
tunai.
Pada saat itu saya bersikap protektif dan tegas mengatakan supaya ibu
itu menunggu orang lain saja. Lalu kami pergi, dan mendengar dia
berkata "Sehat-sehatlah kalian, ya." Sempat ada rasa tidak enak dan
ingin kembali untuk menolongnya, namun mekanisme pertahanan diri saya
mengatakan "tidak."
Di rumah, saya ingin membela diri dan tidak rela merasa bersalah. Saya
berpikir dan mencari alasan-alasan logis dari kejadian yang sempat
terekam, maupun hanya dengan mengaitkannya dengan peristiwa penipuan
dan hipnotisme belakangan ini. Namun akhirnya saya harus menyerah
kepada kehendak Allah yang menyatakan bahwa saya bersalah karena
meninggalkan kasih. Kasihnya kurang kreatif.
Seharusnya saya cek dulu uang tunai yang ditawarkannya sebagai ganti
yang ditransfer, memastikan asli atau palsu. Seharusnya saya meminta
kesediaannya untuk difoto wajah dan mengirim gambarnya melalui BBM,
untuk menjaga jika benar terjadi penipuan. Itu diperlukan karena jika
memang dia penjahat mungkin akan menghipnotis kita sehingga mungkin
barang-barang kita akan ikut hilang termasuk handphone. Seharusnya
saya mencoba menolongnya.
19 Jul 2013
Bahan Sermon tu Minggu VIII dung Trinitatis, 21 Juli 2013
Johannes 15
: 9 – 17
Masihaholongan
Tujuan,
latar belakang dohot teologi ni turpuk
Ra, hata “holong” i ma
hata na jumotjot itabege di ngolunta songon siihuthon Kristus hita. Jala
memang, boi dohononta i do unok ni na tahaporseai di haroro ni Kristus manopot
portibi on. Na mamboan holong ni Debata Ama do Ibana, jala Ibana sandiri do
Holong i na ro sian ginjang. Holong na sian ginjang i masuk do i tu hahomion ni
Kristus (misteri Kristus), jala barita nauli na sinurat ni si Johannes on
marisihon Hata ni Debata sandiri na mangungkap hapapatar ni Holong i, Kristus
Anak ni Debata i. I do tujuan ni Injil Johannes on, naeng patandahon Kristus
Jesus Anak ni Debata na ro papatarhon holong na sian ginjang di bagasan ngoluNa
sahat tu panghophoponNa paluahon na porsea.
Tafsiran ni turpuk dohot sipahusorhusoron
Marhitehite panghophopon ni Kristus Anak ni Debata,
patar ma holong ni Debata tu jolma angka na porsea. Di angka na manjangkon
panghophopon i, gok mauliate do rohana jala Kristus nama nampuna dirina. Molo
didok Kristus i nampuna diri ni sahalak na porsea, ingkon mangolu ma di bagasan
Ibana. Mangolu di bagasan Kristus na marlapatan do i ingkon mangihuthon angka
ajaranNa. Jala ingkon di bagasan parsitutuon ni roha do na manghangoluhon
HataNa i. Siala hangoluan do Hata ni Debata.
1. Holong ni
Kristus sitiruon ni jolma
Holong do roha ni
Debata Ama di Jesus Kristus AnakNa (ida Mrk. 1:11), songon i do holong ni
Kristus tu angka jolma (ayat 9).
Tutu, na mardosa do angka jolma di portibi on jala saor tu hajahaton do
ngoluna, jala tu hamatean do langkana. Alai ndang munsat holong ni Debata sian
tano on, jala ndada jolma i diporangi Debata, alai dosa, hajahaton dohot
hamatean i do. Alani i do disuru AnakNa tumopot portibi on, mamaritahon
Harajaon ni Debata (Syalom), mamboan haluaon na manaluhon hamatean marhitehite
hamamateNa sandiri. I ma holong ni Kristus, holong do rohaNa mida jolma alai
dihasogohon do hadosaonna. Sitiruanta do on, asa molo adong na mambahen na so
denggan tu hita, ndada diri ni sibahen na jat i sihasogohon, na binahenna i do.
Anggo tu jolmana i siasian do tahe i, ala so malua dope sian ulaon na jat jala
ndang mangolu di bagasan holong ni Kristus.
2. Mian di
bagasan holong ni Kristus halalas ni roha do i
Sihamauliatehononhon do
asi dohot holong ni roha ni Debata marhite Kristus Jesus. Dipauba do hadosaon
gabe habadiaon, parhatobanon ni dosa gabe haluaon, arsak ni roha gabe halalas
ni roha. Songon jamita di piga minggu naung salpu, molo disalpuhon utang, tontu
sahali manghorhon las ni roha do i tu parsingiran i. Songon i ma nang jolma
pardosa na manjangkon Kristus Jesus gabe Sipalua di ibana, dipalua do sian
dosa, hajahaton dohot hamatean. Panghorhon ni i, iluilu gabe halalas ni roha (ayat 11).
Didok di ginjang, ndada jolma i musu ni Debata,
hajahatonna i do, dosana i. Alai molo dung dipalua na porsea i, ingkon rap
jongjong ma nian dohot Tuhan Jesus mangalo dosa dohot hajahaton i. Songon dia
ma dalanna? I ma marhitehite na mangaradoti patik (ayat 10). Mian di bagasan holong ni Kristus, tuntutanna i ma
mangaradoti patikNa. Dibahen i, ingkon gabe parangan ni Kristus do angka na
porsea na pinalua i, jongjong di jolo mangalo dosa dohot hajahaton. Sialoon do
dosa dohot hajahaton, na di diri sandiri pe i nang di diri ni dongan.
3. Mangolu di
bagasan holong ni Kristus mangonjar na porsea masihaholongan
Tindakan na mangaradoti patik, sadalan do i dohot
tindakan na marholong ni roha. Ai hagogok ni saluhut patik do tindakan na
manghaholongi dongan (ida Gal. 5:14). Boasa didok hagogok ni saluhut patik
holong i? Mangihuthon pemahaman na di ginjang, dos do sude jolma i dihaholongi
Debata, dihophop Tuhan Jesus do sude (nang pe holan angka na manjangkon Ibana
do na taruli haluaon), alani i ndang adong dalan ni jolma laho marsogo ni roha
tu donganna jolma. Ai na rap pardosa do, nang pe naung pinalua, alai nda tung
adong na boi menjamin dirina ndang be mangulahon dosa. I do umbahen ingkon
tiruanta do holong ni Kristus i, na so manghasogohon jolma alai dosa dohot hajahaton
ni jolma i do na dihasogohon rohaNa. Anggo jolma i, tama do masihaholongan jala
masipaingotan di angka na humurang asa rap denggan sude jala mian di bagasan
holong ni Kristus (ayat 12). Jala di
ayat 13 dilehon do tu na porsea
sitiruan songon hataridaan ni holong na umbagas, i ma na sahat tu na sumeahon
diri.
4. Aleale ni
Kristus, sitean hahomion ni Debata
Digoar Tuhan Jesus do
angka na porsea i songon alealeNa, na umboto saluhut naung pinabotohonNa (ayat 14-15). Naeng dohonon sian i,
ndada holan barita sambing na sahat tu angka na porsea i, alai nunga secara
langsung dialami holong ni Debata marhite Kristus AnakNa i. Lumobi do
pangantusion na nidapot marhitehite na mengalami martimbangkon na holan mambege
barita/mananda secara lisan/tulisan. Jala angka na porsea i nunga dialami
sandiri holong ni Kristus i marhitehite haluaon na pinatupaNa i. Homi (misteri)
do pangalaho ni pangantusion i, jala ndang sai tarungkap marhite hata. Alai
marhitehite pamujion di bagasan parmingguon boi do nitangkup pangantusion i sian
liturgi Agenda. Bagian-bagian ni liturgi i naeng patorangkon tu angka na porsea
taringot tu hinauli jala hinabagas ni holong ni Debata. Na ro hita tu
parmingguon i, na niontang Debata do hita. Anggo sian hadirionta na sai
mardosai, ndang talup hita mandonoki Na Sun Badia. Alai marhite Kristus na gabe
Dalan, boi do hita taruli di parsaoran dohot Debata. Pengalaman on, i do gabe
barita siboanonta di bagasan hata dohot pambahenan (parange) na patandahon
paboa naung pinalua do hita, naung diperlayakkan gabe bangso ni Debata na
badia.
5. Mangolu di
bagasan holong ni Kristus mamparbuehon holong tu dongan jolma
Marhitehite pengalaman akan kasih Allah, borhat do
hita tu tongatonga ni portibi on laos taboan do barita haholongon i tu angka
dongan jolma. Tarpillit do hita angka na porsea gabe siboan barita halongangan
i, hoholongon dohot haluaon i (ayat 16).
Jala ndada hita na mamillit dirinta sandiri, alai Tuhan i do. Na di tanggal 1 –
4 Juli na salpu, dipatupa do ujian penerimaan murid baru di STT-HKBP, jala di
tanggal 4 do pengumumanna. Adong ma disi angka na mandohoti ujian na dipaksa
natorasna, na so pos rohana di ujian laho masuk tu perguruan tinggi negeri
naung parjolo nidohotanna, na taronjar sian rohana sandiri, manang naung loja
manganggur. Nang pe panitia penerimaan do na mengkoreksi ujian i, alai
haputusan tertinggi di Debata do. Manang na songon dia pe latar belakang na
mangonjar angka na mandohoti ujian i, guru di pamilliton ni Debata do. Songon i
nang hita marhite sian turpuk ni jamita on, ingkon unduk do hita di pamilliton
i gabe siboan barita haholongon marhitehite na masihaholongan sama hita.
Alai tutu, ingkon sian bulus ni roha do na mangulahon
holong i, asa mian tutu parbuena i, lapatanna ndang magopo. Molo so sian
habuluson ni roha, porsea ma hita ndang na manahan parbue ni i. Alani, tung
nalnal jala tangkas do Hata ni Tuhan Jesus di turpuk on di bagasan parenta na
sederhana alai mansai bagas jala uli: “Masihaholongan ma hamu!” (ayat 17).
oooOOOOooo
pdt.mop/serm.ress.sipirok/binanga2013
6 Jul 2013
Bahan Jamita Minggu 6 dung Trinitatis 7 Juli 2013
Kolosse 4 : 1 – 6
Mangolu dibagasan holong dohot habisuhon
Tujuan dohot latar belakang ni Surat
Kolosse
Ia
surat ni apostel Paulus na mandapothon halak Kolosse on, digurithon do dohot
tujuan laho pahothon haporseaon. Ringkot situtu do panogunoguon di halak
Kristen na di Kolosse siala adong dapot angka poda na lipe di humaliang nasida.
Di bindu 2:8 didok, “Jaga ma hamu, so tung diago deba hamu marhitehite hata bisukbisuk dohot hata lensem na so
marimpola, hombar tu tonatona ni jolma, mangihuthon sisiasia ni hasiangan on,
ndada mangihuthon Kristus.” Hape na harmonis do nian parsaoran ni angka na
porsea disi jala denggan do pangulahonon ni haporseaonna (ida bindu 1 : 4 + 6
dohot ayat na sesuai). Dibahen i, asa unang sanga masuk angka ajaran na sala tu
haporseaonnasida, ditongos apostel Paulus ma surat on. Adong pigapiga topik na
gabe perhatian ni surat on, alai di turpuknta tung ondol do ngolu partangiangon
dohot dampak ni ngolu partangiangon i paulihon parsaoran.
Teologi ni turpuk
Teologi
umum ni surat Kolosse i ma credo
manang na pengakuan iman taringot tu hasurungan ni Kristus. Ibana do suman ni
Debata na so tarida i, na parjolo tubu sian nasa na tinompa (1:15); marhitehite
Ibana ditompa saluhutna na adong jala marhapatean tu Ibana do saluhutna (1:16);
Ibana do di jolo ni saluhutna, jala saluhutna i do hot di bagasan Ibana (1:17);
Ibana do ulu ni huria i (1:18). Dimulai surat on do mamaritahon hasurungan ni
Kristus, jala dipaujung dohot penegasan Ibana do ulu ni huria i. Dihangkam credo i do hadirion ni Kristus sahat tu
kehadiranNa (eksistensi) di tongatonga ni portibi on. Naeng dohononna sian i,
Kristus i do nampuna saluhut nasa na adong, Ibana do Raja, jala di huria i
Ibana do uluna. Alani, ngolu ni angka na porsea (huria i) ingkon do marojahan
tu karya ni Kristus, jala ndang boi masa sinkretisme,
i ma paham na padomudomuhon angka poda. Halak naung tinobus, jala naung mate
jala dipahehe rap dohot Kristus (ida 2:12), tama do mangolu di bagasan Ibana.
Tafsiran ni turpuk
Pertanggungjawaban
ni na porsea tu Debata
Ngolu
ni halak Kristen ingkon do dipertanggungjawabkan tu Debata, nang tuan ibana
nang hatoban pe. Tarlumobi di angka tuan, angka induk, ingkon do mangulahon na
tigor jala na tama maradophon angka anak somang (ayat 1). Tardok pe anak somang, manang na hamba di Alkitab, alai ro
di Tuhan Jesus do saluhutna i. Ndang boi dohonon ni angka induk, na milikna do
angka anak somang i gabe marlomolomo ni roha (sewenang-wenang). Ingkon
rajumanna do, na sahat pe ibana gabe induk di angka anak somangna, na sian
Debata do i, jala tong do Debata nampuna ngoluna dohot sude nasa na di ibana. Na
marlapatan, ibana pe anak somang do di Debata, Tuhanna. Alani, ingkon
patupaonna do na tigor jala na tama, ai i do peleanna tu Debata.
Relasi
ni na porsea tu Debata manontuhon relasina tu dongan jolma
Na
pajongjong hatigoran dohot mangulahon na tama, i do na targoar holong, tarlumobi
maradophon dongan na gumale. Tarida ma sian i hubungan (relasi) ni jolma tu
Debata marpanghorhon tu hubungan ni jolma tu donganna. Hubungan ni na porsea tu
Debata tarida do sian ngolu partangiangonna. Marhitehite na martangiang do jolma
i manjaga parsaoranna tu Debata, jala marhitehite partangiangon i Debata
mangontang jolma tu parsaoran tu DiriNa. Di bagasan parsaoran na denggan (jala
rosu) tu Debata boi do mangurupi na porsea i asa sai dungo haporseaonna, lumobi
ma na mangadopi angka ajaran palsu di humaliangna na sai mangula mangalaokhon
ajaran na pita na sian Tuhan Jesus.
Jala bagas
do makna na terkandung di hata “mauliate” di ayat 2 i. Molo nidok mauliate tu dongan, na patandahon
kesalingtergantungan do i jolma tu jolma na marsiurupan, relasi jolma tu
donganna. Na mandok mauliate sahalak, na patutoru dirina do i. Songon i molo
nidok mauliate tu Debata, na patutoru diri do i di adopanNa, na pasahathon diri
jala na so ganggu rohana dina manghaporseai pangaramotion ni Debata
(sihamauliatehononhon).
Sude
halak porlu martangiang jala masitangiangan
Sude do
halak, lumobi angka na porsea (disadari manang na so disadari),
mangharingkothon dukungan marhite tangiang sian donganna sahaporseaon. Songon i
nang apostel Paulus na mangido dukungan marhite tangiang sian angka na porsea
di Kolosse taringot tu panghobasionna (ayat
3-4). Ndada holan tu tangiangna sandiri apostel Paulus marpos ni roha, alai
di tangiang ni donganna pe pos do rohana ditangihon Debata, lumobi ma
pelayananna do dipangidohon ibana asa ditangiangkon. Jesus Kristus Anak ni
Debata, Ibana do Raja di saluhutna jala ro di Ibana do saluhut nasa na adong,
dibahen i ndang ganggu roha ni apostel Paulus, tangiang ni manang ise pe
ditangihon Tuhan Jesus do i, ala ruas ni Tuhan i do nang angka dongan na asing
na sahaporseaon. Lumobi ma muse denggan do barita ni angka na porsea na di
Kolosse manghangoluhon haporseaonna (ida bindu 1 : 4 + 6). Dibahen i, songon na
ginurithon di poin na di ginjang: relasi manang parsaoran tu Debata manontuhon
parsaoran tu dongan jolma.
Ngolu
partangiangon mangalehon habisuhon na paulihon karakter hakristenon
“Manongtong
ma hamu martangiang” didok di surat on. Manongtong (Alkitab: bertekunlah)
lapatanna ndang mansadi jala diulahon di bagasan angka tingki na taratur.
Manongtong martangiang (bertekun dalam doa) i do sasintongna na paulihon ngolu
partondion manang spiritualitas kristiani. Jala tau paulihon parsaoran na rosu
tu Debata do ngolu partangiangon dohot tangiang na dihangoluhon. Tung balga do
pasupasuna molo mian na porsea i di bagasan parsaoran na rosu tu Debata. Di
gombarhon do mansai uli panghorhon ni parsaoran sisongon i di Psalmen 51:8,
“Sintong ni roha di bagasan do tongon lomo ni rohaM, antong pabotohon ma
habisuhon tu bagasan rohangku” (Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran
dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku). Di bagasan
parsaoran i, “dihusiphon” do habisuhon tu na porsea i. Habisuhon i ma na
mangisi gerak hidup ni na porsea, di bagasan parange (perilaku) nang hatana na
marimpola (na siniraan, bergaram dan tidak hambar/kosong) (ayat 5-6).
I do
dalanna dipodahon apostel Paulus asa marpantas ni roha dina marparange angka na
porsea i, lumobi maradophon halak na asing (di balian ni parpunguan ni halak
Kristen). Barita nauli do i tu portibi on, molo pantas marparange na porsea i,
jala ingkon pinataridahon do i di ganup “tingki.” Tingki dison lapatanna
peluang manang kesempatan, dibahen i ingkon tanggap do na porsea i di tingki
adong peluang manang kesempatan mamaritahon barita nauli marhite parange tu
halak na asing. Songon i nang di panghataion, ingkon sai tongtong lambok jala
marimpola. I do habisuhon.
Sipahusorhusoron
Di
Minggu paonomhon dung Trinitatis on, naeng idaonta jala sunggulanta muse
panandaon tu Kristus nampuna saluhut nasa na adong di portibi on. Marhitehite
Ibana do ditompa saluhut angka na tinompa (patudos tu pamuhaion ni Injil
Johannes di bindu 1 : 3 + 10). Molo naeng hita mangolu dibagasan holong dohot
habisuhon, taihuthon ma Jesus. Mangihuthon Jesus lapatanna mangolu di bagasan pangajaranNa.
Sian
bahan sermon on, tapahembang ma tu implikasina siulaon secara konkret di
tongatonga ni parsaoran di huria nang di tongatonga ni masyarakat. Di
kesempatan on binahen do sirenungkononta songon na tarsurat di toru on:
1. Boha do
pajongjong hatigoran (kejujuran) dohot mangulahon na tama maradophon dongan
jolma, lumobi tu na gumale. Boi do gotapon hak ni, isarana, na mangula tu iba
(anak somang), songon gaji rupani? Manang boi do patuhukon ulaon na lobi sian
gogo ni i? Songon i nang di tongatonga ni bagas, boi do marlomolomo
(sewenang-wenang) sahalak ama tu anggota keluargana?
2. Boha do
ngolu partangiangonta? Dungo do haporseaonta i, manang na modom do? Jala
taulahon do na masitangiangan i?
3. Boha do
pamangkeonta di tingki na pinasahat ni Debata tu hita, lumobi di angka peluang
dohot kesempatan patuduhon parbue ni haporseaon? Boha do parsaoranta di
tongatonga ni masyarakat? Adong do holong dohot habisuhon di ngolunta?
oooOOOOooo
pdt.mop/serm.ress.sosa/binanga2013
Bahan PA Naposobulung Yeremia 9:23-24 Hidup dalam kasih dan hikmat = hidup dalam Kristus
Kalau kita melihat arti kata “kasih” di kamus bahasa
Indonesia, maka kita akan menemukan dua paralel arti kata tersebut. Yang
pertama berarti perasaan sayang (cinta), dan yang kedua berarti beri/memberi.
Kombinasi dua pengertian dari satu kata “kasih” ini sangat unik dan memberi
pengertian yang lengkap, yaitu kira-kira bisa kita padukan perasaan sayang
(cinta) yang mengarahkan orang untuk memberi. Kasih mestilah menjadi
mengarahkan untuk memberi, namun memberi belum tentu berdasar atas kasih. Kasih
yang kita pahami, yaitu pengertian kasih yang hidup dalam tradisi kekristenan
kita, adalah perpaduan dari kedua pengertian tersebut. Sumber kasih kita adalah
kasih Allah (lihat 1 Yoh. 4:19).
Kalau kita lihat lagi arti kata “hikmat,” tertulis di
kamus sebagai kearifan dan kebijakan. Hikmat adalah suatu kemampuan manusia
yang tidak dapat dipelajari, namun diperoleh dengan benar-benar “diperoleh.”
Artinya hikmat diperoleh bukan di sekolah atau di tempat-tempat belajar yang
lain. Orang Batak menggambarkan hikmat (bisuk)
barangkali bisa dengan umpama: mata guru, roha sisean. Hikmat juga
berasal dari Allah (lihat Ams. 2:6; 9:10; 15:3; Mzm. 111:10). Hikmat tidak
dipelajari, tetapi dibisikkan oleh
Allah sendiri, seperti diberitakan dalam Mzm. 51:8, sebab memang hikmat adalah
“kemampuan manusia mengenal kehendak Allah” (lihat Yak. 3:13-18).
Kasih dan hikmat adalah tema yang sangat populer bagi
umat Kristen. Bahkan bisa dikatakan, kasih dan hikmat adalah termasuk ke dalam
tema utama, kasih dan hikmat Allah melalui PuteraNya. Sebab melalui PuteraNya
kita menyaksikan kasih yang begitu dalam dan berhikmat dari Allah sendiri (lihat
Kristus adalah kasih Allah dalam Rm. 8:39; Ef. 1:5; 2 Tim. 1:9; Kristus adalah
hikmat Allah dalam Rm. 16:27; 1 Kor. 1:24, 30;).
Dari pengakuan di atas maka kita mesti sampai pada
kesimpulan bahwa kasih dan hikmat ada pada Allah melalui Yesus Kristus. Dengan
demikian, jika kita ingin memiliki kasih dan hikmat maka kita hendaknya tinggal
(hidup) dalam Kristus. Tinggal atau hidup dalam Kristus berarti menghidupi
ajaran Kristus dengan benar dan sungguh-sungguh. Menghidupi berarti mengalami.
Mengalami memang lebih baik untuk mengajar daripada mengenal saja. Mengalami
Kristus, atau pengalaman bersama Kristus, itulah ajaran sejati kita. Setiap
kita mestinya menyadari pengalaman kebersamaan dengan Kristus.
Bagaimana bentuk pengalaman bersama Kristus? Dalam Alkitab
dan tradisi gereja ada disebut misteri Kristus (hahomion ni Kristus). Pengalaman itu ada dalam pelayanan Baptisan
dan Perjamuan Kudus seperti yang diperintahkanNya, kebaktian Minggu dan
pelayanan khusus lainnya. Kurban persembahan, kurban bakaran, kurban penebusan
dosa dan bentuk kurban yang lain dalam Perjanjian Lama, adalah undangan Allah
sendiri agar umat manusia berdosa boleh mendekat. Kristus adalah Anak Domba
Allah, kurban penghapusan dosa sekali untuk selama-lamanya (lihat Ibr. 9:12 dan
di bagian lain dalam Alkitab). Dia bertindak sebagai kurban persembahan
sehingga kita manusia berdosa boleh mendekat kepada Allah, kepada Yang
Mahakudus dalam kondisi keberdosaan kita. PekerjaanNya itu adalah misteri bagi
kita, sebab tak terselami dan tak dapat dicapai dengan pikiran manusia.
Dengan mengikuti alur (liturgi) kebaktian Minggu
sebenarnya kita bisa merasakan dan mengalami kebersamaan dengan Kristus,
pengorbanan, kasih dan hikmatNya. Mulai dari Votum hingga Berkat, semuanya ada
dalam ranah misteri Kristus yang melayakkan kita manusia berdosa masuk ke dalam
persekutuan dengan Allah dan menerima anugerah keselamatan. Setiap bagian dalam
liturgi memiliki makna masing-masing yang saling terkait dan meneguhkan
pengenalan dan pengalaman kita bersama Allah Tritunggal. Misteri itu tak selalu
dapat diungkapkan dengan kata-kata, namun dapat disentuh dengan melodi yang
indah dan berwibawa. Itulah sebabnya kita juga melagukan puji-pujian kita. Karena
itu, adalah sangat baik jika lagu-lagu dalam Kidung Jemaat atau Buku Ende
dinyanyikan dengan benar. Atau paling tidak dengan sungguh-sungguh, karena
memang tidak semua orang memiliki kemampuan (akurasi) dalam membaca not.
Bahan PA kali ini kita batasi dalam pengalaman bersama
Kristus dalam setiap kebaktian, sebab pengalaman kebersamaan itulah yang
menentukan karakter kristiani kita. Pengalaman bersama Kristus juga menolong
kita untuk mengenal diri sendiri, membentuk sikap dalam interaksi dengan
sesama, dan mendorong untuk lebih berkarya dalam kehidupan. Itulah karakter
kristiani yang kasih serta berhikmat, yang kiranya dapat menolong kita memahami
kehendak Allah, seperti dalam Yer. 9:23-24.
24 Jun 2013
Jambore Anak Sekolah Minggu HKBP Distrik I Regional I Tabagsel
Tahun 2013 merupakan Tahun Anak bagi HKBP.
Dalam tahun ini dilaksanakan rangkaian kegiatan gerejawi yang difokuskan pada
pelayanan terhadap anak-anak Sekolah Minggu. Tujuan yang mau dicapai dalam
Tahun Anak ini mengikuti tema umum HKBP tahun 2013, yaitu anak-anak HKBP menjadi
berkat bagi dunia (Kej. 12:2). HKBP (seluruh gerejanya) akan berupaya membongkar
nilai-nilai yang diperlukan untuk memperlengkapi anak-anak demi tujuan menjadi
berkat bagi dunia. Dalam pelaksanaannya setiap gereja akan mengacu pada rangkaian
kegiatan yang sudah diatur secara umum dalam Buku Panduan Tahun Anak HKBP 2013
itu. Untuk menyambut program ini, HKBP Distrik I Tabagsel – Sumbar (Regional
Tabagsel) mengadakan kegiatan Jambore Anak Sekolah Minggu.
Jambore Anak Sekolah Minggu Distrik I Regional
I Tabagsel dilaksanakan mulai pada hari Jumat, 21 – Minggu 23 Juni 2013. Kegiatan
dilaksanakan di areal Sekolah Abdi Masyarakat yang berlokasi di desa Purba Tua,
Kecamatan Sisoma, Kabupaten Tapanuli Selatan. Ketua Panitia adalah St. Drs. FT
Sitompul namun karena jarak kantor distrik ke lokasi pelaksanaan Jambore cukup
jauh maka dibentuk lagi panitia lokal. Panitia lokal inilah yang lebih banyak
berurusan dalam mempersiapkan areal dan sarana prasarananya, diserahkan kepada
HKBP Purba Tua yang dipimpin oleh Gr. Fernando Rajagukguk. Jemaat HKBP Purba
Tua yang berressort ke HKBP Ress. Sisoma (dipimpin Pdt. H. Pane, STh.) sangat
antusias dan bekerja maksimal dalam melayani peserta Jambore. Kiranya Tuhan
senantiasa memberkati mereka.
Anak-anak Sekolah Minggu datang dari setiap
ressort yang ada di Regional I Tabagsel (kecuali dari Ress. Sipiongot)
didampingi oleh penatua (atau pembina) dan Guru-guru Sekolah Minggu
masing-masing. Panitia menghitung jumlah anak Sekolah Minggu yang mengikuti
yaitu berkisar 750 orang, ditambah dengan para pendamping diperkirakan jumlah
yang hadir dalam acara tersebut lebih dari 800 orang. Anak-anak Sekolah Minggu
sangat bersemangat, terutama setelah praeses mengajarkan yel-yel untuk kegiatan
Jambore ini:
Sekolah Minggu HKBP Distrik I …… OKE!!!
Jambore Anak Sekolah Minggu …… MANTAP!!!
HKBP …… YES! YES! YES!!!
Dalam kegiatan Jambore ini ada dua tim yang
mengisi kegiatan out-door. Tim pertama adalah Tim Outbond Saber, yaitu 30 orang
remaja dan pemuda dari beberapa gereja HKBP di kota Padangsidimpuan. Mereka dibentuk
sebagai sebuah tim dan dilatih secara langsung oleh praeses Pdt. Sunggul P.
Sirait, STh. MM., dan dikoordinir oleh ketua Pelaksana Pelayanan Naposobulung
Distrik (PPND), Sdr. Jhony Simanjuntak, ST. Tim dibagi menjadi beberapa
kelompok dan mengajarkan masing-masing satu jenis permainan. Ada tiga belas
jenis permainan yang dilakukan oleh anak-anak Sekolah Minggu yang dibagi ke
dalam tiga belas kelompok, sehingga semua anak Sekolah Minggu berkesempatan
terlibat pada semua permainan.
Setelah selesai memainkan satu permainan,
tim Saber akan mengajak adik-adik Sekolah Minggunya berdiskusi singkat. Mereka
menanyakan dari permainan yang baru dilakukan, apa-apa saja sebenarnya yang
dibutuhkan kelompok tersebut supaya berhasil dan selamat memainkannya.
Adik-adik Sekolah Minggu akan menjawab: kekompakan, kerjasama, kesabaran, dan
beberapa nilai lain. Itulah yang diharapkan tertanam dalam diri anak Sekolah
Minggu HKBP sehingga karakternya diharapkan akan terbangun dari nilai-nilai
tersebut.
Tim kedua yang mengisi kegiatan out-door
adalah tim EE Kids (Evangelism Explosion for Kids). Tim ini terbentuk setelah
HKBP Distrik I mengirimkan utusannya dari kalangan pemuda untuk mengikuti
kegiatan pelatihan EE Kids di Parapat beberapa waktu yang lalu. Dengan penuh
rasa tanggung jawab beberapa dari utusan yang dikirim itu menyanggupi
permintaan praeses untuk melayani di Jambore Anak Sekolah Minggu ini. Beberapa
dari mereka tidak dapat hadir, mudah-mudahan hanya oleh halangan yang baik.
Tim sangat bersemangat melayani anak-anak
Sekolah Minggu, mengajarkan nyanyian baru dengan gerakan-gerakan atraktif dan
menyenangkan, menanamkan pengakuan-pengakuan iman kristiani dengan cara yang
kreatif. Tim mampu menghipnotis anak Sekolah Minggu sehingga dengan penuh
semangat semua mengikuti apa yang diajarkan dan dipraktekkan dari panggung.
Bukan hanya anak-anak Sekolah Minggu, para pendamping bahkan orangtua juga
terlihat sangat menikmati pelayanan tim EE Kids ini.
Hari Minggu, 23 Juni 2013, yaitu hari
terakhir Jambore, diadakan kebaktian raya yang diikuti oleh peserta dan jemaat
Purba Tua, dan Persekutuan Perempuan Distrik (PPD) juga hadir pada saat
kebaktian. Yang mempersembahkan paduan suara pada saat kebaktian adalah
anak-anak Sekolah Minggu, PPND dan PPD. Liturgis dalam kebaktian dibawakan oleh
Pdt. Leritio br Panjaitan, yaitu Pendeta HKBP Ressort Sipirok, dan pemberitaan
firman dibawakan oleh praeses.
Kegiatan Jambore ini diadakan dengan penuh
harapan akan terbangunnya karakter kristiani yang kuat pada setiap anak Sekolah
Minggu. Dengan tema: Anak Sekolah Minggu menjadi berkat bagi dunia, sebenarnya
bukan suatu cita-cita yang muluk-muluk. Tentu kita tidak berharap anak-anak
Sekolah Minggu harus menjadi seorang anak yang jenius dengan level IQ di atas
rata-rata. Namun jika kita berbicara tentang “berkat” maka kita tidak selalu dapat
merumuskannya menjadi sesuatu yang melulu materiil atau suatu karya yang
brilian. Gereja kita telah menyebutnya “berkat” sejak seorang anak dilahirkan
ke dunia, sebelum diketahui sang anak akan menjadi apa kelak. Sebab memang
berkat adalah kata yang terejawantah dari rasa syukur, rasa yang tak terukur
dan hanya dapat dialami dengan iman.
Begitulah Tuhan Yesus memberkati anak-anak
dalam Mat. 19:14, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka
datang kepadaKu; sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”
“Yang empunya Kerajaan Sorga,” maksudnya orang-orang seperti apa? Seperti
anak-anak? Ya, seperti anak-anak. Kalau kita perhatikan anak-anak, mereka
adalah pecinta damai yang sejati. Jikapun mereka bertengkar dengan sesama, tak
sampai satu atau dua jam kemudian mereka akan kembali tertawa dan bermain
bersama lagi. Tidak ada dendam, tipu, kecurangan, yang ada hanya keceriaan,
sukacita dan rasa percaya. Dengan rasa percaya itu mereka tidak bergantung atau
bersandar pada pengertian sendiri. Jika mereka menemukan kesulitan atau bahkan
dalam keadaan takut, mereka akan segera berlari kepada bapak atau ibunya.
Itu menjadi khotbah bagi orang-orang dewasa
yang sering mengandalkan kekuatan dan pengertian sendiri, bahkan bersandar
padanya (lihat Ams. 3:5). Rasul Paulus juga memberi kesaksian, “sebab jika aku
lemah, maka aku kuat” (lihat 2 Kor. 12:9-10). Sebab Tuhan berpihak pada dan akan
membela orang-orang lemah dan melawan orang-orang kuat yang jahat, seperti
dalam Magnificat (Luk. 1:46-55), puji-pujian dari Ibu Yesus terutama ayat
51-53.
Karena itu, anak-anak adalah pemberita
Injil yang menyampaikan khotbah-khotbahnya dengan hidupnya sendiri. Itulah
sebabnya Tuhan Yesus cinta dan sayang kepada anak-anak, memberkati dan
melindungi mereka. Itu kiranya mendorong Gereja sebagai Tubuh Kristus untuk
menjaga anak-anak sebagai berita Injil, sebab mereka bertumbuh dan akan segera
menjadi dewasa dan pada saat yang bersamaan dan beriringan “dunia” akan senantiasa
mencoba “merenggut” mereka. Gereja dapat melakukan tugas itu mulai dari
tengah-tengah keluarga, sebagai Gereja Kecil. Perlu juga diadakan
program-program berkualitas seperti Jambore Anak Sekolah Minggu Distrik I ini,
walaupun dengan biaya yang cukup besar.
Mengingat perihal biaya pelaksanaan yang
cukup besar, saya teringat ketika bercakap-cakap dengan bapak St. Bantu
Dongoran, penatua di HKBP Pasar Ujung Batu yang mendampingi peserta Sekolah
Minggu dari HKBP Ressort Sion Nauli Ujung Batu Sosa, di sela-sela kegiatan
Jambore. Beliau mengatakan dengan bahasanya kira-kira demikian, “molo tu angka
Sikola Minggu on, saonari do pengeluaran on alai sogot halak i do pemasukan ni
huria i.” Kira-kira artinya, segala tenaga dan biaya yang dikeluarkan pada saat
ini untuk membina anak-anak Sekolah Minggu merupakan investasi dan aset pada
masa depan, ketika tiba gilirannya anak-anak Sekolah Minggu saat ini melayani
di HKBP yang kita cintai di masa depan. Kiranya Tuhan Yesus memberkati HKBP dan
anak-anak Sekolah Minggu.
Salam hangat buat tim EE Kids dan tim outbond Saber (Salak Berduri) yang heboh-heboh :) selamat melayani.
4 Jun 2013
WSA from ACF for SBY: berangkat dari refleksi INRI
Ada sebuah cerita menarik pada saat penyaliban Yesus
Kristus. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa orang-orang Yahudi pada saat
itulah sebenarnya yang menyalibkan Yesus Kristus, walaupun yang melaksanakannya
prajurit Romawi. Dari Injil dapat didaftarkan beberapa tuduhan kepada Yesus,
yaitu Yesus dikatakan menyesatkan banyak orang dengan ajaranNya, Yesus
menghujat Allah dengan mengakui bahwa Dia adalah Anak Allah, Yesus mengaku
bahwa Dia adalah raja orang Yahudi, dan masih ada beberapa tuduhan lain.
Pengakuan diriNya sebagai Anak Allah dan sebagai
raja sebenarnya bukanlah berasal dari inisiatif Yesus sendiri untuk
menyatakannya. Pengakuan itu keluar sebagai jawaban, di mana orang Yahudi
sendiri atau Pontius Pilatus yang menanyakannya lebih dulu. “Apakah Engkau Anak
Allah?” “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Lalu keluarlah jawaban yang
menyatakan bahwa diriNya menyetujui apa yang dipertanyakan itu.
Pengakuan Yesus dalam jawabannya bahwa Dia adalah
raja orang Yahudi, tentulah orang Yahudi tidak dapat menerima jawaban itu. Namun
jawaban itu dipakai sebagai jebakan. Mereka meneguhkan Pilatus ketika gubernur
di Yudea itu (tahun 26-36 M) ragu karena tidak mendapati kesalahan pada diri
Yesus Kristus. Orang Yahudi mengatakan bahwa orang yang membela seseorang yang
mengaku sebagai raja bukanlah sahabat kaisar (Romawi, pada saat itu kaisar
Tiberius; Yoh. 19:12). Tidak bersahabat dengan kaisar tentulah tidak pernah
diimpikan oleh seorang Pilatus. Akhirnya ia kalah dengan tuntutan massa dan
memerintahkan untuk menyalibkan Yesus.
Lalu di sinilah menariknya. Orang Yahudi memakai
pengakuan Yesus sebagai raja mereka hanya untuk memastikan Pilatus menjatuhkan
hukuman. Namun sebenarnya bukan hal itu yang membuat mereka memaksa Pilatus
untuk menjatuhkan hukuman salib. Disalibkan adalah hukuman yang terburuk dan
hina dalam tradisi orang Yahudi. Orang yang disalibkan tidak menjejak tanah dan
tidak juga berada di langit, melainkan tergantung di antara keduanya. Dengan kata
lain, langit dan bumipun mereka buat untuk tidak menerima orang yang disalibkan
tersebut. Karena itu, kesalahan yang mengantarkan orang menerima hukuman salib
tentulah kesalahan yang sangat fatal dan tak terampuni, yaitu menghujat Allah
(dalam hal ini karena Yesus mengakui diriNya sebagai Anak Allah).
Ketika Yesus disalibkan, prajurit Romawi meletakkan
tulisan INRI, singkatan dari Iesus
Nazarenus Rex Iudaeorum di bagian atas salib tersebut. INRI, artinya “Yesus,
orang Nazaret, Raja orang Yahudi,” dan orang Yahudi tidak memrotes tulisan
tersebut. Ini disebabkan oleh paling tidak dua hal, pertama bahwa memang bukan
itu kesalahan utama Yesus bagi orang Yahudi, melainkan karena pengakuanNya
sebagai Mesias, seperti diterangkan di atas. Yang kedua, orang Yahudi
membiarkan tulisan tersebut tetap tinggal di salib itu dengan Yesus tergantung
di sana, untuk mengejek Dia. Barangkali kita bisa menyebutnya dalam istilah
sastra Bahasa Indonesia sebagai majas ironi, pujian yang dilontarkan namun
dengan maksud untuk menyindir. Sama seperti ketika Yesus diludahi dan dipukuli setelah
mengakui bahwa Dia adalah Mesias. Setelah diludahi dan dipukuli, orang Yahudi bertanya
kepadaNya: “Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul
Engkau?” (Mat. 26:68). Mereka menyebutnya Mesias, yaitu manusia yang mereka nanti-nantikan
selama berabad-abad (bahkan sampai saat ini), tapi meludahi dan memukuliNya.
Kalimat yang bersifat majas ironi, pujian yang
dimaksudkan untuk menyindir, memang cenderung manjur untuk mendorong orang berbuat
lebih baik. Misalnya seorang kepala negara yang dipuji oleh satu yayasan dari
negara lain karena prestasinya membina kerukunan umat beragama. Padahal sebenarnya
sang kepala negara bergeming sementara setiap hari berita pelecehan di sekitar
hidup keberagamaan di negaranya terus terdengar. Yayasan itu tentulah tahu
dengan jelas dan terang apa yang sebenarnya terjadi, sebab yayasan itu katanya
memiliki kredibilitas tinggi, didirikan dan dikelola oleh orang dari bangsa
yang katanya paling pintar, dan berada di negara yang bak mercusuar dunia. Namun
mereka tetap memberikan penghargaan tersebut. Dalam contoh kasus ini, tentulah
penghargaan tersebut dimaksudkan untuk mendorong sang kepala negara bertindak
nyata, bukan hanya kata yang lebih sering tidak ada (bahkan kedua-duanya, tidak
ada kata dan tindakan nyata), menyikapi sikap intoleran yang hampir (mungkin juga
sudah) mengakar dan menjadi karakter masyarakatnya.
Kisah imajiner ini mirip sekali dengan yang baru
saja terjadi, di mana Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
menerima penghargaan World Statesman Award (WSA) dari Appeal of Conscience
Foundation (ACF, http://www.appealofconscience.org/). ACF
didirikan oleh seorang Rabbi Arthur Scheiner pada tahun 1965, sebagai keturunan
bangsa Yahudi. Penghargaan itu diberikan sebagai apresiasi atas kinerja
Presiden SBY yang dihitung berhasil membina kerukunan umat beragama. Padahal situasi
saat ini adalah situasi di mana kekerasan atas nama agama yang menyerang
komunitas agama lain sedang sangat hangat, bahkan panas. Umat Ahmadiyah dan
Syiah bukan hanya kehilangan tempat ibadah mereka, mereka bahkan juga
kehilangan rumah tempat tinggal mereka sendiri. Terusir dan sampai di
pengungsian. Demikian juga dengan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh umat
Kristen dalam membangun rumah ibadah, bahkan untuk beribadah sekalipun, dapat
dikatakan sebagai kegagalan pemerintah menjalankan amanat konstitusi. SKB 2
Menteri tentang pendirian rumah ibadah menyumbang semangat yang besar untuk
terjadinya berbagai peristiwa untuk ini. Tapi ACF tetap memberikan penghargaan
tersebut, dan Presiden SBY tetap hati untuk menerimanya. Biarlah. Que sera,
sera.
Saya hanya berharap kepercayaan saya benar, bahwa semoga
penghargaan itu diberikan untuk menyindir Presiden SBY (bandingkan seperti yang
dilakukan orang Yahudi sekitar dua ribu tahun yang lalu kepada Yesus Kristus). Maksudnya,
penghargaan WSA dari ACF kepada SBY menjadi sindiran yang kemudian menjadi dorongan
bagi beliau supaya giat memperhatikan dan menindak tegas intoleransi, bukan
dimaksudkan untuk mengejek. Kalau penghargaan itu diberikan dengan maksud
mengejek Presiden saya, mungkin saya akan marah. Mungkin.
“A crime committed in the name of religion is the
greatest crime against religion” (Appeal of Conscience Foundation).
Langganan:
Postingan (Atom)

