Adong na menarik di laporan sian Barita Jujur Taon ni sada huria. Disosoi uluan ni huria i do asa unang nian disarupahon na hundul di Gareja i dohot parkir ni kareta manang motor. Molo parkir kareta manang na mobil, manggarar do saribu manang dua ribu. Molo marminggu ruas ni huria i, unang ma nirajuman songon na lagi parkir, gabe "manggarar" saribu manang dua ribu (pelean ma ra na nidokna disi). "Na lagi marsaor dohot Debata do hita," ninna di Berich i.
Memang, molo naeng angkaton on gabe bahan diskusi, ra marganjangganjang do angka pandapot. Alai mansai unik do cara ni amanta uluan i manosoi ruasna, ala memang naung diboto amanta Sintua i do kondisi ni ruasna. Na mampu do nian, alai songon i ma rumangna na marpelean i, sisaribu dohot dua ribu. Dipatudos tu parkir ni kendaraan.
Hehe
I ma jolo carita sian au. Horas!
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
16 Feb 2014
26 Sep 2013
Seharusnya Saya "Menolongnya"
Dunia ini bekerja keras untuk mengaburkan kasih di antara umat
manusia. Si jahat akan berkeliling untuk menelan yang dapat
diterkamnya (1 Ptr. 5:8). Beberapa bulan yang lalu, ketika sermon
ressort di Sipirok, kami sampai pada pembicaraan bahwa kasih itu mesti
kreatif.
Awalnya berbicara tentang orang Kristen yang mesti membuahkan kasih
dalam hidupnya. Kemudian ada tanggapan dari seorang penatua bahwa
tidak mudah menerapkan kasih dalam hidup ini, karena banyak aspek yang
mesti diperhatikan. Kemudian sampai pada contoh kasus, di mana
misalnya ada yang memerlukan bantuan di jalan karena kendaraan rusak.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa kita mesti berhati-hati menghadapi
kasus seperti ini di jalan, karena sering terjadi penodongan atau
perampokan dengan modus kendaraan rusak di jalan.
Lalu bagaimana? Jika daerah itu memang benar-benar sepi penduduk, ada
baiknya kita melewatkan saja. Namun kita mesti memberitahukannya ke
bengkel yang pertama dijumpai, agar montir segera menolong kendaraan
yang rusak itu. Lagipula itu adalah rezeki bagi bengkel tersebut, dan
dia bisa membawa beberapa temannya ke tempat itu. Tentang harga,
mungkin bisa sedikit ditambah karena montir yang melayani ke tempat
kendaraan yang rusak itu.
Dalam sermon itu kami setuju dengan cara itu, sebab kita mesti menjaga
diri kita, namun kasih juga tidak tertinggalkan. Karena kita mesti
hati-hati di zaman ini.
Ada apa dengan zaman ini? Bukankah kita harus menolong orang yang
kesusahan? Bukankah mestinya itu adalah buah dari kasih, yang
ditanamkan ke dalam hati kita melalui Firman yang sejak kecil kita
dengar? Ya! mestinya tolong-menolong menjadi tatanan hidup umat
manusia sesuai kehendak Allah Yang Mahakasih. Tapi si jahat selalu
berusaha untuk merusaknya.
Tentu tidak ada yang ingin kendaraannya rusak di jalan sepi, dan tentu
saja kita iba dan terdorong untuk menolongnya. Kondisi itu
dimanfaatkan oleh orang-orang jahat yang mau menjebak, menodong dan
merampok orang yang justru tergerak ingin menolong. Ini merusak
tatanan kasih yang mestinya tolong-menolong di antara umat manusia.
Orang-orang berpikir dua kali jika menjumpai kejadian seperti itu
lagi, baik dalam kasus yang berbeda seperti di pasar, swalayan, di
lokasi ATM dengan modus yang berragam.
Begitulah yang saya alami pada hari Sabtu, 14 September 2013, di
Pematangsiantar. Seorang ibu datang menghentikan langkah kami begitu
keluar dari ruangan ATM di Bank BRI di depan Taman Bunga. Kami tidak
melihat kapan dia datang, tapi seperti keluar dengan tiba-tiba dari
samping di bagian yang gelap (waktu itu malam). Dia segera
mengutarakan maksudnya meminta tolong supaya saya mau mentransfer
sejumlah uang ke adiknya via ATM, dan dia menggantinya dengan uang
tunai.
Pada saat itu saya bersikap protektif dan tegas mengatakan supaya ibu
itu menunggu orang lain saja. Lalu kami pergi, dan mendengar dia
berkata "Sehat-sehatlah kalian, ya." Sempat ada rasa tidak enak dan
ingin kembali untuk menolongnya, namun mekanisme pertahanan diri saya
mengatakan "tidak."
Di rumah, saya ingin membela diri dan tidak rela merasa bersalah. Saya
berpikir dan mencari alasan-alasan logis dari kejadian yang sempat
terekam, maupun hanya dengan mengaitkannya dengan peristiwa penipuan
dan hipnotisme belakangan ini. Namun akhirnya saya harus menyerah
kepada kehendak Allah yang menyatakan bahwa saya bersalah karena
meninggalkan kasih. Kasihnya kurang kreatif.
Seharusnya saya cek dulu uang tunai yang ditawarkannya sebagai ganti
yang ditransfer, memastikan asli atau palsu. Seharusnya saya meminta
kesediaannya untuk difoto wajah dan mengirim gambarnya melalui BBM,
untuk menjaga jika benar terjadi penipuan. Itu diperlukan karena jika
memang dia penjahat mungkin akan menghipnotis kita sehingga mungkin
barang-barang kita akan ikut hilang termasuk handphone. Seharusnya
saya mencoba menolongnya.
manusia. Si jahat akan berkeliling untuk menelan yang dapat
diterkamnya (1 Ptr. 5:8). Beberapa bulan yang lalu, ketika sermon
ressort di Sipirok, kami sampai pada pembicaraan bahwa kasih itu mesti
kreatif.
Awalnya berbicara tentang orang Kristen yang mesti membuahkan kasih
dalam hidupnya. Kemudian ada tanggapan dari seorang penatua bahwa
tidak mudah menerapkan kasih dalam hidup ini, karena banyak aspek yang
mesti diperhatikan. Kemudian sampai pada contoh kasus, di mana
misalnya ada yang memerlukan bantuan di jalan karena kendaraan rusak.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa kita mesti berhati-hati menghadapi
kasus seperti ini di jalan, karena sering terjadi penodongan atau
perampokan dengan modus kendaraan rusak di jalan.
Lalu bagaimana? Jika daerah itu memang benar-benar sepi penduduk, ada
baiknya kita melewatkan saja. Namun kita mesti memberitahukannya ke
bengkel yang pertama dijumpai, agar montir segera menolong kendaraan
yang rusak itu. Lagipula itu adalah rezeki bagi bengkel tersebut, dan
dia bisa membawa beberapa temannya ke tempat itu. Tentang harga,
mungkin bisa sedikit ditambah karena montir yang melayani ke tempat
kendaraan yang rusak itu.
Dalam sermon itu kami setuju dengan cara itu, sebab kita mesti menjaga
diri kita, namun kasih juga tidak tertinggalkan. Karena kita mesti
hati-hati di zaman ini.
Ada apa dengan zaman ini? Bukankah kita harus menolong orang yang
kesusahan? Bukankah mestinya itu adalah buah dari kasih, yang
ditanamkan ke dalam hati kita melalui Firman yang sejak kecil kita
dengar? Ya! mestinya tolong-menolong menjadi tatanan hidup umat
manusia sesuai kehendak Allah Yang Mahakasih. Tapi si jahat selalu
berusaha untuk merusaknya.
Tentu tidak ada yang ingin kendaraannya rusak di jalan sepi, dan tentu
saja kita iba dan terdorong untuk menolongnya. Kondisi itu
dimanfaatkan oleh orang-orang jahat yang mau menjebak, menodong dan
merampok orang yang justru tergerak ingin menolong. Ini merusak
tatanan kasih yang mestinya tolong-menolong di antara umat manusia.
Orang-orang berpikir dua kali jika menjumpai kejadian seperti itu
lagi, baik dalam kasus yang berbeda seperti di pasar, swalayan, di
lokasi ATM dengan modus yang berragam.
Begitulah yang saya alami pada hari Sabtu, 14 September 2013, di
Pematangsiantar. Seorang ibu datang menghentikan langkah kami begitu
keluar dari ruangan ATM di Bank BRI di depan Taman Bunga. Kami tidak
melihat kapan dia datang, tapi seperti keluar dengan tiba-tiba dari
samping di bagian yang gelap (waktu itu malam). Dia segera
mengutarakan maksudnya meminta tolong supaya saya mau mentransfer
sejumlah uang ke adiknya via ATM, dan dia menggantinya dengan uang
tunai.
Pada saat itu saya bersikap protektif dan tegas mengatakan supaya ibu
itu menunggu orang lain saja. Lalu kami pergi, dan mendengar dia
berkata "Sehat-sehatlah kalian, ya." Sempat ada rasa tidak enak dan
ingin kembali untuk menolongnya, namun mekanisme pertahanan diri saya
mengatakan "tidak."
Di rumah, saya ingin membela diri dan tidak rela merasa bersalah. Saya
berpikir dan mencari alasan-alasan logis dari kejadian yang sempat
terekam, maupun hanya dengan mengaitkannya dengan peristiwa penipuan
dan hipnotisme belakangan ini. Namun akhirnya saya harus menyerah
kepada kehendak Allah yang menyatakan bahwa saya bersalah karena
meninggalkan kasih. Kasihnya kurang kreatif.
Seharusnya saya cek dulu uang tunai yang ditawarkannya sebagai ganti
yang ditransfer, memastikan asli atau palsu. Seharusnya saya meminta
kesediaannya untuk difoto wajah dan mengirim gambarnya melalui BBM,
untuk menjaga jika benar terjadi penipuan. Itu diperlukan karena jika
memang dia penjahat mungkin akan menghipnotis kita sehingga mungkin
barang-barang kita akan ikut hilang termasuk handphone. Seharusnya
saya mencoba menolongnya.
24 Jun 2013
Jambore Anak Sekolah Minggu HKBP Distrik I Regional I Tabagsel
Tahun 2013 merupakan Tahun Anak bagi HKBP.
Dalam tahun ini dilaksanakan rangkaian kegiatan gerejawi yang difokuskan pada
pelayanan terhadap anak-anak Sekolah Minggu. Tujuan yang mau dicapai dalam
Tahun Anak ini mengikuti tema umum HKBP tahun 2013, yaitu anak-anak HKBP menjadi
berkat bagi dunia (Kej. 12:2). HKBP (seluruh gerejanya) akan berupaya membongkar
nilai-nilai yang diperlukan untuk memperlengkapi anak-anak demi tujuan menjadi
berkat bagi dunia. Dalam pelaksanaannya setiap gereja akan mengacu pada rangkaian
kegiatan yang sudah diatur secara umum dalam Buku Panduan Tahun Anak HKBP 2013
itu. Untuk menyambut program ini, HKBP Distrik I Tabagsel – Sumbar (Regional
Tabagsel) mengadakan kegiatan Jambore Anak Sekolah Minggu.
Jambore Anak Sekolah Minggu Distrik I Regional
I Tabagsel dilaksanakan mulai pada hari Jumat, 21 – Minggu 23 Juni 2013. Kegiatan
dilaksanakan di areal Sekolah Abdi Masyarakat yang berlokasi di desa Purba Tua,
Kecamatan Sisoma, Kabupaten Tapanuli Selatan. Ketua Panitia adalah St. Drs. FT
Sitompul namun karena jarak kantor distrik ke lokasi pelaksanaan Jambore cukup
jauh maka dibentuk lagi panitia lokal. Panitia lokal inilah yang lebih banyak
berurusan dalam mempersiapkan areal dan sarana prasarananya, diserahkan kepada
HKBP Purba Tua yang dipimpin oleh Gr. Fernando Rajagukguk. Jemaat HKBP Purba
Tua yang berressort ke HKBP Ress. Sisoma (dipimpin Pdt. H. Pane, STh.) sangat
antusias dan bekerja maksimal dalam melayani peserta Jambore. Kiranya Tuhan
senantiasa memberkati mereka.
Anak-anak Sekolah Minggu datang dari setiap
ressort yang ada di Regional I Tabagsel (kecuali dari Ress. Sipiongot)
didampingi oleh penatua (atau pembina) dan Guru-guru Sekolah Minggu
masing-masing. Panitia menghitung jumlah anak Sekolah Minggu yang mengikuti
yaitu berkisar 750 orang, ditambah dengan para pendamping diperkirakan jumlah
yang hadir dalam acara tersebut lebih dari 800 orang. Anak-anak Sekolah Minggu
sangat bersemangat, terutama setelah praeses mengajarkan yel-yel untuk kegiatan
Jambore ini:
Sekolah Minggu HKBP Distrik I …… OKE!!!
Jambore Anak Sekolah Minggu …… MANTAP!!!
HKBP …… YES! YES! YES!!!
Dalam kegiatan Jambore ini ada dua tim yang
mengisi kegiatan out-door. Tim pertama adalah Tim Outbond Saber, yaitu 30 orang
remaja dan pemuda dari beberapa gereja HKBP di kota Padangsidimpuan. Mereka dibentuk
sebagai sebuah tim dan dilatih secara langsung oleh praeses Pdt. Sunggul P.
Sirait, STh. MM., dan dikoordinir oleh ketua Pelaksana Pelayanan Naposobulung
Distrik (PPND), Sdr. Jhony Simanjuntak, ST. Tim dibagi menjadi beberapa
kelompok dan mengajarkan masing-masing satu jenis permainan. Ada tiga belas
jenis permainan yang dilakukan oleh anak-anak Sekolah Minggu yang dibagi ke
dalam tiga belas kelompok, sehingga semua anak Sekolah Minggu berkesempatan
terlibat pada semua permainan.
Setelah selesai memainkan satu permainan,
tim Saber akan mengajak adik-adik Sekolah Minggunya berdiskusi singkat. Mereka
menanyakan dari permainan yang baru dilakukan, apa-apa saja sebenarnya yang
dibutuhkan kelompok tersebut supaya berhasil dan selamat memainkannya.
Adik-adik Sekolah Minggu akan menjawab: kekompakan, kerjasama, kesabaran, dan
beberapa nilai lain. Itulah yang diharapkan tertanam dalam diri anak Sekolah
Minggu HKBP sehingga karakternya diharapkan akan terbangun dari nilai-nilai
tersebut.
Tim kedua yang mengisi kegiatan out-door
adalah tim EE Kids (Evangelism Explosion for Kids). Tim ini terbentuk setelah
HKBP Distrik I mengirimkan utusannya dari kalangan pemuda untuk mengikuti
kegiatan pelatihan EE Kids di Parapat beberapa waktu yang lalu. Dengan penuh
rasa tanggung jawab beberapa dari utusan yang dikirim itu menyanggupi
permintaan praeses untuk melayani di Jambore Anak Sekolah Minggu ini. Beberapa
dari mereka tidak dapat hadir, mudah-mudahan hanya oleh halangan yang baik.
Tim sangat bersemangat melayani anak-anak
Sekolah Minggu, mengajarkan nyanyian baru dengan gerakan-gerakan atraktif dan
menyenangkan, menanamkan pengakuan-pengakuan iman kristiani dengan cara yang
kreatif. Tim mampu menghipnotis anak Sekolah Minggu sehingga dengan penuh
semangat semua mengikuti apa yang diajarkan dan dipraktekkan dari panggung.
Bukan hanya anak-anak Sekolah Minggu, para pendamping bahkan orangtua juga
terlihat sangat menikmati pelayanan tim EE Kids ini.
Hari Minggu, 23 Juni 2013, yaitu hari
terakhir Jambore, diadakan kebaktian raya yang diikuti oleh peserta dan jemaat
Purba Tua, dan Persekutuan Perempuan Distrik (PPD) juga hadir pada saat
kebaktian. Yang mempersembahkan paduan suara pada saat kebaktian adalah
anak-anak Sekolah Minggu, PPND dan PPD. Liturgis dalam kebaktian dibawakan oleh
Pdt. Leritio br Panjaitan, yaitu Pendeta HKBP Ressort Sipirok, dan pemberitaan
firman dibawakan oleh praeses.
Kegiatan Jambore ini diadakan dengan penuh
harapan akan terbangunnya karakter kristiani yang kuat pada setiap anak Sekolah
Minggu. Dengan tema: Anak Sekolah Minggu menjadi berkat bagi dunia, sebenarnya
bukan suatu cita-cita yang muluk-muluk. Tentu kita tidak berharap anak-anak
Sekolah Minggu harus menjadi seorang anak yang jenius dengan level IQ di atas
rata-rata. Namun jika kita berbicara tentang “berkat” maka kita tidak selalu dapat
merumuskannya menjadi sesuatu yang melulu materiil atau suatu karya yang
brilian. Gereja kita telah menyebutnya “berkat” sejak seorang anak dilahirkan
ke dunia, sebelum diketahui sang anak akan menjadi apa kelak. Sebab memang
berkat adalah kata yang terejawantah dari rasa syukur, rasa yang tak terukur
dan hanya dapat dialami dengan iman.
Begitulah Tuhan Yesus memberkati anak-anak
dalam Mat. 19:14, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka
datang kepadaKu; sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”
“Yang empunya Kerajaan Sorga,” maksudnya orang-orang seperti apa? Seperti
anak-anak? Ya, seperti anak-anak. Kalau kita perhatikan anak-anak, mereka
adalah pecinta damai yang sejati. Jikapun mereka bertengkar dengan sesama, tak
sampai satu atau dua jam kemudian mereka akan kembali tertawa dan bermain
bersama lagi. Tidak ada dendam, tipu, kecurangan, yang ada hanya keceriaan,
sukacita dan rasa percaya. Dengan rasa percaya itu mereka tidak bergantung atau
bersandar pada pengertian sendiri. Jika mereka menemukan kesulitan atau bahkan
dalam keadaan takut, mereka akan segera berlari kepada bapak atau ibunya.
Itu menjadi khotbah bagi orang-orang dewasa
yang sering mengandalkan kekuatan dan pengertian sendiri, bahkan bersandar
padanya (lihat Ams. 3:5). Rasul Paulus juga memberi kesaksian, “sebab jika aku
lemah, maka aku kuat” (lihat 2 Kor. 12:9-10). Sebab Tuhan berpihak pada dan akan
membela orang-orang lemah dan melawan orang-orang kuat yang jahat, seperti
dalam Magnificat (Luk. 1:46-55), puji-pujian dari Ibu Yesus terutama ayat
51-53.
Karena itu, anak-anak adalah pemberita
Injil yang menyampaikan khotbah-khotbahnya dengan hidupnya sendiri. Itulah
sebabnya Tuhan Yesus cinta dan sayang kepada anak-anak, memberkati dan
melindungi mereka. Itu kiranya mendorong Gereja sebagai Tubuh Kristus untuk
menjaga anak-anak sebagai berita Injil, sebab mereka bertumbuh dan akan segera
menjadi dewasa dan pada saat yang bersamaan dan beriringan “dunia” akan senantiasa
mencoba “merenggut” mereka. Gereja dapat melakukan tugas itu mulai dari
tengah-tengah keluarga, sebagai Gereja Kecil. Perlu juga diadakan
program-program berkualitas seperti Jambore Anak Sekolah Minggu Distrik I ini,
walaupun dengan biaya yang cukup besar.
Mengingat perihal biaya pelaksanaan yang
cukup besar, saya teringat ketika bercakap-cakap dengan bapak St. Bantu
Dongoran, penatua di HKBP Pasar Ujung Batu yang mendampingi peserta Sekolah
Minggu dari HKBP Ressort Sion Nauli Ujung Batu Sosa, di sela-sela kegiatan
Jambore. Beliau mengatakan dengan bahasanya kira-kira demikian, “molo tu angka
Sikola Minggu on, saonari do pengeluaran on alai sogot halak i do pemasukan ni
huria i.” Kira-kira artinya, segala tenaga dan biaya yang dikeluarkan pada saat
ini untuk membina anak-anak Sekolah Minggu merupakan investasi dan aset pada
masa depan, ketika tiba gilirannya anak-anak Sekolah Minggu saat ini melayani
di HKBP yang kita cintai di masa depan. Kiranya Tuhan Yesus memberkati HKBP dan
anak-anak Sekolah Minggu.
Salam hangat buat tim EE Kids dan tim outbond Saber (Salak Berduri) yang heboh-heboh :) selamat melayani.
4 Jun 2013
WSA from ACF for SBY: berangkat dari refleksi INRI
Ada sebuah cerita menarik pada saat penyaliban Yesus
Kristus. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa orang-orang Yahudi pada saat
itulah sebenarnya yang menyalibkan Yesus Kristus, walaupun yang melaksanakannya
prajurit Romawi. Dari Injil dapat didaftarkan beberapa tuduhan kepada Yesus,
yaitu Yesus dikatakan menyesatkan banyak orang dengan ajaranNya, Yesus
menghujat Allah dengan mengakui bahwa Dia adalah Anak Allah, Yesus mengaku
bahwa Dia adalah raja orang Yahudi, dan masih ada beberapa tuduhan lain.
Pengakuan diriNya sebagai Anak Allah dan sebagai
raja sebenarnya bukanlah berasal dari inisiatif Yesus sendiri untuk
menyatakannya. Pengakuan itu keluar sebagai jawaban, di mana orang Yahudi
sendiri atau Pontius Pilatus yang menanyakannya lebih dulu. “Apakah Engkau Anak
Allah?” “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Lalu keluarlah jawaban yang
menyatakan bahwa diriNya menyetujui apa yang dipertanyakan itu.
Pengakuan Yesus dalam jawabannya bahwa Dia adalah
raja orang Yahudi, tentulah orang Yahudi tidak dapat menerima jawaban itu. Namun
jawaban itu dipakai sebagai jebakan. Mereka meneguhkan Pilatus ketika gubernur
di Yudea itu (tahun 26-36 M) ragu karena tidak mendapati kesalahan pada diri
Yesus Kristus. Orang Yahudi mengatakan bahwa orang yang membela seseorang yang
mengaku sebagai raja bukanlah sahabat kaisar (Romawi, pada saat itu kaisar
Tiberius; Yoh. 19:12). Tidak bersahabat dengan kaisar tentulah tidak pernah
diimpikan oleh seorang Pilatus. Akhirnya ia kalah dengan tuntutan massa dan
memerintahkan untuk menyalibkan Yesus.
Lalu di sinilah menariknya. Orang Yahudi memakai
pengakuan Yesus sebagai raja mereka hanya untuk memastikan Pilatus menjatuhkan
hukuman. Namun sebenarnya bukan hal itu yang membuat mereka memaksa Pilatus
untuk menjatuhkan hukuman salib. Disalibkan adalah hukuman yang terburuk dan
hina dalam tradisi orang Yahudi. Orang yang disalibkan tidak menjejak tanah dan
tidak juga berada di langit, melainkan tergantung di antara keduanya. Dengan kata
lain, langit dan bumipun mereka buat untuk tidak menerima orang yang disalibkan
tersebut. Karena itu, kesalahan yang mengantarkan orang menerima hukuman salib
tentulah kesalahan yang sangat fatal dan tak terampuni, yaitu menghujat Allah
(dalam hal ini karena Yesus mengakui diriNya sebagai Anak Allah).
Ketika Yesus disalibkan, prajurit Romawi meletakkan
tulisan INRI, singkatan dari Iesus
Nazarenus Rex Iudaeorum di bagian atas salib tersebut. INRI, artinya “Yesus,
orang Nazaret, Raja orang Yahudi,” dan orang Yahudi tidak memrotes tulisan
tersebut. Ini disebabkan oleh paling tidak dua hal, pertama bahwa memang bukan
itu kesalahan utama Yesus bagi orang Yahudi, melainkan karena pengakuanNya
sebagai Mesias, seperti diterangkan di atas. Yang kedua, orang Yahudi
membiarkan tulisan tersebut tetap tinggal di salib itu dengan Yesus tergantung
di sana, untuk mengejek Dia. Barangkali kita bisa menyebutnya dalam istilah
sastra Bahasa Indonesia sebagai majas ironi, pujian yang dilontarkan namun
dengan maksud untuk menyindir. Sama seperti ketika Yesus diludahi dan dipukuli setelah
mengakui bahwa Dia adalah Mesias. Setelah diludahi dan dipukuli, orang Yahudi bertanya
kepadaNya: “Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul
Engkau?” (Mat. 26:68). Mereka menyebutnya Mesias, yaitu manusia yang mereka nanti-nantikan
selama berabad-abad (bahkan sampai saat ini), tapi meludahi dan memukuliNya.
Kalimat yang bersifat majas ironi, pujian yang
dimaksudkan untuk menyindir, memang cenderung manjur untuk mendorong orang berbuat
lebih baik. Misalnya seorang kepala negara yang dipuji oleh satu yayasan dari
negara lain karena prestasinya membina kerukunan umat beragama. Padahal sebenarnya
sang kepala negara bergeming sementara setiap hari berita pelecehan di sekitar
hidup keberagamaan di negaranya terus terdengar. Yayasan itu tentulah tahu
dengan jelas dan terang apa yang sebenarnya terjadi, sebab yayasan itu katanya
memiliki kredibilitas tinggi, didirikan dan dikelola oleh orang dari bangsa
yang katanya paling pintar, dan berada di negara yang bak mercusuar dunia. Namun
mereka tetap memberikan penghargaan tersebut. Dalam contoh kasus ini, tentulah
penghargaan tersebut dimaksudkan untuk mendorong sang kepala negara bertindak
nyata, bukan hanya kata yang lebih sering tidak ada (bahkan kedua-duanya, tidak
ada kata dan tindakan nyata), menyikapi sikap intoleran yang hampir (mungkin juga
sudah) mengakar dan menjadi karakter masyarakatnya.
Kisah imajiner ini mirip sekali dengan yang baru
saja terjadi, di mana Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
menerima penghargaan World Statesman Award (WSA) dari Appeal of Conscience
Foundation (ACF, http://www.appealofconscience.org/). ACF
didirikan oleh seorang Rabbi Arthur Scheiner pada tahun 1965, sebagai keturunan
bangsa Yahudi. Penghargaan itu diberikan sebagai apresiasi atas kinerja
Presiden SBY yang dihitung berhasil membina kerukunan umat beragama. Padahal situasi
saat ini adalah situasi di mana kekerasan atas nama agama yang menyerang
komunitas agama lain sedang sangat hangat, bahkan panas. Umat Ahmadiyah dan
Syiah bukan hanya kehilangan tempat ibadah mereka, mereka bahkan juga
kehilangan rumah tempat tinggal mereka sendiri. Terusir dan sampai di
pengungsian. Demikian juga dengan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh umat
Kristen dalam membangun rumah ibadah, bahkan untuk beribadah sekalipun, dapat
dikatakan sebagai kegagalan pemerintah menjalankan amanat konstitusi. SKB 2
Menteri tentang pendirian rumah ibadah menyumbang semangat yang besar untuk
terjadinya berbagai peristiwa untuk ini. Tapi ACF tetap memberikan penghargaan
tersebut, dan Presiden SBY tetap hati untuk menerimanya. Biarlah. Que sera,
sera.
Saya hanya berharap kepercayaan saya benar, bahwa semoga
penghargaan itu diberikan untuk menyindir Presiden SBY (bandingkan seperti yang
dilakukan orang Yahudi sekitar dua ribu tahun yang lalu kepada Yesus Kristus). Maksudnya,
penghargaan WSA dari ACF kepada SBY menjadi sindiran yang kemudian menjadi dorongan
bagi beliau supaya giat memperhatikan dan menindak tegas intoleransi, bukan
dimaksudkan untuk mengejek. Kalau penghargaan itu diberikan dengan maksud
mengejek Presiden saya, mungkin saya akan marah. Mungkin.
“A crime committed in the name of religion is the
greatest crime against religion” (Appeal of Conscience Foundation).
24 Apr 2013
Peran Politis Gereja
Saya mau membagikan tentang
kedatangan Kepala Biro (Kabiro) Oikumene HKBP ke sermon pelayan full-time pada hari Senin, 22 April 2013
di kantor Distrik I Tabagsel – Sumbar Regional I (Tabagsel). Beliau datang
untuk mensosialisasikan gagasan baru dari Biro Oikumene HKBP. Beliau mengemukakan kecenderungan
pelayan HKBP yang agak menarik diri dari dunia politik dengan memberikan stigma
tertentu dan menjaga khotbah-khotbah agar tidak terlalu menyentuh dunia
politik.
Lalu Kabiro menegaskan
bahwa sebenarnya seluruh aspek kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari
politik yang diidentikkan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah. Segala sesuatu
yang ada di sekitar kehidupan manusia (warga; termasuk jemaat) ditentukan oleh
kebijakan pemerintah. Pendidikan, ekonomi, hukum dan peradilan, keamanan dan
lain sebagainya. Oleh karena itu, sadar atau tidak sadar, mau atau tidak mau,
gereja hidup di dalam politik dan bergerak di dalam alur perjalanannya.
Iman kepada Kristus sebagai
Raja Gereja dan Raja Dunia mengantarkan kita kepada pemahaman bahwa karya Tuhan
tidak boleh dibatasi dengan dinding gereja. “Wilayah kerja” Tuhan mencakup
seluruh dunia, dan oleh karena itu tentu ada juga di luar gereja termasuk di
dalam setiap kebijakan pemerintah. Sebab kita mengimani Yakobus 1:17, “Setiap pemberian
yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan
dari Bapa segala terang…” Gereja sebaiknya mendekatkan diri kepada politik
tanpa bermaksud untuk meleburnya, dengan tujuan yang jelas: upaya untuk menghadirkan
Syalom.
Peran politis gereja
Peran politis gereja berangkat
dari keprihatinan atas pergumulan masyarakat dan bangsa yang menjadi tantangan
bersama dan merupakan tanggungjawab bersama pula. Kesejahteraan yang masih jauh
dari kehidupan bangsa menggemakan kembali panggilan kepada gereja. Kesejahteraan
itu adalah salah satu ciri Kerajaan Allah (Syalom), dengan demikian maka mengupayakan
kesejahteraan merupakan panggilan yang bersifat teologis. Sebab kita juga
senantiasa berdoa agar Kerajaan Allah segera datang (“datanglah KerajaanMu,”
itulah doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus yang kemudian disebut dengan Doa
Tuhan atau Doa Bapa Kami, Mat. 6:9-13).
Selain itu Kabiro juga
mengajukan apa yang disebut dengan teopolitis, tentang panggilan teologis untuk
masuk ke dalam dinamika proses pengambilan kebijakan untuk kebaikan bersama. Kemudian memperkenalkan Kristoteosentris, yang beberapa tahun lalu mendapatkan penghargaan
internasional.
Kabiro ditemani oleh seorang
aktivis dari Jakarta yaitu ibu Anita Lubis yang memperlengkapi presentasi yang
disampaikan oleh Kabiro dari sisi praktisnya. Beliau berbagi pengalaman dan
pengetahuan tentang politik dan tentang proses pengambilan kebijakan di pemerintahan.
Pemerintah harus melindungi dan mengupayakan kesejahteraan masyarakat sesuai
kebutuhan yang berbeda-beda dari setiap warga negara. Dalam konteks pluralisme
budaya maupun keyakinan, tentu sangat penting adanya perwakilan dari setiap warga
sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Untuk itu, maka gereja (jemaat) harus
hadir dalam proses pemilihan (pemilu maupun pemilukada) untuk menyampaikan
aspirasinya. Mengingat hal tersebut, beliau menekankan bahwa setiap warga harus
dilindungi haknya untuk mendapatkan akses menjadi pemilih. Gereja juga berkewajiban
mengingatkan jemaat untuk memperlengkapi diri dalam rangka pemilihan tersebut,
begitu juga mengingatkan unsur-unsur terkait untuk memberikan hak kepada jemaat
untuk memilih.
Selain pelayan penuh-waktu
di regional I Tabagsel, sermon dan sosialisasi ini dihadiri oleh Pengurus Parompuan
Distrik (PPD) dan ketua Persekutuan Pengurus Naposobulung Distrik (PPND), Sdr.
Jhony Frenky Simanjuntak, ST.
23 Feb 2013
Melacak Jejak Batak di Jakarta
lagi baca-baca di Kompas.com dapat berita ini, cukup memotivasi tentang survival dan persaudaraan. sumber beritanya klik di sini.
Minggu, 3 Februari 2013 | 09:13 WIB
Demi kehormatan dan kesuksesan, orang Batak lalu mengembara. Di perantauan, mereka membuat jejak berupa perkampungan Batak, gereja, dan deretan ”lapo” atau kedai Batak.
Lapo-lapo itu berderet memanjang. Aneka menu khas Batak tertulis jelas di papan nama lapo, mulai dari ikan mas arsik, sambal teri, hingga saksang, dan panggang. Terselip di antara deretan lapo, warung mi siantar dan pedagang pisang barangan khas Medan.
Itulah sejumput suasana Sumatera Utara yang hadir di sepanjang Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur. ”Datanglah hari Minggu, sepanjang jalan ini penuh mobil. Orang yang baru pulang dari gereja mampir makan. Wuih, penuh asap dan harum panggangan,” ujar G Marpaung (70), yang tinggal di daerah itu.
Di belakang deretan lapo-lapo itu, suasana Tanah Batak lebih kental lagi. Di sana ada perkampungan orang Batak yang disebut Kampung Mayasari (karena di situ pernah ada pul bus Mayasari Bhakti). Penghuninya adalah orang Batak Toba, Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, dan Angkola.
Tidak mengherankan, lagu-lagu pop Batak senantiasa terdengar dari kampung itu. Gereja Batak bertebaran di sejumlah sudut. Saking banyaknya gereja, baru 200-an meter melangkah sudah tiga gereja terlewati.
”Warga RW 008 di sini 99,9 persen orang Batak,” kata Marpaung, yang tinggal di kampung itu sejak tahun 1969.
Kampung Mayasari merupakan salah satu jejak diaspora orang Batak di Jakarta. Di luar itu, ada kantong-kantong permukiman orang Batak lainnya di Jakarta dan sekitarnya, yakni di Pulo Mas, Kernolong, Peninggaran, Pramuka, Senen, Taman Mini Indonesia Indah, hingga Tambun (Bekasi).
”Mulanya hanya satu keluarga, nanti bertambah. Kalau sudah ada rumah makan Batak, berarti sudah banyak orang Batak di situ,” kata B Ginting (50), yang pernah tinggal di Kampung Mayasari.
Lapo dan terminal
Martogi Sitohang (42), seniman Batak, secara berseloroh menambahkan, cukup satu orang Batak tinggal di satu tempat. ”Nanti dia akan mencari saudaranya atau dicari keluarganya. Kalau sudah bertemu, mereka berkumpul,” katanya.
Mereka tidak perlu takut tercecer di perantauan. Datang saja ke gereja, lapo, dan terminal pasti bertemu dengan saudara. ”Cukup memberi salam, menyebutkan marga, kampung, dan nomor urut silsilah. Contohnya nih, Sihombing nomor 15, setelah dicocok-cocokkan masih saudara, pintu rumah Sihombing pun pasti terbuka,” kata Martogi.
Makna kekerabatan buat orang Batak itu memang sangat luas. Kekerabatan tidak hanya tercipta karena pertalian darah, tetapi juga karena pertalian marga dan perkawinan. Martogi mengenang ketika pertama kali merantau ke Jakarta ia mencari saudara di gereja dan lapo. Saudara yang ditemukan di perantauan itulah yang membantunya mendapatkan pekerjaan. Setelah itu, ia memberikan kabar ke kampung bahwa ia telah bertemu tulang-nya (paman).
Jika si perantau berhasil, biasanya saudara atau teman sekampung akan datang menyusul. Dan, si perantau yang sukses wajib membantu. Itu sebabnya, orang Batak di perantauan terbiasa menampung pendatang Batak di rumahnya. ”Saudara saya dan istri begitu datang ke Jakarta semua tinggal dulu di rumah saya. Setelah mereka mapan, mereka bisa membangun rumah sendiri di tempat lain,” ujar G Marpaung.
Ke Jakarta
Dengan cara itu, orang Batak di perantauan cepat berkembang. Lance Castle dalam The Ethnic Profile of Djakarta menyebutkan, orang Batak pertama kali merantau ke Jakarta tahun 1907. Jejak perantau pertama di Jakarta berupa kebaktian berbahasa Batak pada 20 September 1919. Mereka lalu membangun Gereja HKBP Kernolong Resort Jakarta yang tercatat sebagai gereja Batak tertua di Jakarta.
Hingga kini, gereja di Gang Kernolong, Jakarta Pusat, itu masih digunakan jemaat Batak. Praeses HKBP Distrik DKI Jakarta Pendeta Colan WZ Pakpahan mengatakan, gereja-gereja HKBP lain di Jakarta dapat dikatakan pemekaran dari Kernolong. ”Dulu, banyak sekali orang Batak tinggal di Kernolong. Sekarang, sebagian pindah ke daerah lain di Jakarta,” ujarnya.
Tahun 1930, ada sekitar 1.300 orang Batak di Jakarta. Tahun 1963, jumlahnya berlipat menjadi 22.000 orang. Hasil sensus Badan Pusat Statistik tahun 2010 mencatat, jumlah orang Batak di Jakarta mencapai 326.332 orang. Kalau ditambah orang Batak di Bogor, Tangerang, dan Bekasi jumlahnya mencengangkan.
Menurut Castle, etnis Batak termasuk kaum perantau terbesar di Indonesia. Tahun 1930, sebanyak 15,3 persen orang Batak tinggal di luar kampung halamannya. Migrasi besar-besaran terutama terjadi setelah revolusi tahun 1945-1949. Mereka menangkap peluang pendidikan dan kehidupan modern. Awalnya, mereka merantau di daerah pesisir Sumatera. Selanjutnya, mereka menargetkan Jakarta.
Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Medan Bungaran Antonius Simanjuntak menengarai, migrasi orang Batak keluar kampungnya didorong pandangan hagabeon (sukses berketurunan), hasangapon(kehormatan), dan hamoraon (kekayaan). Nah, Jakarta dipandang menjanjikan itu semua.
”Begitu orang Batak sukses pulang kampung, cepat-cepatlah anak muda di kampung ikut merantau atau orangtua mengirim anaknya bersekolah supaya bisa jadi seperti orang itu. Satu sukses jadi pengacara, banyak yang ingin jadi pengacara,” katanya.
Budayawan Batak Togarma Naibaho (57) mengatakan, orang Batak umumnya memang merantau untuk sekolah dan bekerja. Pendidikan anak menjadi ukuran keberhasilan orangtua. Kasarnya, orangtua Batak rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, mulai dari jual kerbau sampai kebun. Tidak heran jika pendidikan orang Batak rata-rata tinggi. ”Tahun 1970-an, pendidikan perantau Batak di Jakarta rata-rata sudah SMA,” ujar Togarma.
Sesuai dengan ucapan Togarma, Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumatra menuliskan, orang Batak Toba, Mandailing, dan Karo termasuk orang Indonesia berpendidikan terbaik pada abad ke-19, selain Minangkabau, Minahasa, dan Toraja.
Dengan pendidikan tinggi, orang Batak bisa masuk ke berbagai posisi. Presiden Soekarno, misalnya, banyak melibatkan orang Batak dalam pembangunan. Salah seorang di antaranya adalah Friedrich Silaban, arsitek Masjid Istiqlal. Di zaman Gubernur Ali Sadikin, orang Batak dipercaya menjadi pimpinan di pos-pos pemerintahan. Belakangan, Ali Sadikin merekrut banyak sopir taksi, bus PPD, dan guru dari Tanah Batak.
Dan... berkumpullah orang Batak di Jakarta! (Indira Permanasari dan Budi Suwarna)
Lapo-lapo itu berderet memanjang. Aneka menu khas Batak tertulis jelas di papan nama lapo, mulai dari ikan mas arsik, sambal teri, hingga saksang, dan panggang. Terselip di antara deretan lapo, warung mi siantar dan pedagang pisang barangan khas Medan.
Itulah sejumput suasana Sumatera Utara yang hadir di sepanjang Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur. ”Datanglah hari Minggu, sepanjang jalan ini penuh mobil. Orang yang baru pulang dari gereja mampir makan. Wuih, penuh asap dan harum panggangan,” ujar G Marpaung (70), yang tinggal di daerah itu.
Di belakang deretan lapo-lapo itu, suasana Tanah Batak lebih kental lagi. Di sana ada perkampungan orang Batak yang disebut Kampung Mayasari (karena di situ pernah ada pul bus Mayasari Bhakti). Penghuninya adalah orang Batak Toba, Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, dan Angkola.
Tidak mengherankan, lagu-lagu pop Batak senantiasa terdengar dari kampung itu. Gereja Batak bertebaran di sejumlah sudut. Saking banyaknya gereja, baru 200-an meter melangkah sudah tiga gereja terlewati.
”Warga RW 008 di sini 99,9 persen orang Batak,” kata Marpaung, yang tinggal di kampung itu sejak tahun 1969.
Kampung Mayasari merupakan salah satu jejak diaspora orang Batak di Jakarta. Di luar itu, ada kantong-kantong permukiman orang Batak lainnya di Jakarta dan sekitarnya, yakni di Pulo Mas, Kernolong, Peninggaran, Pramuka, Senen, Taman Mini Indonesia Indah, hingga Tambun (Bekasi).
”Mulanya hanya satu keluarga, nanti bertambah. Kalau sudah ada rumah makan Batak, berarti sudah banyak orang Batak di situ,” kata B Ginting (50), yang pernah tinggal di Kampung Mayasari.
Lapo dan terminal
Martogi Sitohang (42), seniman Batak, secara berseloroh menambahkan, cukup satu orang Batak tinggal di satu tempat. ”Nanti dia akan mencari saudaranya atau dicari keluarganya. Kalau sudah bertemu, mereka berkumpul,” katanya.
Mereka tidak perlu takut tercecer di perantauan. Datang saja ke gereja, lapo, dan terminal pasti bertemu dengan saudara. ”Cukup memberi salam, menyebutkan marga, kampung, dan nomor urut silsilah. Contohnya nih, Sihombing nomor 15, setelah dicocok-cocokkan masih saudara, pintu rumah Sihombing pun pasti terbuka,” kata Martogi.
Makna kekerabatan buat orang Batak itu memang sangat luas. Kekerabatan tidak hanya tercipta karena pertalian darah, tetapi juga karena pertalian marga dan perkawinan. Martogi mengenang ketika pertama kali merantau ke Jakarta ia mencari saudara di gereja dan lapo. Saudara yang ditemukan di perantauan itulah yang membantunya mendapatkan pekerjaan. Setelah itu, ia memberikan kabar ke kampung bahwa ia telah bertemu tulang-nya (paman).
Jika si perantau berhasil, biasanya saudara atau teman sekampung akan datang menyusul. Dan, si perantau yang sukses wajib membantu. Itu sebabnya, orang Batak di perantauan terbiasa menampung pendatang Batak di rumahnya. ”Saudara saya dan istri begitu datang ke Jakarta semua tinggal dulu di rumah saya. Setelah mereka mapan, mereka bisa membangun rumah sendiri di tempat lain,” ujar G Marpaung.
Ke Jakarta
Dengan cara itu, orang Batak di perantauan cepat berkembang. Lance Castle dalam The Ethnic Profile of Djakarta menyebutkan, orang Batak pertama kali merantau ke Jakarta tahun 1907. Jejak perantau pertama di Jakarta berupa kebaktian berbahasa Batak pada 20 September 1919. Mereka lalu membangun Gereja HKBP Kernolong Resort Jakarta yang tercatat sebagai gereja Batak tertua di Jakarta.
Hingga kini, gereja di Gang Kernolong, Jakarta Pusat, itu masih digunakan jemaat Batak. Praeses HKBP Distrik DKI Jakarta Pendeta Colan WZ Pakpahan mengatakan, gereja-gereja HKBP lain di Jakarta dapat dikatakan pemekaran dari Kernolong. ”Dulu, banyak sekali orang Batak tinggal di Kernolong. Sekarang, sebagian pindah ke daerah lain di Jakarta,” ujarnya.
Tahun 1930, ada sekitar 1.300 orang Batak di Jakarta. Tahun 1963, jumlahnya berlipat menjadi 22.000 orang. Hasil sensus Badan Pusat Statistik tahun 2010 mencatat, jumlah orang Batak di Jakarta mencapai 326.332 orang. Kalau ditambah orang Batak di Bogor, Tangerang, dan Bekasi jumlahnya mencengangkan.
Menurut Castle, etnis Batak termasuk kaum perantau terbesar di Indonesia. Tahun 1930, sebanyak 15,3 persen orang Batak tinggal di luar kampung halamannya. Migrasi besar-besaran terutama terjadi setelah revolusi tahun 1945-1949. Mereka menangkap peluang pendidikan dan kehidupan modern. Awalnya, mereka merantau di daerah pesisir Sumatera. Selanjutnya, mereka menargetkan Jakarta.
Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Medan Bungaran Antonius Simanjuntak menengarai, migrasi orang Batak keluar kampungnya didorong pandangan hagabeon (sukses berketurunan), hasangapon(kehormatan), dan hamoraon (kekayaan). Nah, Jakarta dipandang menjanjikan itu semua.
”Begitu orang Batak sukses pulang kampung, cepat-cepatlah anak muda di kampung ikut merantau atau orangtua mengirim anaknya bersekolah supaya bisa jadi seperti orang itu. Satu sukses jadi pengacara, banyak yang ingin jadi pengacara,” katanya.
Budayawan Batak Togarma Naibaho (57) mengatakan, orang Batak umumnya memang merantau untuk sekolah dan bekerja. Pendidikan anak menjadi ukuran keberhasilan orangtua. Kasarnya, orangtua Batak rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, mulai dari jual kerbau sampai kebun. Tidak heran jika pendidikan orang Batak rata-rata tinggi. ”Tahun 1970-an, pendidikan perantau Batak di Jakarta rata-rata sudah SMA,” ujar Togarma.
Sesuai dengan ucapan Togarma, Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumatra menuliskan, orang Batak Toba, Mandailing, dan Karo termasuk orang Indonesia berpendidikan terbaik pada abad ke-19, selain Minangkabau, Minahasa, dan Toraja.
Dengan pendidikan tinggi, orang Batak bisa masuk ke berbagai posisi. Presiden Soekarno, misalnya, banyak melibatkan orang Batak dalam pembangunan. Salah seorang di antaranya adalah Friedrich Silaban, arsitek Masjid Istiqlal. Di zaman Gubernur Ali Sadikin, orang Batak dipercaya menjadi pimpinan di pos-pos pemerintahan. Belakangan, Ali Sadikin merekrut banyak sopir taksi, bus PPD, dan guru dari Tanah Batak.
Dan... berkumpullah orang Batak di Jakarta! (Indira Permanasari dan Budi Suwarna)
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Egidius Patnistik
Langganan:
Postingan (Atom)


