Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

16 Feb 2014

Pelean marminggu dohot parkir ni kareta dohot mobil

Adong na menarik di laporan sian Barita Jujur Taon ni sada huria. Disosoi uluan ni huria i do asa unang nian disarupahon na hundul di Gareja i dohot parkir ni kareta manang motor. Molo parkir kareta manang na mobil, manggarar do saribu manang dua ribu. Molo marminggu ruas ni huria i, unang ma nirajuman songon na lagi parkir, gabe "manggarar" saribu manang dua ribu (pelean ma ra na nidokna disi). "Na lagi marsaor dohot Debata do hita," ninna di Berich i.

Memang, molo naeng angkaton on gabe bahan diskusi, ra marganjangganjang do angka pandapot. Alai mansai unik do cara ni amanta uluan i manosoi ruasna, ala memang naung diboto amanta Sintua i do kondisi ni ruasna. Na mampu do nian, alai songon i ma rumangna na marpelean i, sisaribu dohot dua ribu. Dipatudos tu parkir ni kendaraan.

Hehe

I ma jolo carita sian au. Horas!

26 Sep 2013

Seharusnya Saya "Menolongnya"

Dunia ini bekerja keras untuk mengaburkan kasih di antara umat
manusia. Si jahat akan berkeliling untuk menelan yang dapat
diterkamnya (1 Ptr. 5:8). Beberapa bulan yang lalu, ketika sermon
ressort di Sipirok, kami sampai pada pembicaraan bahwa kasih itu mesti
kreatif.

Awalnya berbicara tentang orang Kristen yang mesti membuahkan kasih
dalam hidupnya. Kemudian ada tanggapan dari seorang penatua bahwa
tidak mudah menerapkan kasih dalam hidup ini, karena banyak aspek yang
mesti diperhatikan. Kemudian sampai pada contoh kasus, di mana
misalnya ada yang memerlukan bantuan di jalan karena kendaraan rusak.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa kita mesti berhati-hati menghadapi
kasus seperti ini di jalan, karena sering terjadi penodongan atau
perampokan dengan modus kendaraan rusak di jalan.

Lalu bagaimana? Jika daerah itu memang benar-benar sepi penduduk, ada
baiknya kita melewatkan saja. Namun kita mesti memberitahukannya ke
bengkel yang pertama dijumpai, agar montir segera menolong kendaraan
yang rusak itu. Lagipula itu adalah rezeki bagi bengkel tersebut, dan
dia bisa membawa beberapa temannya ke tempat itu. Tentang harga,
mungkin bisa sedikit ditambah karena montir yang melayani ke tempat
kendaraan yang rusak itu.

Dalam sermon itu kami setuju dengan cara itu, sebab kita mesti menjaga
diri kita, namun kasih juga tidak tertinggalkan. Karena kita mesti
hati-hati di zaman ini.

Ada apa dengan zaman ini? Bukankah kita harus menolong orang yang
kesusahan? Bukankah mestinya itu adalah buah dari kasih, yang
ditanamkan ke dalam hati kita melalui Firman yang sejak kecil kita
dengar? Ya! mestinya tolong-menolong menjadi tatanan hidup umat
manusia sesuai kehendak Allah Yang Mahakasih. Tapi si jahat selalu
berusaha untuk merusaknya.

Tentu tidak ada yang ingin kendaraannya rusak di jalan sepi, dan tentu
saja kita iba dan terdorong untuk menolongnya. Kondisi itu
dimanfaatkan oleh orang-orang jahat yang mau menjebak, menodong dan
merampok orang yang justru tergerak ingin menolong. Ini merusak
tatanan kasih yang mestinya tolong-menolong di antara umat manusia.
Orang-orang berpikir dua kali jika menjumpai kejadian seperti itu
lagi, baik dalam kasus yang berbeda seperti di pasar, swalayan, di
lokasi ATM dengan modus yang berragam.

Begitulah yang saya alami pada hari Sabtu, 14 September 2013, di
Pematangsiantar. Seorang ibu datang menghentikan langkah kami begitu
keluar dari ruangan ATM di Bank BRI di depan Taman Bunga. Kami tidak
melihat kapan dia datang, tapi seperti keluar dengan tiba-tiba dari
samping di bagian yang gelap (waktu itu malam). Dia segera
mengutarakan maksudnya meminta tolong supaya saya mau mentransfer
sejumlah uang ke adiknya via ATM, dan dia menggantinya dengan uang
tunai.

Pada saat itu saya bersikap protektif dan tegas mengatakan supaya ibu
itu menunggu orang lain saja. Lalu kami pergi, dan mendengar dia
berkata "Sehat-sehatlah kalian, ya." Sempat ada rasa tidak enak dan
ingin kembali untuk menolongnya, namun mekanisme pertahanan diri saya
mengatakan "tidak."

Di rumah, saya ingin membela diri dan tidak rela merasa bersalah. Saya
berpikir dan mencari alasan-alasan logis dari kejadian yang sempat
terekam, maupun hanya dengan mengaitkannya dengan peristiwa penipuan
dan hipnotisme belakangan ini. Namun akhirnya saya harus menyerah
kepada kehendak Allah yang menyatakan bahwa saya bersalah karena
meninggalkan kasih. Kasihnya kurang kreatif.

Seharusnya saya cek dulu uang tunai yang ditawarkannya sebagai ganti
yang ditransfer, memastikan asli atau palsu. Seharusnya saya meminta
kesediaannya untuk difoto wajah dan mengirim gambarnya melalui BBM,
untuk menjaga jika benar terjadi penipuan. Itu diperlukan karena jika
memang dia penjahat mungkin akan menghipnotis kita sehingga mungkin
barang-barang kita akan ikut hilang termasuk handphone. Seharusnya
saya mencoba menolongnya.

24 Jun 2013

Jambore Anak Sekolah Minggu HKBP Distrik I Regional I Tabagsel

Tahun 2013 merupakan Tahun Anak bagi HKBP. Dalam tahun ini dilaksanakan rangkaian kegiatan gerejawi yang difokuskan pada pelayanan terhadap anak-anak Sekolah Minggu. Tujuan yang mau dicapai dalam Tahun Anak ini mengikuti tema umum HKBP tahun 2013, yaitu anak-anak HKBP menjadi berkat bagi dunia (Kej. 12:2). HKBP (seluruh gerejanya) akan berupaya membongkar nilai-nilai yang diperlukan untuk memperlengkapi anak-anak demi tujuan menjadi berkat bagi dunia. Dalam pelaksanaannya setiap gereja akan mengacu pada rangkaian kegiatan yang sudah diatur secara umum dalam Buku Panduan Tahun Anak HKBP 2013 itu. Untuk menyambut program ini, HKBP Distrik I Tabagsel – Sumbar (Regional Tabagsel) mengadakan kegiatan Jambore Anak Sekolah Minggu.

Jambore Anak Sekolah Minggu Distrik I Regional I Tabagsel dilaksanakan mulai pada hari Jumat, 21 – Minggu 23 Juni 2013. Kegiatan dilaksanakan di areal Sekolah Abdi Masyarakat yang berlokasi di desa Purba Tua, Kecamatan Sisoma, Kabupaten Tapanuli Selatan. Ketua Panitia adalah St. Drs. FT Sitompul namun karena jarak kantor distrik ke lokasi pelaksanaan Jambore cukup jauh maka dibentuk lagi panitia lokal. Panitia lokal inilah yang lebih banyak berurusan dalam mempersiapkan areal dan sarana prasarananya, diserahkan kepada HKBP Purba Tua yang dipimpin oleh Gr. Fernando Rajagukguk. Jemaat HKBP Purba Tua yang berressort ke HKBP Ress. Sisoma (dipimpin Pdt. H. Pane, STh.) sangat antusias dan bekerja maksimal dalam melayani peserta Jambore. Kiranya Tuhan senantiasa memberkati mereka.

Anak-anak Sekolah Minggu datang dari setiap ressort yang ada di Regional I Tabagsel (kecuali dari Ress. Sipiongot) didampingi oleh penatua (atau pembina) dan Guru-guru Sekolah Minggu masing-masing. Panitia menghitung jumlah anak Sekolah Minggu yang mengikuti yaitu berkisar 750 orang, ditambah dengan para pendamping diperkirakan jumlah yang hadir dalam acara tersebut lebih dari 800 orang. Anak-anak Sekolah Minggu sangat bersemangat, terutama setelah praeses mengajarkan yel-yel untuk kegiatan Jambore ini:

Sekolah Minggu HKBP Distrik I …… OKE!!!
Jambore Anak Sekolah Minggu …… MANTAP!!!
HKBP …… YES! YES! YES!!!

Dalam kegiatan Jambore ini ada dua tim yang mengisi kegiatan out-door. Tim pertama adalah Tim Outbond Saber, yaitu 30 orang remaja dan pemuda dari beberapa gereja HKBP di kota Padangsidimpuan. Mereka dibentuk sebagai sebuah tim dan dilatih secara langsung oleh praeses Pdt. Sunggul P. Sirait, STh. MM., dan dikoordinir oleh ketua Pelaksana Pelayanan Naposobulung Distrik (PPND), Sdr. Jhony Simanjuntak, ST. Tim dibagi menjadi beberapa kelompok dan mengajarkan masing-masing satu jenis permainan. Ada tiga belas jenis permainan yang dilakukan oleh anak-anak Sekolah Minggu yang dibagi ke dalam tiga belas kelompok, sehingga semua anak Sekolah Minggu berkesempatan terlibat pada semua permainan.


Setelah selesai memainkan satu permainan, tim Saber akan mengajak adik-adik Sekolah Minggunya berdiskusi singkat. Mereka menanyakan dari permainan yang baru dilakukan, apa-apa saja sebenarnya yang dibutuhkan kelompok tersebut supaya berhasil dan selamat memainkannya. Adik-adik Sekolah Minggu akan menjawab: kekompakan, kerjasama, kesabaran, dan beberapa nilai lain. Itulah yang diharapkan tertanam dalam diri anak Sekolah Minggu HKBP sehingga karakternya diharapkan akan terbangun dari nilai-nilai tersebut.


Tim kedua yang mengisi kegiatan out-door adalah tim EE Kids (Evangelism Explosion for Kids). Tim ini terbentuk setelah HKBP Distrik I mengirimkan utusannya dari kalangan pemuda untuk mengikuti kegiatan pelatihan EE Kids di Parapat beberapa waktu yang lalu. Dengan penuh rasa tanggung jawab beberapa dari utusan yang dikirim itu menyanggupi permintaan praeses untuk melayani di Jambore Anak Sekolah Minggu ini. Beberapa dari mereka tidak dapat hadir, mudah-mudahan hanya oleh halangan yang baik.

Tim sangat bersemangat melayani anak-anak Sekolah Minggu, mengajarkan nyanyian baru dengan gerakan-gerakan atraktif dan menyenangkan, menanamkan pengakuan-pengakuan iman kristiani dengan cara yang kreatif. Tim mampu menghipnotis anak Sekolah Minggu sehingga dengan penuh semangat semua mengikuti apa yang diajarkan dan dipraktekkan dari panggung. Bukan hanya anak-anak Sekolah Minggu, para pendamping bahkan orangtua juga terlihat sangat menikmati pelayanan tim EE Kids ini.

Hari Minggu, 23 Juni 2013, yaitu hari terakhir Jambore, diadakan kebaktian raya yang diikuti oleh peserta dan jemaat Purba Tua, dan Persekutuan Perempuan Distrik (PPD) juga hadir pada saat kebaktian. Yang mempersembahkan paduan suara pada saat kebaktian adalah anak-anak Sekolah Minggu, PPND dan PPD. Liturgis dalam kebaktian dibawakan oleh Pdt. Leritio br Panjaitan, yaitu Pendeta HKBP Ressort Sipirok, dan pemberitaan firman dibawakan oleh praeses.

Kegiatan Jambore ini diadakan dengan penuh harapan akan terbangunnya karakter kristiani yang kuat pada setiap anak Sekolah Minggu. Dengan tema: Anak Sekolah Minggu menjadi berkat bagi dunia, sebenarnya bukan suatu cita-cita yang muluk-muluk. Tentu kita tidak berharap anak-anak Sekolah Minggu harus menjadi seorang anak yang jenius dengan level IQ di atas rata-rata. Namun jika kita berbicara tentang “berkat” maka kita tidak selalu dapat merumuskannya menjadi sesuatu yang melulu materiil atau suatu karya yang brilian. Gereja kita telah menyebutnya “berkat” sejak seorang anak dilahirkan ke dunia, sebelum diketahui sang anak akan menjadi apa kelak. Sebab memang berkat adalah kata yang terejawantah dari rasa syukur, rasa yang tak terukur dan hanya dapat dialami dengan iman.

Begitulah Tuhan Yesus memberkati anak-anak dalam Mat. 19:14, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” “Yang empunya Kerajaan Sorga,” maksudnya orang-orang seperti apa? Seperti anak-anak? Ya, seperti anak-anak. Kalau kita perhatikan anak-anak, mereka adalah pecinta damai yang sejati. Jikapun mereka bertengkar dengan sesama, tak sampai satu atau dua jam kemudian mereka akan kembali tertawa dan bermain bersama lagi. Tidak ada dendam, tipu, kecurangan, yang ada hanya keceriaan, sukacita dan rasa percaya. Dengan rasa percaya itu mereka tidak bergantung atau bersandar pada pengertian sendiri. Jika mereka menemukan kesulitan atau bahkan dalam keadaan takut, mereka akan segera berlari kepada bapak atau ibunya.

Itu menjadi khotbah bagi orang-orang dewasa yang sering mengandalkan kekuatan dan pengertian sendiri, bahkan bersandar padanya (lihat Ams. 3:5). Rasul Paulus juga memberi kesaksian, “sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (lihat 2 Kor. 12:9-10). Sebab Tuhan berpihak pada dan akan membela orang-orang lemah dan melawan orang-orang kuat yang jahat, seperti dalam Magnificat (Luk. 1:46-55), puji-pujian dari Ibu Yesus terutama ayat 51-53.

Karena itu, anak-anak adalah pemberita Injil yang menyampaikan khotbah-khotbahnya dengan hidupnya sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus cinta dan sayang kepada anak-anak, memberkati dan melindungi mereka. Itu kiranya mendorong Gereja sebagai Tubuh Kristus untuk menjaga anak-anak sebagai berita Injil, sebab mereka bertumbuh dan akan segera menjadi dewasa dan pada saat yang bersamaan dan beriringan “dunia” akan senantiasa mencoba “merenggut” mereka. Gereja dapat melakukan tugas itu mulai dari tengah-tengah keluarga, sebagai Gereja Kecil. Perlu juga diadakan program-program berkualitas seperti Jambore Anak Sekolah Minggu Distrik I ini, walaupun dengan biaya yang cukup besar.

Mengingat perihal biaya pelaksanaan yang cukup besar, saya teringat ketika bercakap-cakap dengan bapak St. Bantu Dongoran, penatua di HKBP Pasar Ujung Batu yang mendampingi peserta Sekolah Minggu dari HKBP Ressort Sion Nauli Ujung Batu Sosa, di sela-sela kegiatan Jambore. Beliau mengatakan dengan bahasanya kira-kira demikian, “molo tu angka Sikola Minggu on, saonari do pengeluaran on alai sogot halak i do pemasukan ni huria i.” Kira-kira artinya, segala tenaga dan biaya yang dikeluarkan pada saat ini untuk membina anak-anak Sekolah Minggu merupakan investasi dan aset pada masa depan, ketika tiba gilirannya anak-anak Sekolah Minggu saat ini melayani di HKBP yang kita cintai di masa depan. Kiranya Tuhan Yesus memberkati HKBP dan anak-anak Sekolah Minggu.

Salam hangat buat tim EE Kids dan tim outbond Saber (Salak Berduri) yang heboh-heboh :) selamat melayani.

4 Jun 2013

WSA from ACF for SBY: berangkat dari refleksi INRI

Ada sebuah cerita menarik pada saat penyaliban Yesus Kristus. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa orang-orang Yahudi pada saat itulah sebenarnya yang menyalibkan Yesus Kristus, walaupun yang melaksanakannya prajurit Romawi. Dari Injil dapat didaftarkan beberapa tuduhan kepada Yesus, yaitu Yesus dikatakan menyesatkan banyak orang dengan ajaranNya, Yesus menghujat Allah dengan mengakui bahwa Dia adalah Anak Allah, Yesus mengaku bahwa Dia adalah raja orang Yahudi, dan masih ada beberapa tuduhan lain.

Pengakuan diriNya sebagai Anak Allah dan sebagai raja sebenarnya bukanlah berasal dari inisiatif Yesus sendiri untuk menyatakannya. Pengakuan itu keluar sebagai jawaban, di mana orang Yahudi sendiri atau Pontius Pilatus yang menanyakannya lebih dulu. “Apakah Engkau Anak Allah?” “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Lalu keluarlah jawaban yang menyatakan bahwa diriNya menyetujui apa yang dipertanyakan itu.

Pengakuan Yesus dalam jawabannya bahwa Dia adalah raja orang Yahudi, tentulah orang Yahudi tidak dapat menerima jawaban itu. Namun jawaban itu dipakai sebagai jebakan. Mereka meneguhkan Pilatus ketika gubernur di Yudea itu (tahun 26-36 M) ragu karena tidak mendapati kesalahan pada diri Yesus Kristus. Orang Yahudi mengatakan bahwa orang yang membela seseorang yang mengaku sebagai raja bukanlah sahabat kaisar (Romawi, pada saat itu kaisar Tiberius; Yoh. 19:12). Tidak bersahabat dengan kaisar tentulah tidak pernah diimpikan oleh seorang Pilatus. Akhirnya ia kalah dengan tuntutan massa dan memerintahkan untuk menyalibkan Yesus.

Lalu di sinilah menariknya. Orang Yahudi memakai pengakuan Yesus sebagai raja mereka hanya untuk memastikan Pilatus menjatuhkan hukuman. Namun sebenarnya bukan hal itu yang membuat mereka memaksa Pilatus untuk menjatuhkan hukuman salib. Disalibkan adalah hukuman yang terburuk dan hina dalam tradisi orang Yahudi. Orang yang disalibkan tidak menjejak tanah dan tidak juga berada di langit, melainkan tergantung di antara keduanya. Dengan kata lain, langit dan bumipun mereka buat untuk tidak menerima orang yang disalibkan tersebut. Karena itu, kesalahan yang mengantarkan orang menerima hukuman salib tentulah kesalahan yang sangat fatal dan tak terampuni, yaitu menghujat Allah (dalam hal ini karena Yesus mengakui diriNya sebagai Anak Allah).

Ketika Yesus disalibkan, prajurit Romawi meletakkan tulisan INRI, singkatan dari Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum di bagian atas salib tersebut. INRI, artinya “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi,” dan orang Yahudi tidak memrotes tulisan tersebut. Ini disebabkan oleh paling tidak dua hal, pertama bahwa memang bukan itu kesalahan utama Yesus bagi orang Yahudi, melainkan karena pengakuanNya sebagai Mesias, seperti diterangkan di atas. Yang kedua, orang Yahudi membiarkan tulisan tersebut tetap tinggal di salib itu dengan Yesus tergantung di sana, untuk mengejek Dia. Barangkali kita bisa menyebutnya dalam istilah sastra Bahasa Indonesia sebagai majas ironi, pujian yang dilontarkan namun dengan maksud untuk menyindir. Sama seperti ketika Yesus diludahi dan dipukuli setelah mengakui bahwa Dia adalah Mesias. Setelah diludahi dan dipukuli, orang Yahudi bertanya kepadaNya: “Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?” (Mat. 26:68). Mereka menyebutnya Mesias, yaitu manusia yang mereka nanti-nantikan selama berabad-abad (bahkan sampai saat ini), tapi meludahi dan memukuliNya.

Kalimat yang bersifat majas ironi, pujian yang dimaksudkan untuk menyindir, memang cenderung manjur untuk mendorong orang berbuat lebih baik. Misalnya seorang kepala negara yang dipuji oleh satu yayasan dari negara lain karena prestasinya membina kerukunan umat beragama. Padahal sebenarnya sang kepala negara bergeming sementara setiap hari berita pelecehan di sekitar hidup keberagamaan di negaranya terus terdengar. Yayasan itu tentulah tahu dengan jelas dan terang apa yang sebenarnya terjadi, sebab yayasan itu katanya memiliki kredibilitas tinggi, didirikan dan dikelola oleh orang dari bangsa yang katanya paling pintar, dan berada di negara yang bak mercusuar dunia. Namun mereka tetap memberikan penghargaan tersebut. Dalam contoh kasus ini, tentulah penghargaan tersebut dimaksudkan untuk mendorong sang kepala negara bertindak nyata, bukan hanya kata yang lebih sering tidak ada (bahkan kedua-duanya, tidak ada kata dan tindakan nyata), menyikapi sikap intoleran yang hampir (mungkin juga sudah) mengakar dan menjadi karakter masyarakatnya.

Kisah imajiner ini mirip sekali dengan yang baru saja terjadi, di mana Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima penghargaan World Statesman Award (WSA) dari Appeal of Conscience Foundation (ACF, http://www.appealofconscience.org/). ACF didirikan oleh seorang Rabbi Arthur Scheiner pada tahun 1965, sebagai keturunan bangsa Yahudi. Penghargaan itu diberikan sebagai apresiasi atas kinerja Presiden SBY yang dihitung berhasil membina kerukunan umat beragama. Padahal situasi saat ini adalah situasi di mana kekerasan atas nama agama yang menyerang komunitas agama lain sedang sangat hangat, bahkan panas. Umat Ahmadiyah dan Syiah bukan hanya kehilangan tempat ibadah mereka, mereka bahkan juga kehilangan rumah tempat tinggal mereka sendiri. Terusir dan sampai di pengungsian. Demikian juga dengan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh umat Kristen dalam membangun rumah ibadah, bahkan untuk beribadah sekalipun, dapat dikatakan sebagai kegagalan pemerintah menjalankan amanat konstitusi. SKB 2 Menteri tentang pendirian rumah ibadah menyumbang semangat yang besar untuk terjadinya berbagai peristiwa untuk ini. Tapi ACF tetap memberikan penghargaan tersebut, dan Presiden SBY tetap hati untuk menerimanya. Biarlah. Que sera, sera.

Saya hanya berharap kepercayaan saya benar, bahwa semoga penghargaan itu diberikan untuk menyindir Presiden SBY (bandingkan seperti yang dilakukan orang Yahudi sekitar dua ribu tahun yang lalu kepada Yesus Kristus). Maksudnya, penghargaan WSA dari ACF kepada SBY menjadi sindiran yang kemudian menjadi dorongan bagi beliau supaya giat memperhatikan dan menindak tegas intoleransi, bukan dimaksudkan untuk mengejek. Kalau penghargaan itu diberikan dengan maksud mengejek Presiden saya, mungkin saya akan marah. Mungkin.



“A crime committed in the name of religion is the greatest crime against religion” (Appeal of Conscience Foundation).

24 Apr 2013

Peran Politis Gereja



Saya mau membagikan tentang kedatangan Kepala Biro (Kabiro) Oikumene HKBP ke sermon pelayan full-time pada hari Senin, 22 April 2013 di kantor Distrik I Tabagsel – Sumbar Regional I (Tabagsel). Beliau datang untuk mensosialisasikan gagasan baru dari Biro Oikumene HKBP. Beliau mengemukakan kecenderungan pelayan HKBP yang agak menarik diri dari dunia politik dengan memberikan stigma tertentu dan menjaga khotbah-khotbah agar tidak terlalu menyentuh dunia politik.

Lalu Kabiro menegaskan bahwa sebenarnya seluruh aspek kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari politik yang diidentikkan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah. Segala sesuatu yang ada di sekitar kehidupan manusia (warga; termasuk jemaat) ditentukan oleh kebijakan pemerintah. Pendidikan, ekonomi, hukum dan peradilan, keamanan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sadar atau tidak sadar, mau atau tidak mau, gereja hidup di dalam politik dan bergerak di dalam alur perjalanannya.

Iman kepada Kristus sebagai Raja Gereja dan Raja Dunia mengantarkan kita kepada pemahaman bahwa karya Tuhan tidak boleh dibatasi dengan dinding gereja. “Wilayah kerja” Tuhan mencakup seluruh dunia, dan oleh karena itu tentu ada juga di luar gereja termasuk di dalam setiap kebijakan pemerintah. Sebab kita mengimani Yakobus 1:17, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang…” Gereja sebaiknya mendekatkan diri kepada politik tanpa bermaksud untuk meleburnya, dengan tujuan yang jelas: upaya untuk menghadirkan Syalom.

Peran politis gereja
Peran politis gereja berangkat dari keprihatinan atas pergumulan masyarakat dan bangsa yang menjadi tantangan bersama dan merupakan tanggungjawab bersama pula. Kesejahteraan yang masih jauh dari kehidupan bangsa menggemakan kembali panggilan kepada gereja. Kesejahteraan itu adalah salah satu ciri Kerajaan Allah (Syalom), dengan demikian maka mengupayakan kesejahteraan merupakan panggilan yang bersifat teologis. Sebab kita juga senantiasa berdoa agar Kerajaan Allah segera datang (“datanglah KerajaanMu,” itulah doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus yang kemudian disebut dengan Doa Tuhan atau Doa Bapa Kami, Mat. 6:9-13).

Selain itu Kabiro juga mengajukan apa yang disebut dengan teopolitis, tentang panggilan teologis untuk masuk ke dalam dinamika proses pengambilan kebijakan untuk kebaikan bersama. Kemudian memperkenalkan Kristoteosentris, yang beberapa tahun lalu mendapatkan penghargaan internasional.

Kabiro ditemani oleh seorang aktivis dari Jakarta yaitu ibu Anita Lubis yang memperlengkapi presentasi yang disampaikan oleh Kabiro dari sisi praktisnya. Beliau berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang politik dan tentang proses pengambilan kebijakan di pemerintahan. Pemerintah harus melindungi dan mengupayakan kesejahteraan masyarakat sesuai kebutuhan yang berbeda-beda dari setiap warga negara. Dalam konteks pluralisme budaya maupun keyakinan, tentu sangat penting adanya perwakilan dari setiap warga sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Untuk itu, maka gereja (jemaat) harus hadir dalam proses pemilihan (pemilu maupun pemilukada) untuk menyampaikan aspirasinya. Mengingat hal tersebut, beliau menekankan bahwa setiap warga harus dilindungi haknya untuk mendapatkan akses menjadi pemilih. Gereja juga berkewajiban mengingatkan jemaat untuk memperlengkapi diri dalam rangka pemilihan tersebut, begitu juga mengingatkan unsur-unsur terkait untuk memberikan hak kepada jemaat untuk memilih.

Selain pelayan penuh-waktu di regional I Tabagsel, sermon dan sosialisasi ini dihadiri oleh Pengurus Parompuan Distrik (PPD) dan ketua Persekutuan Pengurus Naposobulung Distrik (PPND), Sdr. Jhony Frenky Simanjuntak, ST.

23 Feb 2013

Melacak Jejak Batak di Jakarta


lagi baca-baca di Kompas.com dapat berita ini, cukup memotivasi tentang survival dan persaudaraan. sumber beritanya klik di sini.

Minggu, 3 Februari 2013 | 09:13 WIB
Demi kehormatan dan kesuksesan, orang Batak lalu mengembara. Di perantauan, mereka membuat jejak berupa perkampungan Batak, gereja, dan deretan ”lapo” atau kedai Batak.

Lapo-lapo itu berderet memanjang. Aneka menu khas Batak tertulis jelas di papan nama lapo, mulai dari ikan mas arsik, sambal teri, hingga saksang, dan panggang. Terselip di antara deretan lapo, warung mi siantar dan pedagang pisang barangan khas Medan.

Itulah sejumput suasana Sumatera Utara yang hadir di sepanjang Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur. ”Datanglah hari Minggu, sepanjang jalan ini penuh mobil. Orang yang baru pulang dari gereja mampir makan. Wuih, penuh asap dan harum panggangan,” ujar G Marpaung (70), yang tinggal di daerah itu.

Di belakang deretan lapo-lapo itu, suasana Tanah Batak lebih kental lagi. Di sana ada perkampungan orang Batak yang disebut Kampung Mayasari (karena di situ pernah ada pul bus Mayasari Bhakti). Penghuninya adalah orang Batak Toba, Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, dan Angkola.

Tidak mengherankan, lagu-lagu pop Batak senantiasa terdengar dari kampung itu. Gereja Batak bertebaran di sejumlah sudut. Saking banyaknya gereja, baru 200-an meter melangkah sudah tiga gereja terlewati.

”Warga RW 008 di sini 99,9 persen orang Batak,” kata Marpaung, yang tinggal di kampung itu sejak tahun 1969.

Kampung Mayasari merupakan salah satu jejak diaspora orang Batak di Jakarta. Di luar itu, ada kantong-kantong permukiman orang Batak lainnya di Jakarta dan sekitarnya, yakni di Pulo Mas, Kernolong, Peninggaran, Pramuka, Senen, Taman Mini Indonesia Indah, hingga Tambun (Bekasi).

”Mulanya hanya satu keluarga, nanti bertambah. Kalau sudah ada rumah makan Batak, berarti sudah banyak orang Batak di situ,” kata B Ginting (50), yang pernah tinggal di Kampung Mayasari.

Lapo dan terminal

Martogi Sitohang (42), seniman Batak, secara berseloroh menambahkan, cukup satu orang Batak tinggal di satu tempat. ”Nanti dia akan mencari saudaranya atau dicari keluarganya. Kalau sudah bertemu, mereka berkumpul,” katanya.

Mereka tidak perlu takut tercecer di perantauan. Datang saja ke gereja, lapo, dan terminal pasti bertemu dengan saudara. ”Cukup memberi salam, menyebutkan marga, kampung, dan nomor urut silsilah. Contohnya nih, Sihombing nomor 15, setelah dicocok-cocokkan masih saudara, pintu rumah Sihombing pun pasti terbuka,” kata Martogi.

Makna kekerabatan buat orang Batak itu memang sangat luas. Kekerabatan tidak hanya tercipta karena pertalian darah, tetapi juga karena pertalian marga dan perkawinan. Martogi mengenang ketika pertama kali merantau ke Jakarta ia mencari saudara di gereja dan lapo. Saudara yang ditemukan di perantauan itulah yang membantunya mendapatkan pekerjaan. Setelah itu, ia memberikan kabar ke kampung bahwa ia telah bertemu tulang-nya (paman).

Jika si perantau berhasil, biasanya saudara atau teman sekampung akan datang menyusul. Dan, si perantau yang sukses wajib membantu. Itu sebabnya, orang Batak di perantauan terbiasa menampung pendatang Batak di rumahnya. ”Saudara saya dan istri begitu datang ke Jakarta semua tinggal dulu di rumah saya. Setelah mereka mapan, mereka bisa membangun rumah sendiri di tempat lain,” ujar G Marpaung.

Ke Jakarta

Dengan cara itu, orang Batak di perantauan cepat berkembang. Lance Castle dalam The Ethnic Profile of Djakarta menyebutkan, orang Batak pertama kali merantau ke Jakarta tahun 1907. Jejak perantau pertama di Jakarta berupa kebaktian berbahasa Batak pada 20 September 1919. Mereka lalu membangun Gereja HKBP Kernolong Resort Jakarta yang tercatat sebagai gereja Batak tertua di Jakarta.

Hingga kini, gereja di Gang Kernolong, Jakarta Pusat, itu masih digunakan jemaat Batak. Praeses HKBP Distrik DKI Jakarta Pendeta Colan WZ Pakpahan mengatakan, gereja-gereja HKBP lain di Jakarta dapat dikatakan pemekaran dari Kernolong. ”Dulu, banyak sekali orang Batak tinggal di Kernolong. Sekarang, sebagian pindah ke daerah lain di Jakarta,” ujarnya.

Tahun 1930, ada sekitar 1.300 orang Batak di Jakarta. Tahun 1963, jumlahnya berlipat menjadi 22.000 orang. Hasil sensus Badan Pusat Statistik tahun 2010 mencatat, jumlah orang Batak di Jakarta mencapai 326.332 orang. Kalau ditambah orang Batak di Bogor, Tangerang, dan Bekasi jumlahnya mencengangkan.

Menurut Castle, etnis Batak termasuk kaum perantau terbesar di Indonesia. Tahun 1930, sebanyak 15,3 persen orang Batak tinggal di luar kampung halamannya. Migrasi besar-besaran terutama terjadi setelah revolusi tahun 1945-1949. Mereka menangkap peluang pendidikan dan kehidupan modern. Awalnya, mereka merantau di daerah pesisir Sumatera. Selanjutnya, mereka menargetkan Jakarta.

Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Medan Bungaran Antonius Simanjuntak menengarai, migrasi orang Batak keluar kampungnya didorong pandangan hagabeon (sukses berketurunan), hasangapon(kehormatan), dan hamoraon (kekayaan). Nah, Jakarta dipandang menjanjikan itu semua.

”Begitu orang Batak sukses pulang kampung, cepat-cepatlah anak muda di kampung ikut merantau atau orangtua mengirim anaknya bersekolah supaya bisa jadi seperti orang itu. Satu sukses jadi pengacara, banyak yang ingin jadi pengacara,” katanya.

Budayawan Batak Togarma Naibaho (57) mengatakan, orang Batak umumnya memang merantau untuk sekolah dan bekerja. Pendidikan anak menjadi ukuran keberhasilan orangtua. Kasarnya, orangtua Batak rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, mulai dari jual kerbau sampai kebun. Tidak heran jika pendidikan orang Batak rata-rata tinggi. ”Tahun 1970-an, pendidikan perantau Batak di Jakarta rata-rata sudah SMA,” ujar Togarma.

Sesuai dengan ucapan Togarma, Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumatra menuliskan, orang Batak Toba, Mandailing, dan Karo termasuk orang Indonesia berpendidikan terbaik pada abad ke-19, selain Minangkabau, Minahasa, dan Toraja.

Dengan pendidikan tinggi, orang Batak bisa masuk ke berbagai posisi. Presiden Soekarno, misalnya, banyak melibatkan orang Batak dalam pembangunan. Salah seorang di antaranya adalah Friedrich Silaban, arsitek Masjid Istiqlal. Di zaman Gubernur Ali Sadikin, orang Batak dipercaya menjadi pimpinan di pos-pos pemerintahan. Belakangan, Ali Sadikin merekrut banyak sopir taksi, bus PPD, dan guru dari Tanah Batak.

Dan... berkumpullah orang Batak di Jakarta! (Indira Permanasari dan Budi Suwarna)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Egidius Patnistik