Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

19 Sep 2014

Tips supaya cartridge awet

Banyak orang mengisi ulang tinta ke dalam cartridge-nya dengan cara seperti yang dianjurkan di berbagai bungkus tinta. Di situ dianjurkan untuk membuat lubang di bagian atas cartridge, lalu menyuntikkan tinta ke dalamnya. Dengan cara itu terbukti banyak yang kewalahan, mulai dari melubangi (pakai apa?), sampai pada proses isi ulang yang harus ekstra hati-hati, kalau tidak maka siap-siap saja menghadapi tumpahan tinta. Tumpahannya bisa ke mana-mana, tapi 99,9 % tangan pasti menjadi korban pertamanya J.

Namun yang paling mesti dijaga jika menggunakan cara di atas ialah keawetan busa penyerap dan penyimpan tinta yang ada di dalam cartridge. Busa itu sering tertusuk jarum suntik tinta, bahkan banyak juga yang sengaja menusuknya ketika mengisi ulang. Alasannya supaya tinta cepat masuk, atau daya serap busa sudah tidak bagus lagi sehingga mesti ditusuk.

Nah, sekarang saya mau berbagi pengalaman lagi tentang printer (sebelumnya di Pengalaman Menggunakan Printer dan Cartridge dan Tips Merawatnya). Berangkat dari keluhan banyak teman-teman sepelayanan tentang printer, susah mengisi atau menyuntikkan tinta, cartridge cepat rusak (sekedar info: harga cartridge hitam + warna ± 80 % dari harga printer), sering terkena tumpahan tinta, delala. Karena itu, kali ini saya mau berbagi tips pengisian tinta yang cukup aman dan dapat menjaga keawetan cartridge, sehingga cartridge berumur panjang (selamat ulang tahun, cartridge!). Loh?

Oke, coba ikuti langkah-langkah ini:

1.      Siapkan pisau dapur (pisau Rambo juga boleh asal permisi dulu sama Rambonya) dan selotip/isolasi atau apalah namanya;



2.      Keluarkan cartridge dari printer;


3.      Buka bagian atasnya menggunakan pisau (hati-hati, ya). Tapi perhatikan, tidak semua cartridge bisa dibuka bagian atasnya, kalau terlalu keras mungkin memang tidak diperuntukkan bisa dibuka.


4.      Nah sekarang terlihat busanya, isilah tinta dengan suntik, (boleh tanpa jarumnya). Tidak perlu menyentuh busa, jarak secukupnya saja di atas busa. Sebelum menyuntikkan, tariklah sedikit pendorong suntik ke atas, karena biasanya awalnya suntik itu kesat jadi kalau langsung didorong terasa agak berat, lalu kita memperbesar tenaga jari jempol kita, sehingga… terdorong dengan keras dan... ah, tumpah lagi L



5.      Setelah mengisi ulang (anjurannya 5 cc aja sekali isi ulang), pasang lagi tutup cartridge yang kita buka tadi, rekatkan dengan selotip/isolasi atau apalah namanya. Pastikan penutup cartridge merekat dengan baik, rapat dan tidak mudah bergeser.



6.      Sekalah head cartridge (bagian paling bawah, lubang seperti garis) dengan tisu kering yang cukup halus, supaya tinta terserap keluar dan lancar ketika proses pencetakan. Cukup sekali saja. Catatan: jangan sentuh dengan tangan setiap bagian metal (connector) yang biasanya warna emas pada cartridge, forbidden area.

7.      Masukkan cartridge kembali ke printer. Kalau tersedia, jalankan aksi Cleaning pada Maintenance (di Properties) untuk membersihkan sesuai prosedur printer. Cetaklah Test Page untuk melihat hasilnya.

8.      Kalau berhasil, “Selamat Pakai!” kalau tidak berhasil, cukup sampai “Selamat Mencoba!” saja. Hehe.

Begitu saja dulu. Sampai jumpa lagi.

16 Feb 2014

Pelean marminggu dohot parkir ni kareta dohot mobil

Adong na menarik di laporan sian Barita Jujur Taon ni sada huria. Disosoi uluan ni huria i do asa unang nian disarupahon na hundul di Gareja i dohot parkir ni kareta manang motor. Molo parkir kareta manang na mobil, manggarar do saribu manang dua ribu. Molo marminggu ruas ni huria i, unang ma nirajuman songon na lagi parkir, gabe "manggarar" saribu manang dua ribu (pelean ma ra na nidokna disi). "Na lagi marsaor dohot Debata do hita," ninna di Berich i.

Memang, molo naeng angkaton on gabe bahan diskusi, ra marganjangganjang do angka pandapot. Alai mansai unik do cara ni amanta uluan i manosoi ruasna, ala memang naung diboto amanta Sintua i do kondisi ni ruasna. Na mampu do nian, alai songon i ma rumangna na marpelean i, sisaribu dohot dua ribu. Dipatudos tu parkir ni kendaraan.

Hehe

I ma jolo carita sian au. Horas!

26 Sep 2013

Seharusnya Saya "Menolongnya"

Dunia ini bekerja keras untuk mengaburkan kasih di antara umat
manusia. Si jahat akan berkeliling untuk menelan yang dapat
diterkamnya (1 Ptr. 5:8). Beberapa bulan yang lalu, ketika sermon
ressort di Sipirok, kami sampai pada pembicaraan bahwa kasih itu mesti
kreatif.

Awalnya berbicara tentang orang Kristen yang mesti membuahkan kasih
dalam hidupnya. Kemudian ada tanggapan dari seorang penatua bahwa
tidak mudah menerapkan kasih dalam hidup ini, karena banyak aspek yang
mesti diperhatikan. Kemudian sampai pada contoh kasus, di mana
misalnya ada yang memerlukan bantuan di jalan karena kendaraan rusak.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa kita mesti berhati-hati menghadapi
kasus seperti ini di jalan, karena sering terjadi penodongan atau
perampokan dengan modus kendaraan rusak di jalan.

Lalu bagaimana? Jika daerah itu memang benar-benar sepi penduduk, ada
baiknya kita melewatkan saja. Namun kita mesti memberitahukannya ke
bengkel yang pertama dijumpai, agar montir segera menolong kendaraan
yang rusak itu. Lagipula itu adalah rezeki bagi bengkel tersebut, dan
dia bisa membawa beberapa temannya ke tempat itu. Tentang harga,
mungkin bisa sedikit ditambah karena montir yang melayani ke tempat
kendaraan yang rusak itu.

Dalam sermon itu kami setuju dengan cara itu, sebab kita mesti menjaga
diri kita, namun kasih juga tidak tertinggalkan. Karena kita mesti
hati-hati di zaman ini.

Ada apa dengan zaman ini? Bukankah kita harus menolong orang yang
kesusahan? Bukankah mestinya itu adalah buah dari kasih, yang
ditanamkan ke dalam hati kita melalui Firman yang sejak kecil kita
dengar? Ya! mestinya tolong-menolong menjadi tatanan hidup umat
manusia sesuai kehendak Allah Yang Mahakasih. Tapi si jahat selalu
berusaha untuk merusaknya.

Tentu tidak ada yang ingin kendaraannya rusak di jalan sepi, dan tentu
saja kita iba dan terdorong untuk menolongnya. Kondisi itu
dimanfaatkan oleh orang-orang jahat yang mau menjebak, menodong dan
merampok orang yang justru tergerak ingin menolong. Ini merusak
tatanan kasih yang mestinya tolong-menolong di antara umat manusia.
Orang-orang berpikir dua kali jika menjumpai kejadian seperti itu
lagi, baik dalam kasus yang berbeda seperti di pasar, swalayan, di
lokasi ATM dengan modus yang berragam.

Begitulah yang saya alami pada hari Sabtu, 14 September 2013, di
Pematangsiantar. Seorang ibu datang menghentikan langkah kami begitu
keluar dari ruangan ATM di Bank BRI di depan Taman Bunga. Kami tidak
melihat kapan dia datang, tapi seperti keluar dengan tiba-tiba dari
samping di bagian yang gelap (waktu itu malam). Dia segera
mengutarakan maksudnya meminta tolong supaya saya mau mentransfer
sejumlah uang ke adiknya via ATM, dan dia menggantinya dengan uang
tunai.

Pada saat itu saya bersikap protektif dan tegas mengatakan supaya ibu
itu menunggu orang lain saja. Lalu kami pergi, dan mendengar dia
berkata "Sehat-sehatlah kalian, ya." Sempat ada rasa tidak enak dan
ingin kembali untuk menolongnya, namun mekanisme pertahanan diri saya
mengatakan "tidak."

Di rumah, saya ingin membela diri dan tidak rela merasa bersalah. Saya
berpikir dan mencari alasan-alasan logis dari kejadian yang sempat
terekam, maupun hanya dengan mengaitkannya dengan peristiwa penipuan
dan hipnotisme belakangan ini. Namun akhirnya saya harus menyerah
kepada kehendak Allah yang menyatakan bahwa saya bersalah karena
meninggalkan kasih. Kasihnya kurang kreatif.

Seharusnya saya cek dulu uang tunai yang ditawarkannya sebagai ganti
yang ditransfer, memastikan asli atau palsu. Seharusnya saya meminta
kesediaannya untuk difoto wajah dan mengirim gambarnya melalui BBM,
untuk menjaga jika benar terjadi penipuan. Itu diperlukan karena jika
memang dia penjahat mungkin akan menghipnotis kita sehingga mungkin
barang-barang kita akan ikut hilang termasuk handphone. Seharusnya
saya mencoba menolongnya.

11 Des 2012

Pengalaman Menggunakan Printer dan Cartridge dan Tips Merawatnya

Saya sudah hampir tiga tahun memakai printer HP Deskjet F2180 yang diberikan oleh seorang jemaat dulu, dan saya rasa performanya sangat memuaskan. Hasil cetakannya sangat bagus dan mendetail, dan kalau membuat tabel atau garis atau gambar lain hasilnya sangat halus dan tidak patah-patah. Tidak seperti merk printer yang cukup terkenal dan digunakan oleh kebanyakan orang, waktu saya pakai sering cetakannya tidak halus dan mirip dengan cetakan printer model lama yang dipakai di bank, yang suaranya memekakkan telinga itu. Tapi sudahlah, kenapa harus menceritakan tentang dia… (loh?) Tapi kesal juga sih, karena di kota kecil tempat saya tinggal di mana-mana hanya ada tinta untuk printer merk itu, tinta untuk printer saya tidak ada!

Dan itu juga masalah yang mau saya kemukakan di sini, tentang tinta itu. Jadi awalnya saya membeli sebuah tinta yang juga merk terkenal, yang hitam dan yang warna. Saya pakai dan bagus sekali hasilnya. Tapi setelah beberapa bulan sering macet, tinta tidak keluar atau hasilnya buram. Dulu saya tidak tahu menggunakan cairan alkohol, jadi sering cartridge-nya saya kibas-kibaskan supaya tintanya keluar. Lalu lancar lagi. Begitulah selama hampir tiga tahun, walaupun hasil cetakannya memuaskan tapi sering juga tintanya macet atau seperti teman-teman bilang: mungkin tintanya beku jadi tidak lancar keluarnya. Begitulah, tapi hebatnya kalau sudah bagus kembali ya hasil cetakannya kembali bagus juga. Jadi tidak perlu membeli cartridge baru.

Cuma masalahnya sekitar setengah tahun yang lalu, cartridge-nya waktu itu benar-benar tidak mengeluarkan tinta. Stress!!! Karena tiap minggu saya harus menggunakan printer untuk menunjang kegiatan saya, tiap minggu pula harus stress dan akhirnya selalu ke warnet! Jadi sayapun browsing tentang masalah printer ini, ada yang katanya printernya perlu direset, sampai informasi kalau setiap cartridge zaman sekarang sudah dipasang counter. Jadi maksudnya cartridge yang dipasang counter itu akan menghitung setiap pemakaiannya, dan jika sampai pada batas yang sudah ditentukan oleh pabrik maka cartridge akan rusak dengan sendirinya. Begitu katanya. Mereset yang saya maksud tadi kalau untuk printer HP yaitu dengan cara melepas colokan listriknya, lalu menekan tombol On dan tombol Resume secara bersamaan dan ditahan dan pasang kembali colokan listriknya. Lampunya akan berkedip-kedip beberapa kali, biarkan sampai tidak berkedip lagi, lalu lepaskan tombolnya yang ditahan tadi. Nah, dengan begitu katanya printer sudah direset, termasuk counter di cartridge-nya sudah nol lagi. Hasilnya? Nol juga!

Akhirnya saya membeli sebuah printer lagi, dan karena memang sudah jatuh cinta pada printer HP saya jadinya beli merk yang sama namun tipenya berbeda. Tipenya Deskjet 1000 J110a, dan saya bertekad untuk lebih merawatnya. Saya browsing lagi mencari informasi perawatan printer, dan di sinilah titik baliknya: tipe tinta yang digunakan! Ternyata selama ini saya menggunakan tinta yang tidak tepat untuk Deskjet F2180 itu. Ternyata setiap printer menggunakan tipe tinta yang sudah tertentu, mengikuti sifat dari tekhnologi yang dipakai oleh printernya sendiri. Itulah gunanya membaca manual book-nya dan mencari informasi tentang suatu produk di internet, yang selama ini saya abaikan :'(

Akhirnya dengan semangat '45 saya cari tinta yang sesuai dengan merk dan tipe printer di rumah, namun di seluruh toko di kecamatan tempat saya tinggal tidak ada, kecamatan tetangga juga tidak ada. Akhirnya pergi ke kabupaten lain, dan dari semua toko yang dijalani hanya satu yang menjualnya. Itupun tinta tahun 2010 (berarti tidak laku selama 2 tahun hehehe), merknya DataPrint tipe DP 27 untuk hitam dan DP 28 untuk warna. Kebetulan kedua tipe tinta itu cocok untuk cartridge dari kedua printer yang ada di rumah. Tipe yang saya pakai selama ini ternyata tinta untuk printer merk lain, yaitu DP 002 dan DP 005 untuk Canon. Jadi dengan tinta baru itu misinya tentu selain digunakan untuk printer baru juga untuk misi penyelamatan printer lama. Karena sayang sekali memuseumkan printer lama, karena fiturnya lumayan lengkap: printer, scanner dan copier, cuma kurang bluetooth aja biar lebih keren :). Pertama cartridge-nya saya bersihkan dengan cairan alkohol supaya sisa tinta lama habis dicairkan semua (katanya bisa juga direndam dengan air panas). Lalu saya isi dengan tinta yang baru, awalnya sangat susah karena tinta tidak juga bisa dipakai untuk meng-print. Tapi pengharapan dengan tenaga keyakinan tidak sia-sia, akhirnya printer lama bisa dipakai lagi! Terimakasih, Wong Fei Hung… eh!? :)

Jadi tips merawat printer dan cartridge yang mau saya bagikan dari pengalaman ini, yaitu pakailah tinta yang sesuai dengan merk dan tipe printer yang kita punya. Ingat merk dan tipe, karena bisa saja merknya sama tapi tipenya beda, dan tintanya juga beda. Lalu coba cek tipe cartridge-nya, karena cartridge punya tipe tersendiri juga dan ini disesuaikan dengan tinta yang mau kita pakai. Sebagai contoh, printer HP Deskjet F2180 memakai cartridge hitam tipe HP21 dan yang warna HP22, dan HP Deskjet 1000 J110a memakai tipe 802 untuk kedua cartridge-nya (hitam dan warna). Kebetulan ketiga tipe cartridge ini (HP21, HP22 dan 802) memakai tinta yang sama, jadi dengan membeli satu package saja sudah cukup untuk beberapa lama. Oh ya, hati-hati waktu menyuntikkan tinta jangan kebanyakan karena bisa tumpah dan mengotori tangan. Biasanya di setiap kemasan tinta DataPrint ada penjelasan pemakaiannya dan jumlah cc yang disuntikkan juga ada diberitahukan. Dan kalau mengisi tinta warna, harus ekstra hati-hati, jangan sampai tintanya meluber dan masuk ke lubang untuk tinta warna lainnya karena biasanya jarak antara ketiga lubang itu (merah, biru dan kuning) sangat dekat. Kalau sempat masuk dan bercampur, wah bahaya!

Sent from my Nokia phone

1 Des 2012

Apakah ada bedanya?

Ada sebuah lagu dari Ebiet G Ade, liriknya begini "Apakah ada bedanya, hanya diam menunggu dengan memburu bayang-bayang?" Tidak ada bedanya, tokoh imaginasi dalam lagu itu menantikan hal yang sia-sia saja, atau memburu hal yang takkan pernah didapatkannya. Kosong.

Apakah bedanya tanggal kelahiran saya yaitu 30 September dengan tanggal kelahiran Yesus Kristus 25 Desember? Kalau ditanya, saya sungguh tidak keberatan jika anda mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya di tanggal 30 Maret, 30 April, 30 Mei, atau tanggal berapa sajalah (asal jangan 30 Februari!), apalagi jika disertai kado dengan pita di atasnya. Sungguh saya tidak keberatan :). Karena Gereja tidak menyusun suatu kalender khusus untuk merayakan hidup saya, mengikuti alur dan rentetan sejarah saya untuk membangun suatu kepercayaan kepada saya sendiri. Sehingga saya tidak mesti mematuhi tanggal lahir saya sebagai satu waktu di mana harus pada saat itu saya menerima ucapan ataupun kado, lewat dari tanggal itu tidak bisa, sebelumnya juga tidak bisa.

Memang benar, bahwa tanggal 25 Desember merupakan keputusan Gereja pada masa itu yang ingin menyelamatkan iman jemaat. Ketika itu di kerajaan Romawi, walaupun seseorang sudah menerima Kristus sebagai Juruselamatnya namun kepercayaan akan Dewa Matahari masih dihidupi. Kelahiran Dewa Matahari pada tanggal 25 Desember diperingati dengan sangat meriah dan dihidupi oleh orang Kristen masa-masa awal. Ini sangat berbahaya dan bukti bahwa iman orang Kristen di kerajaan Romawi masih belum murni. Karena itu Gereja mengadopsi tanggal tersebut dan mengganti isinya dengan peringatan akan kelahiran Tuhan Yesus. Sehingga apa yang dirayakan tentu Tuhan Yesus bukan dewa matahari, dan Tuhan Yesuslah yang diutamakan di situ, bukan tanggalnya. Jadi jika ada yang mengatakan, "Tuhan Yesuslah yang utama, bukan tanggal lahirNya," dari awal juga sudah demikian. Lalu?

Jadi benar, bukan tanggalnya yang lebih utama, melainkan Kristus sendirilah yang lebih utama. Dan dengan menuruti alur dari kalender gerejawi sebenarnya kita merayakan hidup dan pelayanan Kristus ketika di dunia. Jika kita dengan sabar mengikuti alur kalender gerejawi yang telah disusun itu maka kita bahkan akan menemukan Kristus dalam kehidupan rohani dan jasmani kita. Termasuk jasmani? Ya, karena setiap tanggal dan minggu dalam tahun liturgi gerejawi (kalender gerejawi) mempunyai spiritualitas dan mentalitas tersendiri dan tertentu. Setiap masa di dalamnya menganjurkan sikap hidup tertentu dan merefleksikan kehidupan kristiani yang sebenarnya. Jadi Natal (dan setiap momen dalam kalender gerejawi) yang tepat pada waktunya sesungguhnya menunjukkan bahwa kita patuh dan merayakan seluruh kehidupan Kristus dalam seluruh hidup kita.

Dengan itu kita ingin menjawab juga mereka yang mengatakan "kita memperingati Yesus Kristus yang sudah datang." Jadi perayaan Natal hanya ingin memperingati kedatanganNya (yang pertama), meskipun kata Natal berarti "lahir," bukan "datang." Siapakah orang Kristen yang tidak mendambakan Kristus hadir dalam hidupnya? Siapakah orang Kristen yang tidak merindukan dirinya menjalani hidup bersama-sama dengan Kristus? Salah satu cara yang dapat diajukan yaitu dengan menghidupi dan menghargai kalender gerejawi yang telah ada, sehingga kita tidak kehilangan setiap kesempatan untuk bersama-sama dengan Kristus dalam hidup kita. Seperti diterangkan juga dalam paragraf di atas, kalender gerejawi sebenarnya menghadirkan Dia yang telah datang dan akan segera kembali dalam hidup kita dan hidup Gereja.

Jadi, jikapun dikatakan supaya kita menunggu dengan sabar tanggal lahir Tuhan Yesus (atau masa Natal, 25 Desember – 5 januari), bukan mau mengutamakan tanggalnya, melainkan mau mengutamakan hidup Kristus yang utuh. Bukan dengan semena-mena terhadap tanggalnya demi alasan "Yesus yang lebih utama, bukan tanggalnya." Saya pikir dengan cara itu sebenarnya yang utama bukan Tuhan, melainkan kepentingan kita (atau persekutuan yang akan merayakannya). Untuk suatu kasus, meminjam istilah Sdr. Reinhard Lumbantobing, merayakan Natal di masa Adven merupakan penampakan "roh instanisme." Itu ceritaku, apa ceritamu? Loh, kok jadi ingat mie instan? :)

Jadi seandainya Ebiet G Ade mananyakan dalam nyanyiannya, "Apakah ada bedanya, tanggal lahirku dengan tanggal lahirNya?" Saya akan jawab: "Ada!"

Sent from my Nokia phone

28 Nov 2012

Dia datang kembali dan kita selamat

Kami baru selesai belajar PAK (Pendidikan Agama Kristen). Waktu sedang menutup kelas langit memang sudah agak gelap, angin juga mulai kencang. Setelah kelas ditutup tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, walau kemudian langit kembali terang. Ini "hujan panas," katanya bisa bikin sakit. Adik-adik itu jadi terhalang untuk pulang, dan akhirnya mereka menunggu di dalam gereja kecil kami itu.

Mereka saling bercanda sambil menunggu hujan reda. Tak ada wajah cemas, walau hujan sungguh deras. Barangkali berbeda dengan perasaan orangtua mereka di rumah, yang mungkin sedang berdoa demi keselamatan anak-anaknya.

Aku jadi teringat dengan soundtrack film Cinta Clarita, telenovela itu. "Apalagi yang kurang, kalau kau punya matahari dan udara?" Walau yang sekarang ini hujan, tapi tetap sajalah bersyukur. Karena walaupun kita terhalang untuk melakukan sesuatu karena hujan itu, tapi yang pasti itu menjadi berkat bagi orang lain yang membutuhkannya. Lagipula hujan merupakan satu dari sekian banyak alat kelengkapan demi kebahagiaan manusia yang dianugerahkan oleh Allah. Ya, kan?

Tapi yang sedang berputar di kepala saya bukan tentang hujan atau panas, melainkan perasaan orangtua yang menunggu kepulangan anaknya. Barangkali saya bisa pastikan kalau mereka cemas, apalagi yang pulang dengan sepeda motor. Jalanan licin, sementara itu adalah jalan lintas di mana mobil-mobil angkutan dan truk besar sering lewat. Pastilah, -kalau yang ini bisa dengan pasti saya pastikan- mereka berharap anaknya datang kembali dengan selamat.

Datang kembali dengan selamat. Kalau orangtua yang dinantikan, anak pasti berharap mereka datang kembali dengan selamat. Datang kembali dengan selamat, bagi orang-orang yang kita kasihi dan cintai. Keselamatan mereka adalah harapan dan sukacita kita. Tapi situasinya? Ya, kita sedang menanti berjumpa dan melihat mereka selamat, ada kecemasan, namun setelah berjumpa barulah kita bersukacita. Dan berpengharapan dalam Tuhan itu indah dan melegakan.

Nah, sekarang bagaimana sifatnya penantian akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali? Apa kita berharap supaya Dia datang kembali dengan selamat? Tentu tidak, sebab Dia adalah Juruselamat. Apakah kita mencemaskan Dia, atau kita yang sebaiknya mencemaskan diri kita sendiri demi kedatanganNya?

Ya, kita tidak perlu mencemaskan Dia yang akan datang. Justru kita yang perlu cemas, bilamana Dia datang, tentang bagaimana kita ketika waktunya tiba. Tapi yang pasti, tentang pengharapan dan penantian ini bagi orang percaya bukan "datang kembali dengan selamat," melainkan "datang kembali dan selamat." Tidak ada kecemasan. Dia datang kembali dan kita selamat. Itulah yang kita nantikan. Semoga pengharapan kita hidup dan penantian kita penuh dengan kesetiaan.

Selamat memasuki dan menjalani masa Advent mulai minggu depan.

Mazmur 118:1, "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."

Sent from my Nokia phone

22 Nov 2012

Sumber Kehidupan: no way out!

Suatu malam saya berangkat dari tempat tinggal ke sebuah tempat yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan (+/- 40 km). Saya dapat bangku di belakang, di sebelah kiri. Tidak lama di situ saya langsung tahu kalau knalpot minibus itu bocor, hidung saya sampai perih menghirup asap yang masuk dari bawah itu.

Lalu saya buka jendela di depan saya, sayangnya hanya bisa terbuka selebar 3 cm saja karena ada penghalang di ujung yang satu lagi. Angin dari luar tidak bisa masuk dengan bebas dan hanya mengarah ke tengah, tidak bisa ke belakang. Jadi ketika hidung saya sangat perih karena menghirup asap itu, saya harus memajukan badan saya agar wajah saya mencapai tepat di samping jendela. Dengan begitu saya bisa menghirup udara yang jauh lebih segar, walaupun jalanan juga berabu.

Untuk waktu yang sangat singkat saya terpikir merefleksikan kehidupan ini dengan kejadian tersebut. Bahwa kita harus dekat dengan sumber kehidupan, udara yang lebih segar. Seperti yang dikatakan Ebiet G Ade di sebuah lagunya, "di bumi yang berputar, pasti ada gejolak" (Apakah Ada Bedanya). Di tengah-tengah hiruk pikuk dunia ini tentu ada banyak gesekan dan perselisihan di antara penghuninya. Terkadang kita tidak bisa menghindari tabrakan dengan sesama, bahkan dengan diri sendiri, baik secara pandangan bahkan secara fisik sekalipun. Sehingga kita merasa tidak nyaman, sumpek dan terkadang perih di hati. Mau lari kemana? Gelisah, sambil membayangkan kehidupan yang lebih nyaman. Seandainya kita bisa menyusun setiap bagian dari kehidupan kita yang utuh ini, barangkali kita bisa memilih hal-hal yang baik saja. Lalu menyusunnya untuk membangun diri kita menjadi manusia sesuai kehendak kita sendiri. Pasti amat menyenangkan. Tapi apa mungkin?

Tentu tidak mungkin! Tapi itulah masalah kehidupan, bahan bakar untuk manusia mau berpikir dengan lebih berkualitas. Demikianlah indahnya sebuah sajak dari WS Rendra Sajak Sebatang Lisong "apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan." Dan memang kita harus masuk ke dalam masalah kehidupan itu sendiri dan menghadapinya, no way out.

Secara iman juga kita meyakini bahwa penderitaan dimulai sejak manusia tidak menaati Allah, dalam Perjanjian Lama (Kej. 3). Kristus juga berpesan agar kita memikul salib, dalam Perjanjian Baru (Mat. 10:38; 16:24 dyb)No way out. Dan kita dituntut untuk setia dalam hal ini. Tapi apakah setia saja cukup? Bukankah kelima gadis yang bodoh juga setia (Mat. 25:3 ff)? Setia menanti dan menyambut kedatangan Sang Mempelai Pria? Lalu kenapa mereka akhirnya "tinggal?" Tentu saja karena mereka tidak membawa persediaan cadangan minyak untuk pelita mereka. Kurang bersiap.

Ya, persiapan tidak dapat dipisahkan dari kesetiaan menjalani rentetan kehidupan yang akan kita hadapi hari demi hari ke depan. Bersiap-siaplah kita, sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi bahkan sedetik setelah kita membaca tulisan ini. Bersiap menghadapi kejutan-kejutan kehidupan. Namun jika kita sampai pada tahap tertentu maka kita akan mampu menikmati setiap kejutan yang datangnya selalu tiba-tiba. Tentu saja tiba-tiba, jika tidak tiba-tiba tentu kita tidak akan terkejut... :)

Capek? Penat? Perih? Tentulah. Tapi kita bisa kok menyejukkan hati dan menyegarkan jiwa kita. Bagaimana? Ya seperti yang saya alami di bus itu, dengan mendekatkan diri kepada Sumber Kehidupan, menghirup udara yang lembut dari Firman yang murni. Membangun kembali kehidupan kita dan menatanya sesuai kehendak Sang Pencipta. Lalu kita akan dipersiapkan-Nya untuk memasuki lagi kehidupan dengan tetap memandang pada rencana indah Allah Bapa yang mengasihi kita.

Mazmur 23:2-3, "Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya."

nb.: salam rindu buat Ermon Asido Siahaan, pemilik "menjalani prosesnya itu yang nikmat, bro!"