21 Feb 2013

Perkawinan dan Selibat



Dahulu kala, lebih dari 1700 tahun silam, seorang pemuda memutuskan untuk menjadi orang kudus. Ia meninggalkan rumahnya, keluarganya, dan segala harta miliknya. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada sanak keluarga dan teman-temannya, menjual segala miliknya dan memberikan uang itu kepada orang-orang miskin, dan menuju padang gurun untuk menemukan Allah.

Ia menyusuri hamparan padang gurun hingga menemukan sebuah gua yang gelap. “Di sini,” pikirnya, “saya akan menyendiri bersama Allah. Di sini tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan saya dari Allah.”

Ia berdoa siang dan malam dalam gua yang gelap itu. Tetapi Allah mengiriminya godaan-godaan besar. Ia membayangkan semua hal-hal yang bagus dalam hidup dan ia benar-benar menginginkannya. Bagaimanapun, ia telah bertekad untuk melepaskan segala sesuatu agar dapat memiliki Allah, sebagai satu-satunya. St. Antonius dari Mesir berada dalam damai dan yang dimilikinya hanyalah Allah.

Tetapi kemudian, menurut legenda, Allah berkata, “Tinggalkanlah guamu untuk beberapa hari dan pergilah ke sebuah kota yang jauh letaknya. Carilah tukang sepatu di kota itu. Ketuklah pintunya dan tinggallah bersama dia beberapa saat.”

Petapa suci itu merasa bingung oleh perintah Allah ini. Tetapi pada pagi berikutnya, ia berangkat. Ia berjalan sehari penuh melintasi padang pasir. Ketika hari mulai malam, ia tiba di kota itu mendapati rumah tukang sepatu dan mengetuk pintunya. Seorang pria penuh senyum membukanya.

“Engkaukah tukang sepatu kota ini?” tanya petapa itu.
“Benar,” jawab tukang sepatu. Ia memperhatikan betapa lelah dan lapar tampaknya sang petapa. “Masuklah,” katanya. “Anda membutuhkan sesuatu untuk dimakan dan tempat untuk beristirahat.”

Tukang sepatu itu memanggil istrinya. Mereka menyediakannya hidangan yang lezat dan tempat tidur yang nyaman.

Petapa itu tinggal bersama keluarga tukang sepatu selama tiga hari tiga malam. Petapa mengajukan banyak pertanyaan tentang kehidupan mereka. Tetapi ia tidak mengungkapkan banyak hal tentang dirinya, walaupun demikian pasangan itu sangat ingin tahu tentang kehidupannya di padang gurun. Mereka banyak bercerita tentang dan menjadi teman akrab.

Kemudian sang petapa berpamit kepada tukang sepatu dan istrinya. Ia berjalan kembali ke gua sambil bertanya-tanya dalam hati mengapa Allah menyuruhnya mengunjungi tukang sepatu.

“Bagaimana sikap tukang sepatu itu?” Allah bertanya kepadanya setelah ia kembali di dalam gua yang gelap.
“Ia seorang pria yang sederhana,” tuturnya. “Ia mempunyai seorang istri yang akan segera melahirkan seorang anak lagi. Mereka tampaknya sangat mencintai satu sama lain. Ia mempunyai sebuah perusahaan kecil tempat ia membuat sepatu-sepatunya. Ia bekerja keras. Mereka mempunyai sebuah rumah yang sederhana. Mereka memberi uang dan makanan kepada orang-orang yang nasibnya kurang beruntung daripada mereka. Ia dan istrinya beriman teguh kepadaMu dan mereka berdoa sekurang-kurangnya sekali sehari. Mereka mempunyai banyak sahabat. Dan tukang sepatu itu gemar mengisahkan cerita jenaka.”

Allah mendengar dengan penuh perhatian. “Engkau seorang saleh yang sejati, Antonius,” kata Tuhan, “dan tukang sepatu bersama istrinya adalah juga orang-orang saleh yang sejati.”

- Brian Cavanaugh -

3 Feb 2013

Tenang dan tenteram mendoakan orang lain



Kamis, 31
 Januari 2013
Masuk Minggu Sexagesima
Bahan PA dari 1 Timotius 2 : 1 - 6

                Bersediakah kita mendoakan orang yang telah melukai perasaan atau bahkan mencelakai kita? Jika kita mendengar berita tentang suatu kejahatan atau kekerasan terjadi pada saudara-saudara seiman kita di tempat lain, barangkali kita dengan segera mendoakan para pelaku kepada Bapa di sorga. Kita memohon agar para pelaku dapat segera mengenal kedamaian dalam hatinya. Namun jika kita mengalami sesuatu yang terjadi secara langsung pada diri kita sendiri, terhadap perasaan kita, mungkin butuh waktu agar kita bisa mendoakannya. Kita dengan sukarela mengambil jarak dari kedamaian dengan cara membenci, mengingat-ingat kesalahan orang lain, atau bahkan memelihara dendam!
*****
Rasul Paulus memberikan Timotius tugas dalam pelayanannya. Pertama-tama Timotius dinasihatkan untuk berdoa syafaat: mendoakan semua orang dan mengucap syukur atasnya, termasuk kepada raja-raja dan pembesar-pembesar. Tujuannya adalah “agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” Sebab itulah yang baik dan berkenan kepada Allah: tenang, tenteram, saleh dan terhormat.
                Namun bagaimana mendoakan orang lain (doa syafaat) dapat membuat kita hidup tenang dan tenteram dalam kesalehan dan kehormatan? Pertama-tama, Paulus menasihatkan hal ini kepada Timotius untuk menentang ajaran Yahudi dan Gnostisime yang membatasi keselamatan hanya untuk satu kaum saja. Sementara kehendak Allah adalah agar semua orang beroleh keselamatan dengan memiliki pengetahuan akan kebenaran. Semua orang termasuk para raja dan pembesar didoakan agar mengenal pengetahuan akan kebenaran sehingga kehidupan sosial dapat berjalan dalam damai dan pemerintahan dapat memelihara damai sejahtera. Itulah kehendak Allah atas dunia ini.
                Karena itu berdoa untuk orang lain sangat penting dan menjadi tugas kita sebagai satu jalan demi terjadinya kehendak Bapa di dunia ini. Bukankah kita disuruh untuk membawa kedamaian dan berita kesukaan bagi seluruh umat manusia? Bukankah kita ingin agar Darah Kristus yang kudus dan berkuasa itu turut juga menyelamatkan orang-orang lain? Nah, agar kita tidak menjadi “orang buta menuntun orang buta,” hendaknya kita lebih dahulu memberanikan diri mendoakan orang lain sehingga kita sampai pada tingkat kehidupan yang memiliki dan merasakan kedamaian, ketenangan, ketenteraman, kesalehan dan kehormatan itu.
*****
Maka kita haruslah lebih dahulu hidup di dalamnya. Itu tidak kita dapatkan dari luar, melainkan anugerah yang indah dari Bapa di sorga ke dalam hati kita yang terdalam. Ketenteraman itu kita terima ketika kita mampu hidup dalam kasih Kristus yang penuh rahmat. Kita seharusnya tidak membiarkan kebencian dan dendam serta amarah menghalangi kita untuk menyentuh rahmat yang sudah tersedia itu.
                Membenci atau menaruh dendam kepada orang lain sebenarnya adalah doa dan harapan agar orang itu tidak beroleh keselamatan: di dunia dan di akhirat. Ini bukan hal yang dikehendaki oleh Allah, dan kita menantang Yang Mahakuasa jika kita membenci dan memelihara dendam. Perdamaian membuat hidup kita tenang dan tenteram, mendorong kesalehan hidup dan memberi kehormatan. Inilah isi dari damai sejahtera yang menjadi kehendak Allah.
*****
Sekilas tentang doa
                Kita sudah mendengar tentang doa adalah nafas kehidupan orang Kristen, bahkan sejak kanak-kanak. Sebenarnya apa maksud yang hendak disampaikan perkataan itu? Nafas, atau dalam bahasa Ibrani vpn nefesy berarti angin, nafas, dan juga roh. Angin, nafas dan roh memiliki kesamaan dalam cara beradanya: tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan. Karena itu doa adalah roh manusia, sehingga orang Kristen yang tidak berdoa adalah orang yang tidak bernafas, tidak memiliki roh: manusia hidup yang sebenarnya mati!
                Doa membuat orang hidup, dan sebaliknya tanpa doa orang tidak hidup. Sebab doa adalah puncak dari bakti dan pujian serta penyampaian harapan kepada Allah Sumber Kehidupan. Doa merupakan perbuatan tertinggi (bakti) yang dapat dilakukan oleh roh manusia. Ini merupakan persekutuan dengan Allah selama penekanannya diberikan kepada prakarsa ilahi. “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:24; bnd. Kej. 2:7). Kita percaya bahwa doa hanya dilakukan oleh roh, sebab “apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari roh, adalah roh” (Yoh. 3:6). Karena itu doa merupakan kegiatan roh dan ketika kita berdoa kita harus yakin bahwa roh kita sedang membangun hubungan yang lebih intim dan sangat dekat dengan Allah yang adalah Roh. Itulah sebabnya Roma 8:26 mengatakan, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan.”
Oleh karena itu, doa adalah benar hidup orang percaya, digambarkan sebagai nafas dan bertindak di dalamnya roh kita sendiri yang ditolong oleh Roh Allah. Lalu bagaimana jasmani kita bisa menembus dunia roh itu? Ini ditunjukkan dalam sikap yang diam, hening dan penuh hormat sebab roh kita sedang “terhubung” dengan Roh Yang Mahakudus. Doa melibatkan seluruh kegiatan jasmani kita, sebab seluruh gerak-gerik tubuh kita menunjukkan apa yang sedang terjadi “di dalam” kita. Adalah baik dan benar dan penuh hormat apabila kita diam dan hening ketika roh kita berbicara kepada Yang Mahakudus. Begitupun keseluruhan hidup kita adalah baik dan benar untuk tetap tenang, tenteram, saleh dan terhormat serta penuh hormat.

25 Jan 2013

Harapan Tak 'Kan Hilang

Kamis, 24 Januari 2013
Masuk Minggu Septuagesima
Bahan PA dari Ratapan 3 : 22 - 26

Si Marnohop merasa bahwa dia tidak dekat dengan Tuhan. Mungkin Tuhan tidak memandangnya sebab dia tidak memiliki minat atau kelebihan apapun dibanding dengan teman-temannya. Dia pernah mendengar gurunya berkata, "Anak-anak yang sangat baik mendapat perhatian dari pihak sekolah, demikian juga dengan anak-anak yang sangat nakal." Dia berpikir Tuhan juga demikian, mungkin anak-anak yang sangat baik berada di hati Tuhan dan anak-anak yang sangat nakal berada di depan mata-Nya. Dia menjalani hari begitu saja, jarang sekali berdoa kecuali di depan keluarga atau teman-temannya. Dia jarang sekali mengadukan persoalannya kepada siapapun, apalagi kepada Tuhan. Si Marnohop hopeless. Mungkin dia anggap dirinya seperti benda-benda yang dipakai manusia yang bila tiba saatnya rusak akan dibuang, untung-untung disimpan jadi barang antik. Hidup untuk mati.

Pada zaman ini mungkin saja semakin banyak manusia yang berpikiran seperti si Marnohop. Apalagi setelah manusia mengenal kata instan. Ya, sekarang adalah zaman instan. Semua orang butuh cepat dan kecepatan. Barangkali secepat menyajikan mie instan. Ketika seseorang memohonkan sesuatu dari Tuhan, tanpa ia sadari ada dorongan keinginan agar Tuhan menjawabnya dengan instan, dengan cepat secepat Google memberi jawaban. Penantian manusia ada batasnya, demikian juga dalam menantikan jawaban Tuhan atas doa dan permohonan. Setelah sekian waktu menantikan maka harapan akan terkikis dan hilang. Lahirlah si Marnohop yang baru.

Pertanyaannya, benarkah Tuhan begitu cuek seperti yang dirasakan si Marnohop? Kita semua tahu dan percaya bahwa Tuhan tidak mungkin cuek, tidak mungkin tidak peduli dengan manusia sebagai ciptaan yang dikasihiNya. Bahkan Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa manusia adalah sahabat Tuhan, yang diciptakan seturut dengan rupaNya sendiri. Tentu saja kita adalah istimewa bagiNya, dan kita lebih baik percaya. Lalu kenapa Tuhan terkesan begitu cuek kepada si Marnohop, yang mana doa dan permohonannya lama sekali bahkan jarang dikabulkan?

Sebenarnya roh zaman telah mempengaruhi pola hubungan manusia dengan Allah. Roh instanisme dan materialisme telah mengubah pandangan manusia kepada benda fana. Ketika seseorang memohonkan sesuatu maka perhatiannya sepenuhnya akan berada pada apa yang dia harapkan bukan kepada Tuhan lagi. Pola telah berubah, harapan-harapan manusia telah menggantikan posisi Tuhan dalam hidupnya. Sebaiknya kita menjadi seperti petani yang setia berdoa dan berharap pada rahmat Tuhan setelah dia menanam benih padinya. Sebab seorang petani tidak punya kuasa apapun untuk menumbuhkan benihnya, selain daripada menanam dan merawatnya (bnd. 1 Kor. 3:6).

Sebaiknya kita percaya, lebih daripada doa dan permohonan kita Tuhan memelihara hidup kita. Setiap pagi kita mendapati kehidupan yang baru, dan setiap kali itu kita tahu bahwa Tuhan setia akan rahmatNya. Setiap pagi kita tahu, bahwa permohonan kita sedang dipertimbangkan untuk menjadi kebaikan yang bukan hanya bagi kita tetapi baik juga bagi orang lain. Sebab Tuhan mengasihi kita secara pribadi namun tidak melepaskannya dari kehidupan sosial kita. Namun walaupun demikian, dengan memelihara permohonan kita Tuhan menjaga kita tetap hidup. Sebab harapan membuat kita tetap hidup jika kita setia di dalamnya: "Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan."

11 Des 2012

Pengalaman Menggunakan Printer dan Cartridge dan Tips Merawatnya

Saya sudah hampir tiga tahun memakai printer HP Deskjet F2180 yang diberikan oleh seorang jemaat dulu, dan saya rasa performanya sangat memuaskan. Hasil cetakannya sangat bagus dan mendetail, dan kalau membuat tabel atau garis atau gambar lain hasilnya sangat halus dan tidak patah-patah. Tidak seperti merk printer yang cukup terkenal dan digunakan oleh kebanyakan orang, waktu saya pakai sering cetakannya tidak halus dan mirip dengan cetakan printer model lama yang dipakai di bank, yang suaranya memekakkan telinga itu. Tapi sudahlah, kenapa harus menceritakan tentang dia… (loh?) Tapi kesal juga sih, karena di kota kecil tempat saya tinggal di mana-mana hanya ada tinta untuk printer merk itu, tinta untuk printer saya tidak ada!

Dan itu juga masalah yang mau saya kemukakan di sini, tentang tinta itu. Jadi awalnya saya membeli sebuah tinta yang juga merk terkenal, yang hitam dan yang warna. Saya pakai dan bagus sekali hasilnya. Tapi setelah beberapa bulan sering macet, tinta tidak keluar atau hasilnya buram. Dulu saya tidak tahu menggunakan cairan alkohol, jadi sering cartridge-nya saya kibas-kibaskan supaya tintanya keluar. Lalu lancar lagi. Begitulah selama hampir tiga tahun, walaupun hasil cetakannya memuaskan tapi sering juga tintanya macet atau seperti teman-teman bilang: mungkin tintanya beku jadi tidak lancar keluarnya. Begitulah, tapi hebatnya kalau sudah bagus kembali ya hasil cetakannya kembali bagus juga. Jadi tidak perlu membeli cartridge baru.

Cuma masalahnya sekitar setengah tahun yang lalu, cartridge-nya waktu itu benar-benar tidak mengeluarkan tinta. Stress!!! Karena tiap minggu saya harus menggunakan printer untuk menunjang kegiatan saya, tiap minggu pula harus stress dan akhirnya selalu ke warnet! Jadi sayapun browsing tentang masalah printer ini, ada yang katanya printernya perlu direset, sampai informasi kalau setiap cartridge zaman sekarang sudah dipasang counter. Jadi maksudnya cartridge yang dipasang counter itu akan menghitung setiap pemakaiannya, dan jika sampai pada batas yang sudah ditentukan oleh pabrik maka cartridge akan rusak dengan sendirinya. Begitu katanya. Mereset yang saya maksud tadi kalau untuk printer HP yaitu dengan cara melepas colokan listriknya, lalu menekan tombol On dan tombol Resume secara bersamaan dan ditahan dan pasang kembali colokan listriknya. Lampunya akan berkedip-kedip beberapa kali, biarkan sampai tidak berkedip lagi, lalu lepaskan tombolnya yang ditahan tadi. Nah, dengan begitu katanya printer sudah direset, termasuk counter di cartridge-nya sudah nol lagi. Hasilnya? Nol juga!

Akhirnya saya membeli sebuah printer lagi, dan karena memang sudah jatuh cinta pada printer HP saya jadinya beli merk yang sama namun tipenya berbeda. Tipenya Deskjet 1000 J110a, dan saya bertekad untuk lebih merawatnya. Saya browsing lagi mencari informasi perawatan printer, dan di sinilah titik baliknya: tipe tinta yang digunakan! Ternyata selama ini saya menggunakan tinta yang tidak tepat untuk Deskjet F2180 itu. Ternyata setiap printer menggunakan tipe tinta yang sudah tertentu, mengikuti sifat dari tekhnologi yang dipakai oleh printernya sendiri. Itulah gunanya membaca manual book-nya dan mencari informasi tentang suatu produk di internet, yang selama ini saya abaikan :'(

Akhirnya dengan semangat '45 saya cari tinta yang sesuai dengan merk dan tipe printer di rumah, namun di seluruh toko di kecamatan tempat saya tinggal tidak ada, kecamatan tetangga juga tidak ada. Akhirnya pergi ke kabupaten lain, dan dari semua toko yang dijalani hanya satu yang menjualnya. Itupun tinta tahun 2010 (berarti tidak laku selama 2 tahun hehehe), merknya DataPrint tipe DP 27 untuk hitam dan DP 28 untuk warna. Kebetulan kedua tipe tinta itu cocok untuk cartridge dari kedua printer yang ada di rumah. Tipe yang saya pakai selama ini ternyata tinta untuk printer merk lain, yaitu DP 002 dan DP 005 untuk Canon. Jadi dengan tinta baru itu misinya tentu selain digunakan untuk printer baru juga untuk misi penyelamatan printer lama. Karena sayang sekali memuseumkan printer lama, karena fiturnya lumayan lengkap: printer, scanner dan copier, cuma kurang bluetooth aja biar lebih keren :). Pertama cartridge-nya saya bersihkan dengan cairan alkohol supaya sisa tinta lama habis dicairkan semua (katanya bisa juga direndam dengan air panas). Lalu saya isi dengan tinta yang baru, awalnya sangat susah karena tinta tidak juga bisa dipakai untuk meng-print. Tapi pengharapan dengan tenaga keyakinan tidak sia-sia, akhirnya printer lama bisa dipakai lagi! Terimakasih, Wong Fei Hung… eh!? :)

Jadi tips merawat printer dan cartridge yang mau saya bagikan dari pengalaman ini, yaitu pakailah tinta yang sesuai dengan merk dan tipe printer yang kita punya. Ingat merk dan tipe, karena bisa saja merknya sama tapi tipenya beda, dan tintanya juga beda. Lalu coba cek tipe cartridge-nya, karena cartridge punya tipe tersendiri juga dan ini disesuaikan dengan tinta yang mau kita pakai. Sebagai contoh, printer HP Deskjet F2180 memakai cartridge hitam tipe HP21 dan yang warna HP22, dan HP Deskjet 1000 J110a memakai tipe 802 untuk kedua cartridge-nya (hitam dan warna). Kebetulan ketiga tipe cartridge ini (HP21, HP22 dan 802) memakai tinta yang sama, jadi dengan membeli satu package saja sudah cukup untuk beberapa lama. Oh ya, hati-hati waktu menyuntikkan tinta jangan kebanyakan karena bisa tumpah dan mengotori tangan. Biasanya di setiap kemasan tinta DataPrint ada penjelasan pemakaiannya dan jumlah cc yang disuntikkan juga ada diberitahukan. Dan kalau mengisi tinta warna, harus ekstra hati-hati, jangan sampai tintanya meluber dan masuk ke lubang untuk tinta warna lainnya karena biasanya jarak antara ketiga lubang itu (merah, biru dan kuning) sangat dekat. Kalau sempat masuk dan bercampur, wah bahaya!

Sent from my Nokia phone

1 Des 2012

Apakah ada bedanya?

Ada sebuah lagu dari Ebiet G Ade, liriknya begini "Apakah ada bedanya, hanya diam menunggu dengan memburu bayang-bayang?" Tidak ada bedanya, tokoh imaginasi dalam lagu itu menantikan hal yang sia-sia saja, atau memburu hal yang takkan pernah didapatkannya. Kosong.

Apakah bedanya tanggal kelahiran saya yaitu 30 September dengan tanggal kelahiran Yesus Kristus 25 Desember? Kalau ditanya, saya sungguh tidak keberatan jika anda mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya di tanggal 30 Maret, 30 April, 30 Mei, atau tanggal berapa sajalah (asal jangan 30 Februari!), apalagi jika disertai kado dengan pita di atasnya. Sungguh saya tidak keberatan :). Karena Gereja tidak menyusun suatu kalender khusus untuk merayakan hidup saya, mengikuti alur dan rentetan sejarah saya untuk membangun suatu kepercayaan kepada saya sendiri. Sehingga saya tidak mesti mematuhi tanggal lahir saya sebagai satu waktu di mana harus pada saat itu saya menerima ucapan ataupun kado, lewat dari tanggal itu tidak bisa, sebelumnya juga tidak bisa.

Memang benar, bahwa tanggal 25 Desember merupakan keputusan Gereja pada masa itu yang ingin menyelamatkan iman jemaat. Ketika itu di kerajaan Romawi, walaupun seseorang sudah menerima Kristus sebagai Juruselamatnya namun kepercayaan akan Dewa Matahari masih dihidupi. Kelahiran Dewa Matahari pada tanggal 25 Desember diperingati dengan sangat meriah dan dihidupi oleh orang Kristen masa-masa awal. Ini sangat berbahaya dan bukti bahwa iman orang Kristen di kerajaan Romawi masih belum murni. Karena itu Gereja mengadopsi tanggal tersebut dan mengganti isinya dengan peringatan akan kelahiran Tuhan Yesus. Sehingga apa yang dirayakan tentu Tuhan Yesus bukan dewa matahari, dan Tuhan Yesuslah yang diutamakan di situ, bukan tanggalnya. Jadi jika ada yang mengatakan, "Tuhan Yesuslah yang utama, bukan tanggal lahirNya," dari awal juga sudah demikian. Lalu?

Jadi benar, bukan tanggalnya yang lebih utama, melainkan Kristus sendirilah yang lebih utama. Dan dengan menuruti alur dari kalender gerejawi sebenarnya kita merayakan hidup dan pelayanan Kristus ketika di dunia. Jika kita dengan sabar mengikuti alur kalender gerejawi yang telah disusun itu maka kita bahkan akan menemukan Kristus dalam kehidupan rohani dan jasmani kita. Termasuk jasmani? Ya, karena setiap tanggal dan minggu dalam tahun liturgi gerejawi (kalender gerejawi) mempunyai spiritualitas dan mentalitas tersendiri dan tertentu. Setiap masa di dalamnya menganjurkan sikap hidup tertentu dan merefleksikan kehidupan kristiani yang sebenarnya. Jadi Natal (dan setiap momen dalam kalender gerejawi) yang tepat pada waktunya sesungguhnya menunjukkan bahwa kita patuh dan merayakan seluruh kehidupan Kristus dalam seluruh hidup kita.

Dengan itu kita ingin menjawab juga mereka yang mengatakan "kita memperingati Yesus Kristus yang sudah datang." Jadi perayaan Natal hanya ingin memperingati kedatanganNya (yang pertama), meskipun kata Natal berarti "lahir," bukan "datang." Siapakah orang Kristen yang tidak mendambakan Kristus hadir dalam hidupnya? Siapakah orang Kristen yang tidak merindukan dirinya menjalani hidup bersama-sama dengan Kristus? Salah satu cara yang dapat diajukan yaitu dengan menghidupi dan menghargai kalender gerejawi yang telah ada, sehingga kita tidak kehilangan setiap kesempatan untuk bersama-sama dengan Kristus dalam hidup kita. Seperti diterangkan juga dalam paragraf di atas, kalender gerejawi sebenarnya menghadirkan Dia yang telah datang dan akan segera kembali dalam hidup kita dan hidup Gereja.

Jadi, jikapun dikatakan supaya kita menunggu dengan sabar tanggal lahir Tuhan Yesus (atau masa Natal, 25 Desember – 5 januari), bukan mau mengutamakan tanggalnya, melainkan mau mengutamakan hidup Kristus yang utuh. Bukan dengan semena-mena terhadap tanggalnya demi alasan "Yesus yang lebih utama, bukan tanggalnya." Saya pikir dengan cara itu sebenarnya yang utama bukan Tuhan, melainkan kepentingan kita (atau persekutuan yang akan merayakannya). Untuk suatu kasus, meminjam istilah Sdr. Reinhard Lumbantobing, merayakan Natal di masa Adven merupakan penampakan "roh instanisme." Itu ceritaku, apa ceritamu? Loh, kok jadi ingat mie instan? :)

Jadi seandainya Ebiet G Ade mananyakan dalam nyanyiannya, "Apakah ada bedanya, tanggal lahirku dengan tanggal lahirNya?" Saya akan jawab: "Ada!"

Sent from my Nokia phone

28 Nov 2012

Dia datang kembali dan kita selamat

Kami baru selesai belajar PAK (Pendidikan Agama Kristen). Waktu sedang menutup kelas langit memang sudah agak gelap, angin juga mulai kencang. Setelah kelas ditutup tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, walau kemudian langit kembali terang. Ini "hujan panas," katanya bisa bikin sakit. Adik-adik itu jadi terhalang untuk pulang, dan akhirnya mereka menunggu di dalam gereja kecil kami itu.

Mereka saling bercanda sambil menunggu hujan reda. Tak ada wajah cemas, walau hujan sungguh deras. Barangkali berbeda dengan perasaan orangtua mereka di rumah, yang mungkin sedang berdoa demi keselamatan anak-anaknya.

Aku jadi teringat dengan soundtrack film Cinta Clarita, telenovela itu. "Apalagi yang kurang, kalau kau punya matahari dan udara?" Walau yang sekarang ini hujan, tapi tetap sajalah bersyukur. Karena walaupun kita terhalang untuk melakukan sesuatu karena hujan itu, tapi yang pasti itu menjadi berkat bagi orang lain yang membutuhkannya. Lagipula hujan merupakan satu dari sekian banyak alat kelengkapan demi kebahagiaan manusia yang dianugerahkan oleh Allah. Ya, kan?

Tapi yang sedang berputar di kepala saya bukan tentang hujan atau panas, melainkan perasaan orangtua yang menunggu kepulangan anaknya. Barangkali saya bisa pastikan kalau mereka cemas, apalagi yang pulang dengan sepeda motor. Jalanan licin, sementara itu adalah jalan lintas di mana mobil-mobil angkutan dan truk besar sering lewat. Pastilah, -kalau yang ini bisa dengan pasti saya pastikan- mereka berharap anaknya datang kembali dengan selamat.

Datang kembali dengan selamat. Kalau orangtua yang dinantikan, anak pasti berharap mereka datang kembali dengan selamat. Datang kembali dengan selamat, bagi orang-orang yang kita kasihi dan cintai. Keselamatan mereka adalah harapan dan sukacita kita. Tapi situasinya? Ya, kita sedang menanti berjumpa dan melihat mereka selamat, ada kecemasan, namun setelah berjumpa barulah kita bersukacita. Dan berpengharapan dalam Tuhan itu indah dan melegakan.

Nah, sekarang bagaimana sifatnya penantian akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali? Apa kita berharap supaya Dia datang kembali dengan selamat? Tentu tidak, sebab Dia adalah Juruselamat. Apakah kita mencemaskan Dia, atau kita yang sebaiknya mencemaskan diri kita sendiri demi kedatanganNya?

Ya, kita tidak perlu mencemaskan Dia yang akan datang. Justru kita yang perlu cemas, bilamana Dia datang, tentang bagaimana kita ketika waktunya tiba. Tapi yang pasti, tentang pengharapan dan penantian ini bagi orang percaya bukan "datang kembali dengan selamat," melainkan "datang kembali dan selamat." Tidak ada kecemasan. Dia datang kembali dan kita selamat. Itulah yang kita nantikan. Semoga pengharapan kita hidup dan penantian kita penuh dengan kesetiaan.

Selamat memasuki dan menjalani masa Advent mulai minggu depan.

Mazmur 118:1, "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."

Sent from my Nokia phone

22 Nov 2012

Sumber Kehidupan: no way out!

Suatu malam saya berangkat dari tempat tinggal ke sebuah tempat yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan (+/- 40 km). Saya dapat bangku di belakang, di sebelah kiri. Tidak lama di situ saya langsung tahu kalau knalpot minibus itu bocor, hidung saya sampai perih menghirup asap yang masuk dari bawah itu.

Lalu saya buka jendela di depan saya, sayangnya hanya bisa terbuka selebar 3 cm saja karena ada penghalang di ujung yang satu lagi. Angin dari luar tidak bisa masuk dengan bebas dan hanya mengarah ke tengah, tidak bisa ke belakang. Jadi ketika hidung saya sangat perih karena menghirup asap itu, saya harus memajukan badan saya agar wajah saya mencapai tepat di samping jendela. Dengan begitu saya bisa menghirup udara yang jauh lebih segar, walaupun jalanan juga berabu.

Untuk waktu yang sangat singkat saya terpikir merefleksikan kehidupan ini dengan kejadian tersebut. Bahwa kita harus dekat dengan sumber kehidupan, udara yang lebih segar. Seperti yang dikatakan Ebiet G Ade di sebuah lagunya, "di bumi yang berputar, pasti ada gejolak" (Apakah Ada Bedanya). Di tengah-tengah hiruk pikuk dunia ini tentu ada banyak gesekan dan perselisihan di antara penghuninya. Terkadang kita tidak bisa menghindari tabrakan dengan sesama, bahkan dengan diri sendiri, baik secara pandangan bahkan secara fisik sekalipun. Sehingga kita merasa tidak nyaman, sumpek dan terkadang perih di hati. Mau lari kemana? Gelisah, sambil membayangkan kehidupan yang lebih nyaman. Seandainya kita bisa menyusun setiap bagian dari kehidupan kita yang utuh ini, barangkali kita bisa memilih hal-hal yang baik saja. Lalu menyusunnya untuk membangun diri kita menjadi manusia sesuai kehendak kita sendiri. Pasti amat menyenangkan. Tapi apa mungkin?

Tentu tidak mungkin! Tapi itulah masalah kehidupan, bahan bakar untuk manusia mau berpikir dengan lebih berkualitas. Demikianlah indahnya sebuah sajak dari WS Rendra Sajak Sebatang Lisong "apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan." Dan memang kita harus masuk ke dalam masalah kehidupan itu sendiri dan menghadapinya, no way out.

Secara iman juga kita meyakini bahwa penderitaan dimulai sejak manusia tidak menaati Allah, dalam Perjanjian Lama (Kej. 3). Kristus juga berpesan agar kita memikul salib, dalam Perjanjian Baru (Mat. 10:38; 16:24 dyb)No way out. Dan kita dituntut untuk setia dalam hal ini. Tapi apakah setia saja cukup? Bukankah kelima gadis yang bodoh juga setia (Mat. 25:3 ff)? Setia menanti dan menyambut kedatangan Sang Mempelai Pria? Lalu kenapa mereka akhirnya "tinggal?" Tentu saja karena mereka tidak membawa persediaan cadangan minyak untuk pelita mereka. Kurang bersiap.

Ya, persiapan tidak dapat dipisahkan dari kesetiaan menjalani rentetan kehidupan yang akan kita hadapi hari demi hari ke depan. Bersiap-siaplah kita, sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi bahkan sedetik setelah kita membaca tulisan ini. Bersiap menghadapi kejutan-kejutan kehidupan. Namun jika kita sampai pada tahap tertentu maka kita akan mampu menikmati setiap kejutan yang datangnya selalu tiba-tiba. Tentu saja tiba-tiba, jika tidak tiba-tiba tentu kita tidak akan terkejut... :)

Capek? Penat? Perih? Tentulah. Tapi kita bisa kok menyejukkan hati dan menyegarkan jiwa kita. Bagaimana? Ya seperti yang saya alami di bus itu, dengan mendekatkan diri kepada Sumber Kehidupan, menghirup udara yang lembut dari Firman yang murni. Membangun kembali kehidupan kita dan menatanya sesuai kehendak Sang Pencipta. Lalu kita akan dipersiapkan-Nya untuk memasuki lagi kehidupan dengan tetap memandang pada rencana indah Allah Bapa yang mengasihi kita.

Mazmur 23:2-3, "Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya."

nb.: salam rindu buat Ermon Asido Siahaan, pemilik "menjalani prosesnya itu yang nikmat, bro!"