Seorang pengusaha industri mendirikan sebuah pabrik kertas yang besar. Dan setelah siap, diresmikan dan berjalan dengan lancar, disuruhnya ditulis dengan huruf besar pada pintu gerbang kompleks perusahaan tersebut: RELINQUENDA (Aku akan meninggalkannya).
Ia telah bersusah payah mengumpulkan modal, merencanakannya. Ia telah dikagumi kawan-kawannya karena inisiatifnya yang matang dan kegiatannya yang luar biasa. Masyarakatpun memuja-mujanya. Ia mempunyai keyakinan, bahwa keuntungan besar akan diperolehnya..... Tetapi ia insyaf pula, bahwa pada suatu ketika ia akan pergi menghadap Tuhannya. Segala-galanya akan dan harus ditinggalkan.
Betapa dalam dan indah pendirian pemilik perusahaan ini. Di tengah-tengah sukses yang sedang dicapai, di tengah-tengah hidup yang berlimpah-limpah, ia sadar, bahwa kesemuanya adalah bersifat "sementara." Tak ada yang kekal. Sebagaimana bunyi nyanyian yang sangat terkenal: Niets is hier blijvends, Niets is hier blijvends (Tak ada yang kekal, Tak ada yang kekal)...... Relinquenda.........Relinquenda!
Walaupun demikian jalan pikirannya, tak berkurang terimakasihnya/pujiannya kepada Tuhan, Pengasih dan Penyayang. Sebab Tuhan sajalah sumber dari segala berkat.
Betapa banyak orang yang terikat pada dunia ini, seakan-akan tak dapat berpisah dan tak dapat meninggalkan harta, kuasa dll. Tetapi, namun ia harus berpisah; kekasih dan harta akan ditinggalkan!
Orang-orang kaya dan berkuasa! Tuliskanlah "Relinquenda" di atas "kas-besi"mu dan pada tanda pangkatmu. Orang-orang terpelajar/sarjana-sarjana! Tuliskanlah "Relinquenda" di atas buku-bukumu/ijazah-ijazahmu!
Bapak-bapak dan ibu-ibu! Tuliskanlah "Relinquenda" pada dahi anak-anakmu! Pemudi-pemudi, tuliskanlah pada meja perhiasanmu! Pemuda-pemuda, tuliskanlah pada barang-barang kesayanganmu!
Marilah kita menuliskannya di atas segala yang kita kasihi dan sayangi! Dengan demikian dapatlah kita menerima peringatan ini dari Tangan Tuhan penuh dengan terimakasih. Sebab Tuhan telah berfirman: "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." (I Petrus 1:24-25a). Renungkanlah!
Hanya Firman Tuhan yang kekal selama-lamanya. Percayalah! Walaupun kita harus berpisah dan meninggalkan semuanya, namun hati kita akan tetap terhibur.
Relinquenda........ Relinquenda! Benar itu! Tetapi Tuhan yang kekal adanya berjanji: aku ini beserta dengan kamu senantiasa hingga kepada kesudahan alam! Semoga anda mendapat hiburan olehnya.
(Sibarani, A.N. Parda., Renungan, Pematangsiantar: YPI Anugerah, 1982, hlm. 19-20)
Sent from my Nokia phone
15 Apr 2013
7 Mar 2013
Keterangan Logo Tahun Anak-anak HKBP 2013
Tahun 2013 merupakan Tahun Anak-anak bagi HKBP. Program
ini merupakan buah dari keterkejutan dan kesedihan mendalam atas peristiwa
tragis yang menimpa anak-anak Sekolah Minggu di HKBP Simanosor Ress. Simanosor –
Dist. IX Sibolga. Peristiwa itu terjadi pada hari Minggu, 4 November 2012
silam, dan Ephorus HKBP langsung menetapkan tanggal itu menjadi Hari Anak HKBP.
Sebagai perlengkapan program Tahun Anak-anak ini
HKBP merancang program yang akan menjadi penuntun setiap kegiatan untuk
mencapai tujuan dari sub-thema: HKBP memperlengkapi anak-anak untuk ambil
bagian menjadi berkat bagi dunia. Program itu diterbitkan dalam Buku Panduan
Tahun Anak-anak HKBP 2013 dan dilengkapi juga dengan logo dan keterangannya
serta teks koor Mars Anak HKBP yang bisa diunduh di website hkbp.or.id atau disini.
Untuk beberapa saat saya berpikir, bagaimana HKBP
memperlengkapi anak-anak untuk menjadi BERKAT BAGI DUNIA. Ini sebuah misi yang
awalnya saya sangsikan. Namun setelah membaca buku panduan tersebut, akhirnya
saya mengerti bahwa menjadi BERKAT BAGI DUNIA bukanlah melulu sesuatu yang “wah”
atau “wow.” Terutama bila dikenakan kepada anak-anak, yang kita tahu, belumlah
punya andil besar dalam dinamika perkembangan zaman ini. Namun, melindungi
sepenuh hati dan tulus dan mendidik anak-anak serta menuntunnya dalam kesucian
Firman Tuhan merupakan upaya yang utama untuk menjadikannya menjadi berkat bagi
dunia. Membiarkan mereka berjalan dalam terang Firman yang kita ajarkan dan
teladankan akan menjadikannya pengikut Kristus yang baik. Pengikut Kristus yang
baik adalah berkat bagi dunia ini.
Nah, itu secuil pendapat saya secara sekilas. Utamanya
saya mau membagikan keterangan dari logo Tahun Anak-anak HKBP (bukan Anak
Sekolah Minggu saja, melainkan seluruh anak-anak). Ini saya ketik dari Buku Panduan
Tahun Anak-anak HKBP 2013 yang dibagikan kemarin hari Senin, 4 Maret 2013 di
Sermon Distrik I Tabagsel – Sumbar yang diadakan di HKBP Gunung Tua Ress. Sipirok.
Catatan:
teks lagu yang ada di Buku Panduan tidak tercetak dengan baik sehingga lebih
baik kita mengunduh langsung dari hkbp.or.id atau di sini.
Keterangan Logo
1. Salib
Salib berwarna kuning,
melambangkan kemuliaan Kristus yang menaungi seluruh dunia dalam karya
keselamatan universal bagi seluruh ciptaan. Salib ini mengingatkan kita,
tentang perkataan Tuhan Yesus: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah
menghalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti
itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 19:14).
2. Siluet
anak-anak
Siluet anak laki-laki
dan perempuan, berwarna putih menggambarkan seluruh anak-anak HKBP. Mereka sujud
berdoa di hadapan salib Yesus Kristus. Menggambarkan anak-anak HKBP yang bersih
serta senantiasa dibimbing kesucian Firman Tuhan dalam kasih Kristus.
Siluet anak-anak dalam
bola dunia, menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya menjadi obyek pelayanan,
tetapi mereka juga adalah subyek (pelaku) pelayanan yang turut mengambil bagian
dalam kehidupan di dunia ini.
Gambar ini turut
mengingatkan tugas dan tanggungjawab orangtua dan gereja, dalam pendidikan dan
pembinaan iman anak-anak HKBP. Anak-anak HKBP adalah masa depan gereja dan harus
mendapat perhatian yang baik sebagaimana tercakup dalam Rencana Induk
Pengembangan Pelayanan (RIPP) HKBP.
3. Bola
dunia
Bola dunia, menunjukkan
misi pelayanan yang global dalam berbagai situasi dan kondisi perkembangan
zaman, dalam berragam kemajuan maupun tantangan yang membawa dampak tersendiri.
Anak-anak HKBP berada dalam situasi tersebut dan harus diperhatikan secara
menyeluruh, tidak hanya di Indonesia, tetapi di berbagai belahan dunia.
4. Daun
Daun berwarna hijau
melambangkan pertumbuhan anak-anak sebagai tunas muda gereja. HKBP harus
berperan aktif dalam masa pertumbuhan anak-anak sebagai masa depan gereja. Jumlah
daun sebanyak 28 helai, melambangkan pertumbuhan yang harus berjalan seirama di
28 Distrik HKBP yang ada pada 2013 ini. Helai daun ini mengapit bola dunia yang
menggambarkan proyeksi pertumbuhan anak-anak HKBP di seluruh dunia, dengan
pertumbuhan yang baik maka mereka akan menjadi berkat bagi dunia.
5. Pita
dan tulisan
Pita berwarna kuning
bertuliskan TAHUN ANAK-ANAK HKBP 2013 berwarna biru. Menunjukkan pelaksanaan
tahun anak-anak HKBP pada 2013 yang didasari dengan perhatian tulus demi masa
depan anak-anak HKBP yang gemilang dalam lingkup kasih kemuliaan Tuhan. Perhatian
terhadap anak-anak HKBP adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam RIPP HKBP.
23 Feb 2013
Melacak Jejak Batak di Jakarta
lagi baca-baca di Kompas.com dapat berita ini, cukup memotivasi tentang survival dan persaudaraan. sumber beritanya klik di sini.
Minggu, 3 Februari 2013 | 09:13 WIB
Demi kehormatan dan kesuksesan, orang Batak lalu mengembara. Di perantauan, mereka membuat jejak berupa perkampungan Batak, gereja, dan deretan ”lapo” atau kedai Batak.
Lapo-lapo itu berderet memanjang. Aneka menu khas Batak tertulis jelas di papan nama lapo, mulai dari ikan mas arsik, sambal teri, hingga saksang, dan panggang. Terselip di antara deretan lapo, warung mi siantar dan pedagang pisang barangan khas Medan.
Itulah sejumput suasana Sumatera Utara yang hadir di sepanjang Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur. ”Datanglah hari Minggu, sepanjang jalan ini penuh mobil. Orang yang baru pulang dari gereja mampir makan. Wuih, penuh asap dan harum panggangan,” ujar G Marpaung (70), yang tinggal di daerah itu.
Di belakang deretan lapo-lapo itu, suasana Tanah Batak lebih kental lagi. Di sana ada perkampungan orang Batak yang disebut Kampung Mayasari (karena di situ pernah ada pul bus Mayasari Bhakti). Penghuninya adalah orang Batak Toba, Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, dan Angkola.
Tidak mengherankan, lagu-lagu pop Batak senantiasa terdengar dari kampung itu. Gereja Batak bertebaran di sejumlah sudut. Saking banyaknya gereja, baru 200-an meter melangkah sudah tiga gereja terlewati.
”Warga RW 008 di sini 99,9 persen orang Batak,” kata Marpaung, yang tinggal di kampung itu sejak tahun 1969.
Kampung Mayasari merupakan salah satu jejak diaspora orang Batak di Jakarta. Di luar itu, ada kantong-kantong permukiman orang Batak lainnya di Jakarta dan sekitarnya, yakni di Pulo Mas, Kernolong, Peninggaran, Pramuka, Senen, Taman Mini Indonesia Indah, hingga Tambun (Bekasi).
”Mulanya hanya satu keluarga, nanti bertambah. Kalau sudah ada rumah makan Batak, berarti sudah banyak orang Batak di situ,” kata B Ginting (50), yang pernah tinggal di Kampung Mayasari.
Lapo dan terminal
Martogi Sitohang (42), seniman Batak, secara berseloroh menambahkan, cukup satu orang Batak tinggal di satu tempat. ”Nanti dia akan mencari saudaranya atau dicari keluarganya. Kalau sudah bertemu, mereka berkumpul,” katanya.
Mereka tidak perlu takut tercecer di perantauan. Datang saja ke gereja, lapo, dan terminal pasti bertemu dengan saudara. ”Cukup memberi salam, menyebutkan marga, kampung, dan nomor urut silsilah. Contohnya nih, Sihombing nomor 15, setelah dicocok-cocokkan masih saudara, pintu rumah Sihombing pun pasti terbuka,” kata Martogi.
Makna kekerabatan buat orang Batak itu memang sangat luas. Kekerabatan tidak hanya tercipta karena pertalian darah, tetapi juga karena pertalian marga dan perkawinan. Martogi mengenang ketika pertama kali merantau ke Jakarta ia mencari saudara di gereja dan lapo. Saudara yang ditemukan di perantauan itulah yang membantunya mendapatkan pekerjaan. Setelah itu, ia memberikan kabar ke kampung bahwa ia telah bertemu tulang-nya (paman).
Jika si perantau berhasil, biasanya saudara atau teman sekampung akan datang menyusul. Dan, si perantau yang sukses wajib membantu. Itu sebabnya, orang Batak di perantauan terbiasa menampung pendatang Batak di rumahnya. ”Saudara saya dan istri begitu datang ke Jakarta semua tinggal dulu di rumah saya. Setelah mereka mapan, mereka bisa membangun rumah sendiri di tempat lain,” ujar G Marpaung.
Ke Jakarta
Dengan cara itu, orang Batak di perantauan cepat berkembang. Lance Castle dalam The Ethnic Profile of Djakarta menyebutkan, orang Batak pertama kali merantau ke Jakarta tahun 1907. Jejak perantau pertama di Jakarta berupa kebaktian berbahasa Batak pada 20 September 1919. Mereka lalu membangun Gereja HKBP Kernolong Resort Jakarta yang tercatat sebagai gereja Batak tertua di Jakarta.
Hingga kini, gereja di Gang Kernolong, Jakarta Pusat, itu masih digunakan jemaat Batak. Praeses HKBP Distrik DKI Jakarta Pendeta Colan WZ Pakpahan mengatakan, gereja-gereja HKBP lain di Jakarta dapat dikatakan pemekaran dari Kernolong. ”Dulu, banyak sekali orang Batak tinggal di Kernolong. Sekarang, sebagian pindah ke daerah lain di Jakarta,” ujarnya.
Tahun 1930, ada sekitar 1.300 orang Batak di Jakarta. Tahun 1963, jumlahnya berlipat menjadi 22.000 orang. Hasil sensus Badan Pusat Statistik tahun 2010 mencatat, jumlah orang Batak di Jakarta mencapai 326.332 orang. Kalau ditambah orang Batak di Bogor, Tangerang, dan Bekasi jumlahnya mencengangkan.
Menurut Castle, etnis Batak termasuk kaum perantau terbesar di Indonesia. Tahun 1930, sebanyak 15,3 persen orang Batak tinggal di luar kampung halamannya. Migrasi besar-besaran terutama terjadi setelah revolusi tahun 1945-1949. Mereka menangkap peluang pendidikan dan kehidupan modern. Awalnya, mereka merantau di daerah pesisir Sumatera. Selanjutnya, mereka menargetkan Jakarta.
Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Medan Bungaran Antonius Simanjuntak menengarai, migrasi orang Batak keluar kampungnya didorong pandangan hagabeon (sukses berketurunan), hasangapon(kehormatan), dan hamoraon (kekayaan). Nah, Jakarta dipandang menjanjikan itu semua.
”Begitu orang Batak sukses pulang kampung, cepat-cepatlah anak muda di kampung ikut merantau atau orangtua mengirim anaknya bersekolah supaya bisa jadi seperti orang itu. Satu sukses jadi pengacara, banyak yang ingin jadi pengacara,” katanya.
Budayawan Batak Togarma Naibaho (57) mengatakan, orang Batak umumnya memang merantau untuk sekolah dan bekerja. Pendidikan anak menjadi ukuran keberhasilan orangtua. Kasarnya, orangtua Batak rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, mulai dari jual kerbau sampai kebun. Tidak heran jika pendidikan orang Batak rata-rata tinggi. ”Tahun 1970-an, pendidikan perantau Batak di Jakarta rata-rata sudah SMA,” ujar Togarma.
Sesuai dengan ucapan Togarma, Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumatra menuliskan, orang Batak Toba, Mandailing, dan Karo termasuk orang Indonesia berpendidikan terbaik pada abad ke-19, selain Minangkabau, Minahasa, dan Toraja.
Dengan pendidikan tinggi, orang Batak bisa masuk ke berbagai posisi. Presiden Soekarno, misalnya, banyak melibatkan orang Batak dalam pembangunan. Salah seorang di antaranya adalah Friedrich Silaban, arsitek Masjid Istiqlal. Di zaman Gubernur Ali Sadikin, orang Batak dipercaya menjadi pimpinan di pos-pos pemerintahan. Belakangan, Ali Sadikin merekrut banyak sopir taksi, bus PPD, dan guru dari Tanah Batak.
Dan... berkumpullah orang Batak di Jakarta! (Indira Permanasari dan Budi Suwarna)
Lapo-lapo itu berderet memanjang. Aneka menu khas Batak tertulis jelas di papan nama lapo, mulai dari ikan mas arsik, sambal teri, hingga saksang, dan panggang. Terselip di antara deretan lapo, warung mi siantar dan pedagang pisang barangan khas Medan.
Itulah sejumput suasana Sumatera Utara yang hadir di sepanjang Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur. ”Datanglah hari Minggu, sepanjang jalan ini penuh mobil. Orang yang baru pulang dari gereja mampir makan. Wuih, penuh asap dan harum panggangan,” ujar G Marpaung (70), yang tinggal di daerah itu.
Di belakang deretan lapo-lapo itu, suasana Tanah Batak lebih kental lagi. Di sana ada perkampungan orang Batak yang disebut Kampung Mayasari (karena di situ pernah ada pul bus Mayasari Bhakti). Penghuninya adalah orang Batak Toba, Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, dan Angkola.
Tidak mengherankan, lagu-lagu pop Batak senantiasa terdengar dari kampung itu. Gereja Batak bertebaran di sejumlah sudut. Saking banyaknya gereja, baru 200-an meter melangkah sudah tiga gereja terlewati.
”Warga RW 008 di sini 99,9 persen orang Batak,” kata Marpaung, yang tinggal di kampung itu sejak tahun 1969.
Kampung Mayasari merupakan salah satu jejak diaspora orang Batak di Jakarta. Di luar itu, ada kantong-kantong permukiman orang Batak lainnya di Jakarta dan sekitarnya, yakni di Pulo Mas, Kernolong, Peninggaran, Pramuka, Senen, Taman Mini Indonesia Indah, hingga Tambun (Bekasi).
”Mulanya hanya satu keluarga, nanti bertambah. Kalau sudah ada rumah makan Batak, berarti sudah banyak orang Batak di situ,” kata B Ginting (50), yang pernah tinggal di Kampung Mayasari.
Lapo dan terminal
Martogi Sitohang (42), seniman Batak, secara berseloroh menambahkan, cukup satu orang Batak tinggal di satu tempat. ”Nanti dia akan mencari saudaranya atau dicari keluarganya. Kalau sudah bertemu, mereka berkumpul,” katanya.
Mereka tidak perlu takut tercecer di perantauan. Datang saja ke gereja, lapo, dan terminal pasti bertemu dengan saudara. ”Cukup memberi salam, menyebutkan marga, kampung, dan nomor urut silsilah. Contohnya nih, Sihombing nomor 15, setelah dicocok-cocokkan masih saudara, pintu rumah Sihombing pun pasti terbuka,” kata Martogi.
Makna kekerabatan buat orang Batak itu memang sangat luas. Kekerabatan tidak hanya tercipta karena pertalian darah, tetapi juga karena pertalian marga dan perkawinan. Martogi mengenang ketika pertama kali merantau ke Jakarta ia mencari saudara di gereja dan lapo. Saudara yang ditemukan di perantauan itulah yang membantunya mendapatkan pekerjaan. Setelah itu, ia memberikan kabar ke kampung bahwa ia telah bertemu tulang-nya (paman).
Jika si perantau berhasil, biasanya saudara atau teman sekampung akan datang menyusul. Dan, si perantau yang sukses wajib membantu. Itu sebabnya, orang Batak di perantauan terbiasa menampung pendatang Batak di rumahnya. ”Saudara saya dan istri begitu datang ke Jakarta semua tinggal dulu di rumah saya. Setelah mereka mapan, mereka bisa membangun rumah sendiri di tempat lain,” ujar G Marpaung.
Ke Jakarta
Dengan cara itu, orang Batak di perantauan cepat berkembang. Lance Castle dalam The Ethnic Profile of Djakarta menyebutkan, orang Batak pertama kali merantau ke Jakarta tahun 1907. Jejak perantau pertama di Jakarta berupa kebaktian berbahasa Batak pada 20 September 1919. Mereka lalu membangun Gereja HKBP Kernolong Resort Jakarta yang tercatat sebagai gereja Batak tertua di Jakarta.
Hingga kini, gereja di Gang Kernolong, Jakarta Pusat, itu masih digunakan jemaat Batak. Praeses HKBP Distrik DKI Jakarta Pendeta Colan WZ Pakpahan mengatakan, gereja-gereja HKBP lain di Jakarta dapat dikatakan pemekaran dari Kernolong. ”Dulu, banyak sekali orang Batak tinggal di Kernolong. Sekarang, sebagian pindah ke daerah lain di Jakarta,” ujarnya.
Tahun 1930, ada sekitar 1.300 orang Batak di Jakarta. Tahun 1963, jumlahnya berlipat menjadi 22.000 orang. Hasil sensus Badan Pusat Statistik tahun 2010 mencatat, jumlah orang Batak di Jakarta mencapai 326.332 orang. Kalau ditambah orang Batak di Bogor, Tangerang, dan Bekasi jumlahnya mencengangkan.
Menurut Castle, etnis Batak termasuk kaum perantau terbesar di Indonesia. Tahun 1930, sebanyak 15,3 persen orang Batak tinggal di luar kampung halamannya. Migrasi besar-besaran terutama terjadi setelah revolusi tahun 1945-1949. Mereka menangkap peluang pendidikan dan kehidupan modern. Awalnya, mereka merantau di daerah pesisir Sumatera. Selanjutnya, mereka menargetkan Jakarta.
Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Medan Bungaran Antonius Simanjuntak menengarai, migrasi orang Batak keluar kampungnya didorong pandangan hagabeon (sukses berketurunan), hasangapon(kehormatan), dan hamoraon (kekayaan). Nah, Jakarta dipandang menjanjikan itu semua.
”Begitu orang Batak sukses pulang kampung, cepat-cepatlah anak muda di kampung ikut merantau atau orangtua mengirim anaknya bersekolah supaya bisa jadi seperti orang itu. Satu sukses jadi pengacara, banyak yang ingin jadi pengacara,” katanya.
Budayawan Batak Togarma Naibaho (57) mengatakan, orang Batak umumnya memang merantau untuk sekolah dan bekerja. Pendidikan anak menjadi ukuran keberhasilan orangtua. Kasarnya, orangtua Batak rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, mulai dari jual kerbau sampai kebun. Tidak heran jika pendidikan orang Batak rata-rata tinggi. ”Tahun 1970-an, pendidikan perantau Batak di Jakarta rata-rata sudah SMA,” ujar Togarma.
Sesuai dengan ucapan Togarma, Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumatra menuliskan, orang Batak Toba, Mandailing, dan Karo termasuk orang Indonesia berpendidikan terbaik pada abad ke-19, selain Minangkabau, Minahasa, dan Toraja.
Dengan pendidikan tinggi, orang Batak bisa masuk ke berbagai posisi. Presiden Soekarno, misalnya, banyak melibatkan orang Batak dalam pembangunan. Salah seorang di antaranya adalah Friedrich Silaban, arsitek Masjid Istiqlal. Di zaman Gubernur Ali Sadikin, orang Batak dipercaya menjadi pimpinan di pos-pos pemerintahan. Belakangan, Ali Sadikin merekrut banyak sopir taksi, bus PPD, dan guru dari Tanah Batak.
Dan... berkumpullah orang Batak di Jakarta! (Indira Permanasari dan Budi Suwarna)
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Egidius Patnistik
22 Feb 2013
Lilitkanlah Pita Kuning Pada Sebatang Pohon Ek Tua
Dulu aku pernah membaca kisah di bawah ini, lalu
menemukannya kembali dalam sebuah buku. Dengan senang hati aku menuliskannya
untuk kita, kisah kasih pengampunan ini, serta link lagu di akhir cerita.
Sebuah surat kabar New York City mengisahkan cerita tentang sekelompok anak muda yang
sedang bepergian dengan bus dalam suatu tamasya ke Florida. Dalam perjalanan,
mereka melihat seorang pria berkulit hitam kelam, berumur setengah tua,
mengenakan pakaian lusuh, dan tampak agak cemas duduk membungkuk di kursinya,
dengan kepala menunduk.
Ketika bus itu berhenti di sebuah rumah makan di
pinggir jalan raya, setiap orang keluar kecuali Vingo, demikian anak-anak muda
itu menyapanya. Anak-anak muda itu ingin tahu tentang dia: dari mana ia datang
dan ke mana ia pergi? Akhirnya, salah seorang anak gadis duduk di sampingnya
dan berkata, “Pak, kita sedang menuju Florida, maukah engkau minum Coke?”
Ia meneguk sedikit dan berkata, “Terimakasih.” Sesaat
kemudian ia mengisahkan riwayatnya.
Ia telah berlaku tidak baik terhadap keluarganya. Suami
yang kasar, ayah yang pemarah, dan jarang pulang ke rumah. Ia melakukan banyak
kejahatan hingga disekap dalam penjara New York selama tiga tahun. “Sementara
saya tidak berada di rumah, saya menulis surat kepada istri saya jika ia tidak
sanggup untuk menunggu, ia boleh melupakan saya. Saya mengatakan kepadanya tidak
perlu bersusah payah menulis; dan ia tidak pernah menyurat.” Kemudian pria itu
menambahkan, “Ia seorang wanita yang mengagumkan, sungguh baik, sungguh luar
biasa.”
“Dan sekarang engkau sedang dalam perjalanan kembali
ke rumah dan tidak tahu apa yang diharapkan, tidakkah demikian?” tanya gadis
itu.
“Ya,” jawabnya, “engkau bayangkan, minggu lalu
ketika pembebasan tiba, saya menyuratinya sekali lagi. Saya mengatakan
kepadanya bahwa saya akan datang dengan bus ini. Engkau akan lihat saat kita
memasuki Jacksonville, tempat kami tinggal, dan di sana ada sebatang pohon ek
besar. Saya mengatakan kepadanya seandainya ia menerima saya kembali, ia dapat
mengikat sebuah pita kuning pada pohon itu dan saya akan turun dari bus dan
kembali ke rumah. Jika ia tidak menghendaki saya lagi, lupakan saja dan saya
tetap di dalam bus. Tidak ada pita berarti saya akan melanjutkan perjalanan.”
Gadis itu menceritakan kepada rekan-rekannya yang
lain dan mereka segera ikut membantunya memperhatikan pohon ek itu. Mereka memandang
potret istri dan anak-anak Vingo dan mereka semua bertambah cemas dan gelisah
ketika mendekati Jacksonville.
Terasa sekali suatu keheningan dalam bus itu. Wajah Vingo
tegang. Ia hanya duduk terpaku, menatap pohon ek yang sebentar lagi akan
menentukan nasibnya. Kemudian sekonyong-konyong semua anak muda itu bangkit
dari tempat duduknya, menjerit dan berteriak, memekik dan menari, kecuali Vingo.
Ternyata, pohon itu telah ditutupi pita-pita kuning, sangat banyak jumlahnya. Pohon
ek itu telah berubah menjadi umbul-umbul ucapan selamat datang. Ketika anak-anak
muda itu berteriak, Vingo bangkit dari duduknya, melangkah ke bagian depan bus,
melemparkan senyum kepada para sahabat mudanya itu lewat banjir air mata, lalu
turun.
Jika suatu saat anda mendengar seseorang menyanyikan
lagu “Tie a Yellow Ribbon Round the Old Oak Tree,” ingatlah kisah ini.
21 Feb 2013
Perkawinan dan Selibat
Dahulu kala, lebih dari 1700 tahun silam, seorang pemuda
memutuskan untuk menjadi orang kudus. Ia meninggalkan rumahnya, keluarganya,
dan segala harta miliknya. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada sanak keluarga
dan teman-temannya, menjual segala miliknya dan memberikan uang itu kepada orang-orang miskin, dan menuju padang gurun untuk menemukan Allah.
Ia menyusuri hamparan padang gurun hingga menemukan sebuah gua
yang gelap. “Di sini,” pikirnya, “saya akan menyendiri bersama Allah. Di sini
tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan saya dari Allah.”
Ia berdoa siang dan malam dalam gua yang gelap itu. Tetapi Allah
mengiriminya godaan-godaan besar. Ia membayangkan semua hal-hal yang bagus
dalam hidup dan ia benar-benar menginginkannya. Bagaimanapun, ia telah bertekad
untuk melepaskan segala sesuatu agar dapat memiliki Allah, sebagai satu-satunya.
St. Antonius dari Mesir berada dalam damai dan yang dimilikinya hanyalah Allah.
Tetapi kemudian, menurut legenda, Allah berkata, “Tinggalkanlah
guamu untuk beberapa hari dan pergilah ke sebuah kota yang jauh letaknya. Carilah
tukang sepatu di kota itu. Ketuklah pintunya dan tinggallah bersama dia
beberapa saat.”
Petapa suci itu merasa bingung oleh perintah Allah ini. Tetapi pada
pagi berikutnya, ia berangkat. Ia berjalan sehari penuh melintasi padang pasir.
Ketika hari mulai malam, ia tiba di kota itu mendapati rumah tukang sepatu dan
mengetuk pintunya. Seorang pria penuh senyum membukanya.
“Engkaukah tukang sepatu kota ini?” tanya petapa itu.
“Benar,” jawab tukang sepatu. Ia memperhatikan betapa lelah dan
lapar tampaknya sang petapa. “Masuklah,” katanya. “Anda membutuhkan sesuatu
untuk dimakan dan tempat untuk beristirahat.”
Tukang sepatu itu memanggil istrinya. Mereka menyediakannya
hidangan yang lezat dan tempat tidur yang nyaman.
Petapa itu tinggal bersama keluarga tukang sepatu selama tiga hari
tiga malam. Petapa mengajukan banyak pertanyaan tentang kehidupan mereka. Tetapi
ia tidak mengungkapkan banyak hal tentang dirinya, walaupun demikian pasangan
itu sangat ingin tahu tentang kehidupannya di padang gurun. Mereka banyak
bercerita tentang dan menjadi teman akrab.
Kemudian sang petapa berpamit kepada tukang sepatu dan istrinya. Ia
berjalan kembali ke gua sambil bertanya-tanya dalam hati mengapa Allah
menyuruhnya mengunjungi tukang sepatu.
“Bagaimana sikap tukang sepatu itu?” Allah bertanya kepadanya
setelah ia kembali di dalam gua yang gelap.
“Ia seorang pria yang sederhana,” tuturnya. “Ia mempunyai seorang
istri yang akan segera melahirkan seorang anak lagi. Mereka tampaknya sangat
mencintai satu sama lain. Ia mempunyai sebuah perusahaan kecil tempat ia
membuat sepatu-sepatunya. Ia bekerja keras. Mereka mempunyai sebuah rumah yang
sederhana. Mereka memberi uang dan makanan kepada orang-orang yang nasibnya
kurang beruntung daripada mereka. Ia dan istrinya beriman teguh kepadaMu dan
mereka berdoa sekurang-kurangnya sekali sehari. Mereka mempunyai banyak sahabat.
Dan tukang sepatu itu gemar mengisahkan cerita jenaka.”
Allah mendengar dengan penuh perhatian. “Engkau seorang saleh yang
sejati, Antonius,” kata Tuhan, “dan tukang sepatu bersama istrinya adalah juga
orang-orang saleh yang sejati.”
- Brian
Cavanaugh -
3 Feb 2013
Tenang dan tenteram mendoakan orang lain
Kamis, 31 Januari 2013
Masuk Minggu Sexagesima
Bahan PA dari 1 Timotius 2 : 1 - 6
Bersediakah kita mendoakan orang yang telah melukai perasaan atau bahkan
mencelakai kita? Jika kita mendengar berita tentang suatu kejahatan atau
kekerasan terjadi pada saudara-saudara seiman kita di tempat lain, barangkali
kita dengan segera mendoakan para pelaku kepada Bapa di sorga. Kita memohon
agar para pelaku dapat segera mengenal kedamaian dalam hatinya. Namun jika kita
mengalami sesuatu yang terjadi secara langsung pada diri kita sendiri, terhadap
perasaan kita, mungkin butuh waktu agar kita bisa mendoakannya. Kita dengan
sukarela mengambil jarak dari kedamaian dengan cara membenci, mengingat-ingat
kesalahan orang lain, atau bahkan memelihara dendam!
*****
Rasul Paulus memberikan Timotius
tugas dalam pelayanannya. Pertama-tama Timotius dinasihatkan untuk berdoa
syafaat: mendoakan semua orang dan mengucap syukur atasnya, termasuk kepada
raja-raja dan pembesar-pembesar. Tujuannya adalah “agar kita dapat hidup tenang
dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” Sebab itulah yang baik dan
berkenan kepada Allah: tenang, tenteram, saleh dan terhormat.
Namun bagaimana mendoakan orang lain (doa syafaat) dapat membuat kita hidup
tenang dan tenteram dalam kesalehan dan kehormatan? Pertama-tama, Paulus
menasihatkan hal ini kepada Timotius untuk menentang ajaran Yahudi dan
Gnostisime yang membatasi keselamatan hanya untuk satu kaum saja. Sementara
kehendak Allah adalah agar semua orang beroleh keselamatan dengan memiliki
pengetahuan akan kebenaran. Semua orang termasuk para raja dan pembesar
didoakan agar mengenal pengetahuan akan kebenaran sehingga kehidupan sosial
dapat berjalan dalam damai dan pemerintahan dapat memelihara damai sejahtera.
Itulah kehendak Allah atas dunia ini.
Karena itu berdoa untuk orang lain sangat penting dan menjadi tugas kita
sebagai satu jalan demi terjadinya kehendak Bapa di dunia ini. Bukankah kita
disuruh untuk membawa kedamaian dan berita kesukaan bagi seluruh umat manusia?
Bukankah kita ingin agar Darah Kristus yang kudus dan berkuasa itu turut juga
menyelamatkan orang-orang lain? Nah, agar kita tidak menjadi “orang buta
menuntun orang buta,” hendaknya kita lebih dahulu memberanikan diri mendoakan
orang lain sehingga kita sampai pada tingkat kehidupan yang memiliki dan
merasakan kedamaian, ketenangan, ketenteraman, kesalehan dan kehormatan itu.
*****
Maka kita haruslah lebih dahulu
hidup di dalamnya. Itu tidak kita dapatkan dari luar, melainkan anugerah yang
indah dari Bapa di sorga ke dalam hati kita yang terdalam. Ketenteraman itu
kita terima ketika kita mampu hidup dalam kasih Kristus yang penuh rahmat. Kita
seharusnya tidak membiarkan kebencian dan dendam serta amarah menghalangi kita
untuk menyentuh rahmat yang sudah tersedia itu.
Membenci atau menaruh dendam kepada orang lain sebenarnya adalah doa dan
harapan agar orang itu tidak beroleh keselamatan: di dunia dan di akhirat. Ini
bukan hal yang dikehendaki oleh Allah, dan kita menantang Yang Mahakuasa jika
kita membenci dan memelihara dendam. Perdamaian membuat hidup kita tenang dan
tenteram, mendorong kesalehan hidup dan memberi kehormatan. Inilah isi dari
damai sejahtera yang menjadi kehendak Allah.
*****
Sekilas
tentang doa
Kita sudah mendengar tentang doa adalah nafas kehidupan orang Kristen, bahkan
sejak kanak-kanak. Sebenarnya apa maksud yang hendak disampaikan perkataan itu?
Nafas, atau dalam bahasa Ibrani vpn nefesy berarti angin, nafas, dan juga
roh. Angin, nafas dan roh memiliki kesamaan dalam cara beradanya: tidak dapat
dilihat namun dapat dirasakan. Karena itu doa adalah roh manusia, sehingga
orang Kristen yang tidak berdoa adalah orang yang tidak bernafas, tidak memiliki
roh: manusia hidup yang sebenarnya mati!
Doa membuat orang hidup, dan sebaliknya tanpa doa orang tidak hidup. Sebab doa
adalah puncak dari bakti dan pujian serta penyampaian harapan kepada Allah
Sumber Kehidupan. Doa merupakan perbuatan tertinggi (bakti) yang dapat
dilakukan oleh roh manusia. Ini merupakan persekutuan dengan Allah selama
penekanannya diberikan kepada prakarsa
ilahi. “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya
dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:24; bnd. Kej. 2:7). Kita percaya bahwa doa
hanya dilakukan oleh roh, sebab “apa yang dilahirkan dari daging, adalah
daging, dan apa yang dilahirkan dari roh, adalah roh” (Yoh. 3:6). Karena itu
doa merupakan kegiatan roh dan ketika kita berdoa kita harus yakin bahwa roh
kita sedang membangun hubungan yang lebih intim dan sangat dekat dengan Allah
yang adalah Roh. Itulah sebabnya Roma 8:26 mengatakan, “Demikian juga Roh
membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya
harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan
keluhan-keluhan yang tak terucapkan.”
Oleh karena itu, doa adalah benar
hidup orang percaya, digambarkan sebagai nafas dan bertindak di dalamnya roh
kita sendiri yang ditolong oleh Roh Allah. Lalu bagaimana jasmani kita bisa
menembus dunia roh itu? Ini ditunjukkan dalam sikap yang diam, hening dan penuh
hormat sebab roh kita sedang “terhubung” dengan Roh Yang Mahakudus. Doa
melibatkan seluruh kegiatan jasmani kita, sebab seluruh gerak-gerik tubuh kita
menunjukkan apa yang sedang terjadi “di dalam” kita. Adalah baik dan benar dan
penuh hormat apabila kita diam dan hening ketika roh kita berbicara kepada Yang
Mahakudus. Begitupun keseluruhan hidup kita adalah
baik dan benar untuk tetap tenang, tenteram, saleh dan terhormat serta penuh
hormat.
25 Jan 2013
Harapan Tak 'Kan Hilang
Kamis, 24 Januari 2013
Masuk Minggu Septuagesima
Bahan PA dari Ratapan 3 : 22 - 26
Si Marnohop merasa bahwa dia tidak dekat dengan Tuhan. Mungkin Tuhan tidak memandangnya sebab dia tidak memiliki minat atau kelebihan apapun dibanding dengan teman-temannya. Dia pernah mendengar gurunya berkata, "Anak-anak yang sangat baik mendapat perhatian dari pihak sekolah, demikian juga dengan anak-anak yang sangat nakal." Dia berpikir Tuhan juga demikian, mungkin anak-anak yang sangat baik berada di hati Tuhan dan anak-anak yang sangat nakal berada di depan mata-Nya. Dia menjalani hari begitu saja, jarang sekali berdoa kecuali di depan keluarga atau teman-temannya. Dia jarang sekali mengadukan persoalannya kepada siapapun, apalagi kepada Tuhan. Si Marnohop hopeless. Mungkin dia anggap dirinya seperti benda-benda yang dipakai manusia yang bila tiba saatnya rusak akan dibuang, untung-untung disimpan jadi barang antik. Hidup untuk mati.
Pada zaman ini mungkin saja semakin banyak manusia yang berpikiran seperti si Marnohop. Apalagi setelah manusia mengenal kata instan. Ya, sekarang adalah zaman instan. Semua orang butuh cepat dan kecepatan. Barangkali secepat menyajikan mie instan. Ketika seseorang memohonkan sesuatu dari Tuhan, tanpa ia sadari ada dorongan keinginan agar Tuhan menjawabnya dengan instan, dengan cepat secepat Google memberi jawaban. Penantian manusia ada batasnya, demikian juga dalam menantikan jawaban Tuhan atas doa dan permohonan. Setelah sekian waktu menantikan maka harapan akan terkikis dan hilang. Lahirlah si Marnohop yang baru.
Pertanyaannya, benarkah Tuhan begitu cuek seperti yang dirasakan si Marnohop? Kita semua tahu dan percaya bahwa Tuhan tidak mungkin cuek, tidak mungkin tidak peduli dengan manusia sebagai ciptaan yang dikasihiNya. Bahkan Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa manusia adalah sahabat Tuhan, yang diciptakan seturut dengan rupaNya sendiri. Tentu saja kita adalah istimewa bagiNya, dan kita lebih baik percaya. Lalu kenapa Tuhan terkesan begitu cuek kepada si Marnohop, yang mana doa dan permohonannya lama sekali bahkan jarang dikabulkan?
Sebenarnya roh zaman telah mempengaruhi pola hubungan manusia dengan Allah. Roh instanisme dan materialisme telah mengubah pandangan manusia kepada benda fana. Ketika seseorang memohonkan sesuatu maka perhatiannya sepenuhnya akan berada pada apa yang dia harapkan bukan kepada Tuhan lagi. Pola telah berubah, harapan-harapan manusia telah menggantikan posisi Tuhan dalam hidupnya. Sebaiknya kita menjadi seperti petani yang setia berdoa dan berharap pada rahmat Tuhan setelah dia menanam benih padinya. Sebab seorang petani tidak punya kuasa apapun untuk menumbuhkan benihnya, selain daripada menanam dan merawatnya (bnd. 1 Kor. 3:6).
Sebaiknya kita percaya, lebih daripada doa dan permohonan kita Tuhan memelihara hidup kita. Setiap pagi kita mendapati kehidupan yang baru, dan setiap kali itu kita tahu bahwa Tuhan setia akan rahmatNya. Setiap pagi kita tahu, bahwa permohonan kita sedang dipertimbangkan untuk menjadi kebaikan yang bukan hanya bagi kita tetapi baik juga bagi orang lain. Sebab Tuhan mengasihi kita secara pribadi namun tidak melepaskannya dari kehidupan sosial kita. Namun walaupun demikian, dengan memelihara permohonan kita Tuhan menjaga kita tetap hidup. Sebab harapan membuat kita tetap hidup jika kita setia di dalamnya: "Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan."
Masuk Minggu Septuagesima
Bahan PA dari Ratapan 3 : 22 - 26
Si Marnohop merasa bahwa dia tidak dekat dengan Tuhan. Mungkin Tuhan tidak memandangnya sebab dia tidak memiliki minat atau kelebihan apapun dibanding dengan teman-temannya. Dia pernah mendengar gurunya berkata, "Anak-anak yang sangat baik mendapat perhatian dari pihak sekolah, demikian juga dengan anak-anak yang sangat nakal." Dia berpikir Tuhan juga demikian, mungkin anak-anak yang sangat baik berada di hati Tuhan dan anak-anak yang sangat nakal berada di depan mata-Nya. Dia menjalani hari begitu saja, jarang sekali berdoa kecuali di depan keluarga atau teman-temannya. Dia jarang sekali mengadukan persoalannya kepada siapapun, apalagi kepada Tuhan. Si Marnohop hopeless. Mungkin dia anggap dirinya seperti benda-benda yang dipakai manusia yang bila tiba saatnya rusak akan dibuang, untung-untung disimpan jadi barang antik. Hidup untuk mati.
Pada zaman ini mungkin saja semakin banyak manusia yang berpikiran seperti si Marnohop. Apalagi setelah manusia mengenal kata instan. Ya, sekarang adalah zaman instan. Semua orang butuh cepat dan kecepatan. Barangkali secepat menyajikan mie instan. Ketika seseorang memohonkan sesuatu dari Tuhan, tanpa ia sadari ada dorongan keinginan agar Tuhan menjawabnya dengan instan, dengan cepat secepat Google memberi jawaban. Penantian manusia ada batasnya, demikian juga dalam menantikan jawaban Tuhan atas doa dan permohonan. Setelah sekian waktu menantikan maka harapan akan terkikis dan hilang. Lahirlah si Marnohop yang baru.
Pertanyaannya, benarkah Tuhan begitu cuek seperti yang dirasakan si Marnohop? Kita semua tahu dan percaya bahwa Tuhan tidak mungkin cuek, tidak mungkin tidak peduli dengan manusia sebagai ciptaan yang dikasihiNya. Bahkan Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa manusia adalah sahabat Tuhan, yang diciptakan seturut dengan rupaNya sendiri. Tentu saja kita adalah istimewa bagiNya, dan kita lebih baik percaya. Lalu kenapa Tuhan terkesan begitu cuek kepada si Marnohop, yang mana doa dan permohonannya lama sekali bahkan jarang dikabulkan?
Sebenarnya roh zaman telah mempengaruhi pola hubungan manusia dengan Allah. Roh instanisme dan materialisme telah mengubah pandangan manusia kepada benda fana. Ketika seseorang memohonkan sesuatu maka perhatiannya sepenuhnya akan berada pada apa yang dia harapkan bukan kepada Tuhan lagi. Pola telah berubah, harapan-harapan manusia telah menggantikan posisi Tuhan dalam hidupnya. Sebaiknya kita menjadi seperti petani yang setia berdoa dan berharap pada rahmat Tuhan setelah dia menanam benih padinya. Sebab seorang petani tidak punya kuasa apapun untuk menumbuhkan benihnya, selain daripada menanam dan merawatnya (bnd. 1 Kor. 3:6).
Sebaiknya kita percaya, lebih daripada doa dan permohonan kita Tuhan memelihara hidup kita. Setiap pagi kita mendapati kehidupan yang baru, dan setiap kali itu kita tahu bahwa Tuhan setia akan rahmatNya. Setiap pagi kita tahu, bahwa permohonan kita sedang dipertimbangkan untuk menjadi kebaikan yang bukan hanya bagi kita tetapi baik juga bagi orang lain. Sebab Tuhan mengasihi kita secara pribadi namun tidak melepaskannya dari kehidupan sosial kita. Namun walaupun demikian, dengan memelihara permohonan kita Tuhan menjaga kita tetap hidup. Sebab harapan membuat kita tetap hidup jika kita setia di dalamnya: "Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan."
Langganan:
Postingan (Atom)
